"Jangan lupa bahwa bumi senang merasakan kaki telanjangmu dan angin rindu bermain dengan rambutmu." - Khalil Gibran.
Masih seperti tur pada pabrik tablet, kami berada pada jalur khusus yang terpisah dengan ruang perawatan. Aku bisa melihat bayi-bayi mungil sesuai kategori usia di tempatkan pada ruang-ruang yang berbeda.
“Sepertinya mereka tidak bisa melihat kita?” tanyaku.
“Dinding ini transparan dari sisi kita, tetapi tertutup dari sisi mereka. Jadi kita tidak mengganggu segala hal yang dilakukan para petugasku yang penuh kasih sayang itu.”
Mataku mengamati wanita-wanita yang sedang mengurus bayi terlihat lemah lembut dan penuh kasih. Aku mengenali salah satu dari mereka. Mary. Aku menyadari tatapan mereka kosong. Mereka seperti sudah diprogram, begitu ada bayi menangis, mereka mendekat. Langkah pertama, memeriksa popok. Kalau basah atau kotor, ganti. Jika aman, sentuh pipi bayi. Jika bayi merespon sentuhan di pipinya, berikan botol s**u. Setelah s**u dihabiskan, peluk bayi dalam posisi berdiri hingga bersendawa. Lalu baringkan kembali.
Bayi-bayi yang lebih besar juga tidak kalah teratur. Mereka merangkak dalam sebuah alur. Berhenti bersama untuk mendapatkan mainan dan bermain beberapa saat. Lalu mainan ditarik oleh mesin, mereka kembali merangkak. Aku melihat seorang bayi menangis saat mainannya ditarik. Bayi itu dikeluarkan dari barisan. Aku hampir bergidik membayangkan apa yang akan terjadi pada bayi itu.
Secara keseluruhan, bayi diatur agar memiliki perkembangan yang sama. Mereka yang tidak lolos, disingkirkan. Masih misteri bagaimana Todd yang begitu pintar bisa tidak lolos seleksi.
“Apakah semua bayi ini normal? Maksudku tingkat kecerdasan dan pertumbuhannya?”
“Tentu saja mereka normal. Kenapa?”
“Bagaimana jika diantara mereka ada yang sangat pintar atau sangat bodoh? Jika ada yang terlambat mencapai kemampuan sesuai usia? Atau jika ada yang sangat kurus atau yang sangat gemuk.”
“Itu bisa dideteksi sejak awal kehidupan mereka dan terus dipantau selama mereka di tempat ini. Dengan berbagai pertimbangan, mereka yang tidak biasa diamankan di tempat lain untuk tugas yang lebih baik.”
Aku menghela nafas. Kupikir sekarang aku tahu mengapa Todd disingkirkan.
Aku tidak ingin melihat lebih jauh apa yang terjadi pada mereka. Lagipula, Erland tidak akan menunjukkan kekejaman pada tamunya. Kami melanjutkan perjalanan.
Kami berhenti cukup lama di area anak-anak usia SD. Mereka semua berkumpul, sedang berlatih beladiri tangan kosong. Nampaknya Erland dengan sengaja mempertontonkan bagian ini, sebagai pameran bagaimana ia mempersiapkan tentara sejak usia mereka sangat dini. Aku yakin, anak-anak yang sudah terlihat unggul di tahap ini, kelak akan menjadi pembesar pula. Aku berusaha tetap tenang melihat ada anak yang saling melukai dengan tinjunya. Salah satu dari mereka akhirnya tumbang dengan mulut berdarah.
“Apa saja yang mereka pelajari setiap hari?”
“Di pagi hari, mereka belajar beladiri. Setiap hari beladiri yang diajarkan berbeda. Dua hari untuk tangan kosong, satu hari untuk senjata tajam, satu hari senjata tumpul, dua hari untuk tembakan, satu lagi untuk latihan kelenturan dan kekuatan tubuh. Pada siang hari, mereka belajar berkomunikasi. Sore hari, mereka mengulang latihan beladiri. Anak-anak yang diketahui memiliki kecerdasan lebih, dipisahkan dan dididik menjadi ilmuwan dan teknisi.” Erland sangat tenang menjelaskan semuanya. Ia tidak peduli dengan anak yang jatuh itu.
Aku manggut-manggut. Diantara anak-anak itu, aku melihat Jean. Dengan garang ia menghajar anak lain.
Kupalingkan muka untuk kembali menghadap Erland. Kami meneruskan langkah. Ia mengajakku duduk di sebuah kursi taman yang cantik.
“Apakah ilmu beladiri sudah menjadi bagian kehidupan sejak masa lalu?”
“Ya, mungkin sejak jaman purba, ketika manusia pra sejarah harus bertahan dari serangan binatang buas raksasa. Kemampuan itu diajarkan dari generasi ke generasi, dengan berbagai perkembangan dan variasi. Menurutku, kemampuan itu sangat berguna dalam banyak situasi.”
Aku manggut-manggut.
“Orang-orang yang mengawalmu kelihatannya begitu kuat. Apakah mereka juga rutin berlatih seperti anak-anak ini?”
“Ya. Tentu saja. Bahkan latihan mereka jauh lebih keras. Mau melihatnya?”
Sebenarnya aku ngeri dan jijik bakal melihat pria-pria besar itu saling memukul. Tetapi aku memerlukan tur panjang untuk memberi Lez dan Todd lebih banyak waktu.
“Baiklah. Sepertinya menarik.”
Erland tertawa. Ia berdiri dan kami melangkah menuju kendaraan.
Sekitar sepuluh menit perjalanan, kami tiba di sebuah bangunan. Erland mengajakku masuk. Bangunan yang ini juga memiliki jalur pengunjung, seperti bagian-bagian sebelumnya. Setelah melewati penjaga depan yang terlihat sangat rupawan, Erlan mengajakku memasuki jalur pengunjung. Berdua saja.
“Ini pemusatan latihan untuk calon pengawal pribadiku.”
“Pengawal pribadi? Bukan yang diterjunkan ke medan perang?”
“Nona, negeri ini sangat aman dan damai. Untuk apa menyiapkan pasukan perang.”
“Tetapi kamu punya pabrik pembuatan alat perang.”
“Itu hanya alat. Jika sudah ada alat yang memadai, pasukan berjumlah besar tidak lagi diperlukan.”
Aku mulai curiga tetapi kutekan baik-baik agar wajahku tetap nampak datar. Kuikuti langkah Erland. Ia berhenti di bagian pertama.
“Ini anak-anak yang baru beranjak dewasa. Mereka berlatih sikap dasar seorang pengawal pribadi di sini.”
Aku melihat sekitar delapan anak berusia seumuran Al berdiri berjajar. Mereka berlatih memberi hormat dan sikap tubuh yang tegap.
“Pada usia berapa mereka bakal mulai bertugas?”
“Tergantung kemampuan setiap anak. Kalau mereka sangat cakap, di usia lima belas tahun sudah bisa mulai mengawalku dalam perjalanan. Ada pula yang hingga usia delapan belas tahun harus keluar dari gedung ini tanpa pernah ditugaskan.”
Aku manggut-manggut. Langkah kami berlanjut menuju bagian berikutnya. Ini kamar sekelompok remaja yang sedang sibuk saling menggoda dengan tongkat pemukul.
“Tongkat pemukul itu tidak terlihat seperti sebuah senjata.”
“Mereka pengawal pribadi. Bukan angkatan perang.”
Ini sangat berbeda dengan tayangan di saluran 1. Apa ia mengira aku tidak pernah menonton bagaimana pasukannya yang beringas dan suka minum-minum?
“Oh, begitu. Jadi apa saja tugas mereka?”
“Mereka mengawalku dalam perjalanan. Mereka juga mengurus segala keperluanku dan tamuku. Terkadang mereka juga berperan menjadi sopir. Saat aku terjun ke masyarakat, mereka akan terus menjaga keamananku. Yah, resiko menjadi orang penting. Selalu saja rakyat berusaha mendekat dan mendapatkan perhatianku.”
Aku manggut-manggut.
Langkah kami tiba di area yang lebih dewasa. Ini terlihat seperti remaja seusiaku. Tetapi mereka sangat berbeda. Bukan hanya tampangnya yang semua rupawan, rambut yang terawat rapi, tetapi juga kulit bersih, tubuh yang berotot, dan perut kotak-kotak.
Mereka sedang sibuk berlatih dengan peralatan gym beraneka rupa. Ada yang sedang berlari dengan treadmill. Ada yang mengangkat beban. Ada pula yang sedang sit up. Jauh di belakang sana ada yang sedang membilas tubuh setelah berenang. Aku palingkan muka. Ini pemandangan yang tidak sehat.
“Kenapa? Pada umumnya anak perempuan suka melihat pemuda berpenampilan baik seperti mereka.”
“Aku bukan anak perempuan pada umumnya.”
Erland tertawa. Kami melanjutkan langkah menuju pintu keluar. Bukan keluar dari area gedung, tetapi menuju sebuah lapangan tempat sekelompok pemuda sedang berkuda. Erland melambai meminta mereka mendekat.
Mereka membariskan kudanya di depan kami.