KEDIAMAN ERLAND

1121 Kata
"Alam memegang kunci kepuasan estetika, intelektual, kognitif, dan bahkan spiritual kita." (E. O. Wilson)   Masing-masing pemuda turun dari kudanya. Seperti para perawat di rumah anak, pemuda-pemuda ini tatapannya juga kosong. “Anak-anak, perkenalkan ini tamu istimewa kita. Silahkan diantar dengan naik kuda menuju kediamanku. Aku tunggu di sana.” “Siap!” jawab mereka. “Rea, pilih kuda yang ingin kamu tunggangi. Mereka akan membawamu dengan selamat menuju kediamanku.” “Kupikir kamu akan segera mengirimku pulang.” “Ayolah. Kamu akan pulang. Kunjunganmu di sini sangat singkat. Ijinkan aku menunjukkan sedikit keramahan. Ranselmu akan kubawakan ke rumah. Kamu bisa menemukannya di kamarmu nanti.” Kuangkat bahu. Dalam keadaan ini, rasanya pasrah adalah pilihan terbaik. Kutatap kuda demi kuda sambil melangkah melewati mereka. Seekor kuda menganggukkan kepalanya saat aku berhenti di depannya. Dia juga tidak menolak saat kusentuh hidungnya. “Aku memilihmu,” ucapku kepada kuda hitam itu. Ia meringkik.   Pemuda pemilik kuda yang setampan Baekho tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia memegang pinggangku lalu mengangkatku agar bisa naik ke atas kuda. Detik berikutnya, dalam gerakan yang sangat lancar, ia sudah duduk di belakangku. Dua pemuda lain berkuda di depan kami. Sisanya mengekor. Kami melewati bagian pinggir lapangan berkuda untuk mencapai pintu keluar. “Udara di sini segar sekali,” ucapku untuk memecah keheningan. “Anda betul, Nona.” “Setelah mengantarku, apa tugas kalian?” “Tuan Erland akan memberikan perintahnya nanti.” Cara bicara mereka sangat kaku, persis seperti robot. Jadi kuputuskan untuk menikmati saja perjalanan naik kuda ditemani para robot bernafas. Aku tidak habis pikir. Apakah para tentara yang beringas itu mengkonsumsi tablet yang berbeda dengan robot-robot tampan ini? Mereka beringas, tetapi masih terlihat sebagai emosi manusia. Beberapa waktu kemudian, pandanganku menangkap sebuah bangunan megah. Ada banyak pilar tinggi dan besar di bagian depannya. Dari jauh aku sudah bisa melihat bahwa pilar-pilar itu kokoh dan bersih mengkilap. “Apakah itu rumah Erland?” tanyaku. “Tepat sekali, Nona Rea.” Tiba-tiba ia menjejak perut kudanya sehingga berlari. “Hei, kamu mengejutkanku.” “Perjalanan berkuda tidak akan menarik tanpa sedikit kecepatan, Nona,” ucapnya tanpa mengurangi kecepatan. Ia berbelok menuju hutan artifisial, meninggalkan pasukan yang lain. Di bawah rimbun pepohonan, ia mengurangi kecepatan kuda, kemudian berhenti. “Ada apa?” tanyaku. Kedua tangannya yang tadi memegang tali kekang di kanan dan kiriku berubah posisi menjadi memeluk pinggangku. “Hey, kamu jangan kurang ajar!” sentakku. “Tuan menugaskan saya membuat Nona senang.” “Lepaskan aku.” Aku berusaha melonggarkan pelukannya. Aku berhasil meloloskan diri dan meluncur turun dari punggung kuda. Ia melompat turun dan mengejarku. Ia berhasil menangkapku lalu hendak meneruskan aksinya. Aku berbalik dan teringat ajaran Lez. Kutendang celah diantara kedua kakinya dengan lututku. Ia mengeluh kesakitan, lalu roboh sambil memegangi area pribadinya. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri sambil mengingat jalan datangku. Aku melangkah tergesa menyusuri jalan yang tadi kulewati dengan naik kuda berkecepatan tinggi. Aku sudah melihat titik terang saat sebuah tangan menarik tanganku kembali naik ke atas kuda. Seragam si pengawal yang kutendang. Oh tidak. Aku sudah hendak memberontak ketika sebuah bisikan langsung membuatku tenang. “Sebaiknya kamu bertingkah normal agar Erland tidak curiga.” “Todd?” desisku. “Hmm.” Todd membawaku kembali ke pasukan yang tadi menunggu di depan hutan. Kulihat mereka tidak sedikitpun curiga dengan tampang Todd yang jelas berbeda.  “Semua, gunakan penutup muka,” perintah Todd. Yang lain menurut. Mereka semua tinggal hanya nampak mata saja sekarang. Kami berhenti di depan rumah Erland dalam posisi berbaris, seperti di lapangan tadi. Todd turun terlebih dahulu, kemudian mengulurkan tangan ke pinggangku untuk membantu turun. Aku tidak dapat menahan geli melihat tampangnya dalam balutan seragam pasukan khusus Erland. Seragam ini lebih mirip pakaian para samurai dengan bagian tungkai bawah yang dibalut boot selutut. Atasannya sangat elegan dengan kancing menyamping dari d**a kiri ke perut kanan. Topi tinggi yang begitu keren melengkapi penampilannya. Secara keseluruhan, aku yang terbiasa melihat Todd sebagai pemuda ceking jadi punya pandangan berbeda. “Inilah kediamanku. Selamat datang, Rea.” Todd mengarahkan langkahku menuju tangga utama dan naik menuju Erland. “Kau! Nona Rea telah memilih kamu dan kudamu. Lanjutkan tugasmu menjaga dan membuatnya nyaman di rumah ini. Kalian yang lain silakan kembali.” “Siap!” sahut mereka. Todd sedikit membungkuk kemudian mengikat kudanya ke palang di halaman itu. Ia juga mengambilkan rumput untuk si kuda. Kuedarkan pandangan. Jajaran kelima pilar menyangga sebuah atap berukir yang membentuk wajah Erland dikelilingi rakyat yang memujanya. “Sangat aneh, ya, untuk seorang sederhana sepertiku. Ukiran raksasa itu hadiah dari rakyatku. Bisa apa jika aku tinggal pindah dan menempati saja.” Aku tersenyum. Ucapan itu terdengar merendah. Tetapi entah kenapa telingaku mendengar hal lain. Kami melewati pintu masuk yang super besar dan tinggi, seolah dirancang untuk memasukkan sekaligus sepuluh manusia berjajar, masing-masing memanggul manusia lain hingga tiga tumpukan ke atas. Pintu ini juga berukir sangat indah, yang berisikan pemujaan rakyat terhadap Erland. Dalam gambar itu, Erland diangkat dengan tandu. Tidak hanya dipanggul di pundak, tetapi di atas kepala. “Kata mereka, rakyat yang baik memuliakan pemimpinnya. Bagaimana menurutmu?” tanya Erland. Aku mendongak menatap gambar itu. “Kurasa rakyatmu bersuara dengan baik.” Erland tertawa. Todd dengan tubuh tegak dan kaku mengiringi langkah kami. Ini persis seperti yang dipelajari anak-anak di pusat pelatihan pengawal pribadi. Entah di mana Todd mempelajari cara kerja mereka. Dengan langkah kecilnya Erland mengajakku melewati satu demi satu hiasan dari bahan logam. Yang ini karya seniman A. Dibuatkan khusus untuk Erland karena telah menyelamatkan keluarganya. Yang itu karya seniman B, dibuat khusus untuk Erland karena telah memberikan perlindungan. Berderet karya lain dengan sejarah masing-masing. Rasanya seperti tur di dalam museum seni kriya logam. Tidak ada lukisan, mungkin di negeri ini, lukisan cat tidak dikenal. Semua karya seni yang dipajang menunjukkan pemujaan kepada Erland. Di salah satu ruang, tersimpan beberapa peninggalan kuno, seperti alat makan dan guci. “Aku tidak melihat gambaran generasi sebelumnya?” tanyaku. “Sepanjang yang kuketahui, kami sibuk berperang. Tidak terpikir untuk mengabadikan wajah. Aku mungkin akan menjadi generasi pertama yang wajahnya diabadikan dalam perkakas logam.” Aku manggut-manggut. Aku tidak akan memprotes hal itu. Bahkan tepat pula bila dikatakan dia akan menjadi generasi pertama yang wajahnya diabadikan dalam sebentuk rumah. “Rumah ini sepi sekali. Apakah kau punya keluarga?” tanyaku. Pertanyaan itu terlihat menyakitkan bagi Erland. Ia berhenti sejenak. Ia mengatur nafas. Butuh beberapa waktu menunggunya tenang. Ia bahkan menyempatkan duduk di sebuah kursi logam berwarna keemasan dan menunjukkan wajah sedih berlebihan. “Aku punya pasangan yang telah hidup bersamaku selama dua puluh tahun. Saat perang terjadi, dia dan satu-satunya putra kami terbunuh.” Erland mengeluarkan sebuah sapu tangan dari saku bajunya. Bahkan pada sapu tangan itu bersulam wajahnya dengan benang emas. Beberapa saat kemudian Erland menarik nafas panjang dan menatapku.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN