"Alam terpuaskan dengan kesederhanaan. Dan alam bukanlah boneka." - Isaac Newton
“Tetapi sekarang aku punya banyak teman yang bersamaku membantu rakyat tetap hidup. Jika pun tidak bisa disebut teman karena perbedaan usia kami, mereka kuperlakukan seperti anakku sendiri. Kami mengkonsumsi nutrisi yang sama. Kami hidup dengan kualitas yang sama. Bahan pakaian kami dibuat oleh tangan-tangan yang sama. Dijahit oleh petugas yang sama. Sungguh, meski aku pemimpin, tidak ada yang berbeda.”
“Kamu pernah merindukan keluargamu?”
“Tentu aku merindukan mereka. Tetapi aku sadar meratapi kepergian seseorang tidak akan mengembalikannya. Aku yakin kamu mengerti itu.”
Aku manggut-manggut.
“Kalau boleh tahu, berapa usiamu? Kau terlihat begitu muda untuk pemimpin yang katamu menganggap para tentara adalah anak.”
“Aku yakin sudah melihat lebih dari lima ratus purnama, sejak keluargaku terbunuh.”
Jika setahun dua belas purnama, maka lima ratus purnama itu cukup panjang. Jika ia menikah di usia dua puluh tahun, maka saat ini usianya mestinya sudah kepala enam. Tidak heran keriput sudah menghiasi wajah Erland.
Erland menarik nafas dalam-dalam.
“Apa yang belum kamu capai dalam hidup ini?” tanyaku iseng.
Kami masih terus melangkah pelan di koridor panjang itu.
“Tinggal satu. Kau akan tahu nantinya,” ia tersenyum jumawa, “Kalau kamu, apa yang belum kamu capai dalam hidup?”
“Mengetahui alasan mengapa aku dilahirkan,” ucapku.
Erland menatapku, lalu menatap ujung sepatu mewahnya. Cukup lama ia berdiam sambil mengerutkan dahi.
“Untuk ukuran anak semuda kau, itu jawaban yang sangat dewasa.”
Kuangkat bahu.
Rumah ini memang megah dan besar. Tetapi rasanya kosong dan tidak menarik karena sepenuhnya dihiasi wajah Erland dalam berbagai versi. Aku sudah merasa bosan sejak tadi.
“Bagaimana dengan rumahmu? Apakah lebih megah dari ini?” tanya Erland.
“Tentu saja tidak. Aku bukan anak raja. Aku bukan anak pejabat.”
“Kau masih memiliki orangtua?”
“Aku tinggal bersama ibuku.”
“Tidakkah ia akan merasa kehilangan kamu bila tidak pulang.”
“Tentu saja.”
“Hmm.”
Ia nampak berpikir.
Sebuah majalah berada di atas meja. Benda itu menarik perhatianku.
“Ternyata kalian juga memiliki media cetak?” walau aku sudah pernah melihatnya. Saat ini aku hanya mengalihkan kebosananku dari patung-patung Erland.
“Ya. Tentu saja. Tidak semua rakyat memiliki televisi. Meskipun informasi di televisi tentu saja jauh lebih menarik.”
Menarik, katanya? Mungkin dia lupa tayangan tentang cara membersihkan kolong tempat tidur.
Aku membuka halaman utama.
Jika aku merasakan, orang lain juga perlu merasakan
Kata mutiara itu dicetak tebal dalam warna emas, dibingkai, dan ditempatkan di sebelah tampak samping muka Erland. Khusus memenuhi sisi kiri halaman utama.
“Kata-kata yang menarik. Apakah ini yang tadi kamu maksud dengan kalian mengonsumsi nutrisi yang sama?”
“Ya. Benar sekali. Aku ini kan pemimpin yang rendah hati dan adil.”
Kupikir dia mulai pikun. Tadi dia menyebutkan seorang pemimpin membutuhkan nutrisi yang istimewa karena tugasnya lebih berat. Sekarang?
“Bagaimana dengan hal lain? Apakah jika kamu menderita sebuah virus, mereka juga wajib merasakannya?”
“Tentu saja,” jawabnya spontan, “maksudku, dalam batas-batas yang wajar. Tenang saja, belum pernah terjadi ada virus mematikan beredar di tempat ini. Rakyatku terjamin kesehatannya.”
Kuangkat bahu. Jawaban spontan tadi menjadi petunjukku bahwa jika ia merasakan sakit karena kehilangan orang-orang yang dia sayangi, maka orang lain juga harus merasakan rasa sakit itu.
Kebetulan sekali di halaman depan majalah itu tertera peringatan untuk tidak melakukan kontak fisik dengan orang lain karena ada virus berbahaya.
“Hei. Aku butuh penjelasan tentang ini.” Kutunjuk peringatan itu, “katamu belum pernah terjadi ada virus mematikan beredar di tempat ini.”
“Rea. Rea. Aku semakin yakin mereka telah salah mengambil seseorang yang bukan siapa-siapa sepertimu. Kamu sama sekali tidak mengerti tentang bagaimana memimpin.”
“Apa maksudmu?”
“Aku harus menjaga rakyatku tetap sehat. Untuk itu harus ada peraturan yang mengikat mereka, sekalipun peraturan itu tidak punya dasar klinis. Ini penting untuk menjaga kepatuhan mereka kepadaku.”
“Maksudmu, virus yang disebut berbahaya ini tidak pernah ada?”
“Aku sudah bilang tadi bahwa tempat ini kujaga agar terbebas dari virus semacam itu.”
“Kamu membohongi rakyatmu? Bagaimana jika suatu saat ada yang tidak sengaja bersentuhan dan mereka baik-baik saja? Tidakkah hal itu akan menyebar dan membuat yang lain kehilangan kepercayaan denganmu?”
“Tidak sulit membuat seseorang lenyap, Rea.”
Orang ini benar-benar sakit.
Kami berdiam di sisa perjalanan. Pintu-pintu besar di kanan dan kiri lorong dihiasi dengan patung-patung logam dan baju zirah. Rasanya jadi seram. Aku tidak berani melihat patung-patung itu, karena ternyata menampakkan sosok Erland yang hanya berbalut sehelai kain di area tertentu. Ini benar-benar menjiplak karya-karya Michelangelo, jika kedua dunia ini benar-benar terhubung. Seniman hebat itu bisa marah besar karyanya dijiplak dengan demikian menyedihkan.
“Nah, Rea. Ini tempatmu beristirahat. Besok pagi, kami akan memulangkan kamu. Istirahatlah dengan tenang. Aku juga sangat lelah seharian memberikan kamu tur. Jadi mari kita makan malam di kamar masing-masing, kemudian segera tidur. Jangan khawatir. Pengawalku ini akan memberikan semua kebutuhanmu.”
Erland memberikan tekanan pada kata-kata ‘memberikan semua kebutuhanmu’. Ia juga menyertai ucapannya dengan senyum penuh kemenangan.
Aku menatap ruangan mewah namun suram yang ditunjuknya. Tetapi aku tamu di sini. Mana bisa menolak. Jika Todd sedang berperan sebagai pengawal Erland, maka hitung saja bahwa aku sendirian di kandang lawan.
“Selamat malam, Rea.”
“Selamat malam.”
“Dan kau, buat dia nyaman.” Erland berkata dengan tegas kepada Todd.
“Siap.”
Aku masih tidak habis pikir bagaimana Todd bisa melakukannya. Gayanya sangat mirip dengan yang dilakukan Baekho palsu dan kawan-kawannya tadi.
Erland undur diri layaknya seorang bangsawan. Ia melangkah mundur hingga sekitar lima langkah, baru kemudian berbalik. Ia melangkah menjauh lalu menghilang di belokan.
Pengawal pribadi Erland yang sedari tadi menguntit kami menyodorkan tangan mempersilahkanku masuk ke kamar. Setelah itu ia ikut masuk dan menutup pintu.
“Aku yakin gerak gerik kita diawasi. Jadi sebaiknya tetaplah bersikap seolah aku orang asing atau anggap saja aku robot,” bisik Todd.
Aku mengangguk samar sambil terus menatap perabotan demi perabotan di dalam kamar itu.
“Anda membutuhkan sesuatu, Nona?” tanyanya sambil berdiri di sebelah ranselku.
“Tidak. Lakukan saja tugasmu,” ucapku.
Todd membungkuk sopan kemudian berdiri dengan sikap istirahat.
Aku berkeliling kamar mewah dengan banyak perabot yang sepertinya tidak terlalu diperlukan. Kursi-kursi besar dengan bantal berhias wajah Erland. Lukisan logam dengan bentuk tentu saja dia. Bahkan guci yang berderet di atas meja masing-masing memuat tampak samping mukanya. Narsis tingkat tinggi. Aku memeriksa kamar mandi. Serasa berada di hotel bintang lima.
Kulepas sepatu. Tanpa melepas jaket aku berbaring menatap langit-langit kamar yang (lagi-lagi) memuat gambar Erland. Tubuhku lelah, sebenarnya. Tetapi aku takut tertidur, kemudian tidak bangun lagi untuk bertemu Mamaku. Walau Todd bersamaku di sini, aku tahu sekarang tidak bisa mempercayai siapapun.
Kulihat botol tablet dua warna di atas meja dan gelas dengan penutup warna emas berisi air minum. Aku ingat pesan Tristaz, tetapi aku juga terbiasa segala gerakku diamati. Aku khawatir jika Erland akan tahu aku sudah mendapat pesan jika tidak mengkonsumsi tablet yang disediakan ini.
Aku harus bagaimana?