"Jika kamu melindungi ngarai dari badai angin, kamu tidak akan pernah
melihat keindahan ukiran mereka yang sebenarnya." - Elisabeth Kübler-Ross
Kutarik nafas dalam-dalam. Aku tidak boleh menampakkan kalau aku mengetahui banyak hal tentang tuan rumah. Aku tahu aku harus mengambil apa yang disediakan agar Erland tidak curiga. Entah bagaimana, aku yakin dia pergi bukan untuk beristirahat sebagaimana dia katakan tadi. Aku merasa sedang diawasi. Bukan hanya oleh Todd, tetapi juga oleh Erland dan anak buahnya. Entah mereka berada di mana.
Aku duduk di sofa depan meja. Kuhela nafas berat. Sungguh, setelah seharian mengikuti tur, aku merasa lapar dan lelah. Kalau dipikir-pikir, Erland tahu bagaimana memaksa mangsanya mengonsumsi apa yang dia sediakan. Sejak mengambilku melalui Jiz, ia membuatku mengeluarkan banyak energy. Sudah pasti aku akan merasa lapar dan lelah. Untuk itu aku bisa saja mengonsumsi apapun yang dia sediakan.
Kalau sudah begini, aku teringat masa pengayaan sebagai PA di kelas X. Kami menjalani pelatihan yang disebut survival. Materi dan teori diberikan satu hari penuh. Dua hari berikutnya kami harus berjalan menuju titik tujuan dengan mengandalkan bahan alam.
Syukurlah kami mendapatkan hard copy materi, jadi aku bisa menengok kembali. Tidak mungkin aku bisa menghafal sekian banyak tumbuhan dalam waktu singkat. Ditambah lagi masih banyak materi lain yang juga harus kupahami dan kuingat.
Di hari kedua, kami mendapatkan peralatan lengkap. Total beban ranselku sekitar 7 kg untuk semua peralatan tanpa bahan makanan. Kami harus mencapai titik finish, berjalan sendirian, dan bertahan hidup di hutan yang asing selama 48 jam.
Kelihatannya pelatihan itu memang ekstrim. Tetapi itu kan pengayaan. Hanya ada tujuh anak di angkatanku yang berhasil lolos menjadi peserta. Padahal kami masuk PA dalam jumlah 40 orang. Begitu berbahayanya kegiatan, maka kami dikawal oleh 23 kakel kelas XI dan XII yang juga telah lolos pelatihan tersebut. Itupun masih mendapat tambahan kru 12 alumni dan 5 instruktur berpengalaman. Tentu bukan dikawal dalam arti ditemani jalan. Mereka menyebar dan berjaga di tempat-tempat tersembunyi. Peserta tetap harus berjalan sendiri, mendirikan bifak perlindungan sendiri, mencari bahan makanan dan air, serta mengatasi bahaya apapun yang dialami.
Sebagai satu-satunya peserta perempuan dalam kegiatan itu, aku tidak mendapat keistimewaan apapun. Ditambah lagi saat itu aku sedang haid. Nyeri perutku luar biasa sepanjang perjalanan. Sepertinya aku sempat pingsan segala. Tetapi aku terbangun oleh hujan lokal yang memang sering turun di area hutan itu.
Saat survival, kami harus bertahan hidup dengan apa yang ada di alam. Jadi meski lapar melanda, kami tetap hanya makan makanan yang aman. Perut boleh lapar, tetapi pikiran harus tetap waras. Itu slogan seniorku.
Sekarang aku merasakan lagi situasi itu dalam format yang berbeda. Aku tidak tahu apa saja yang dimasukkan ke dalam tablet-tablet ini. Warnanya sama dengan yang pernah kukonsumsi di Path 09. Tetapi mempertimbangkan perilaku Erland, bukan tidak mungkin dia sedang merencanakan sesuatu melalui benda-benda ini.
Ingatanku melayang pada kali pertama mengonsumsi tablet. Rasanya asing, tetapi setelah sekian waktu berlalu, aku mulai terbiasa mengonsumsi sesuatu yang hambar. Yang kurasakan hanya kenyang. Ditambah lagi, acara BAB jadi lebih efisien. Bahkan selama berada di tempat ini, aku belum pernah merasa ingin duduk di atas toilet. Entah bagaimana, tubuhku merespon dengan baik dan beradaptasi.
Aku pernah mendiskusikan hal ini dengan Todd. Dia mengatakan, belum tentu sebulan sekali mereka perlu melakukan renungan toilet. Tubuh mereka sangat efisien. Seluruh nutrisi yang bentuknya sudah maksimal itu diserap dan digunakan untuk metabolisme.
Kuamati tablet dalam botol. Lalu aku menatap Todd. Ia berdiam, matanya menatapku, tetapi wajahnya tetap mengarah ke seberang tempatnya berdiri.
Kubuka penutupnya lalu kuambil satu biji. Aku pura-pura memasukkan tablet ke mulutku kemudian memiringkan gelas di depan mulut seolah aku minum. Setelah itu aku berdiam seolah sedang mengulum dan menelan.
Todd tersenyum samar dan mengangguk halus atas apa yang kulakukan.
Untuk beberapa saat kami berdiam. Hanya mata kami saling memandang tanpa memindahkan arah wajah. Aku duduk menunggu kantuk datang.
“Nona, tuan memerintahkan saya membuat Nona merasa nyaman.”
Kupicingkan mata menatap cara bicara Todd. Ia seperti orang asing.
Ia melangkah mendekatiku.
“Maafkan aku, Rea. Tetapi jika tidak ingin penyamaran kita ketahuan, kamu harus menurut,” bisiknya.
Aku menatapnya. Todd mengangkat tubuhku dan memindahkan ke tempat tidur. Ia menyelimutiku.
Todd mematikan lampu kamar, tetapi aku tetap waspada. Aku teringat apa yang dilakukan pengawal yang berkuda bersamaku. Entah bagaimana aku gemetar ketakutan.
“Kau tahu aku tidak akan melukaimu, Rea. Tetapi kita sedang diawasi. Tenangkan dirimu. Ini aku. Aku akan menjagamu bahkan dari keinginanku sendiri.”
Aku gigit bibir berusaha menenangkan diri. Todd tersenyum, membiarkanku menyelipkan tangan ke bawah bantal. Aku melakukan itu sekaligus untuk menyembunyikan tablet.
Todd berbaring di sampingku.
“Ada banyak kamera pengintai di ruangan ini. Di setiap sudut ruangan, di mata kiri setiap patung, bahkan ada yang di kamar mandi. Aku juga melihat laser pemotong di dekat pintu,” bisiknya sambil mengusap rambutku.
“Apa maksudnya membuatku merasa nyaman?” bisikku.
“Pejamkan saja matamu. Pura-pura tidur. Tablet yang disediakan untukmu diberi obat khusus.”
“Obat tidur?”
“Semacam itu.”
Kupejamkan mata. Mau tidak mau aku menikmati usapan Todd. Serasa mengenang masa kecil ketika Mama berusaha membuatku tidur.
“Apakah Erland ingin membunuhku?”
“Aku khawatir demikianlah rencananya. Kami akan menyelamatkanmu, Rea. Tetapi tetaplah waspada.”
Entah berapa lama kemudian, aku tetap berusaha terjaga. Sesekali aku tertidur, tetapi bangun lagi demi mendengar deheman Todd. Aku segera sadar dan memberinya isyarat ringan jika aku masih bangun.
“Kita di sarang musuh, Rea. Jangan lengah,” bisiknya.
“Usapanmu membuatku mengantuk, Todd.”
“Aku harus bagaimana? Jika mengikuti perintah Erland, seharusnya aku melakukan lebih daripada ini.”
“Maksudmu?”
“Sesuatu yang memberiku peluang mendapatkan tendangan lututmu.”
Aku teringat Lez. Aku tersenyum tanpa membuka mata.
“Mengapa Erland perlu melakukan hal seperti itu kepadaku?”
“Tempat ini dunia dewasa yang tidak waras. Kita yang harus waspada dan paham karena kita anak muda yang terjebak di sini. Usiamu sudah tujuh belas tahun, Re. Kupikir kamu paham apa yang kumaksud.”
“Yah, aku sempat melihat bagaimana pesta Erland berlangsung. Aku bersungguh-sungguh akan menendangmu jika kamu berani melakukan itu padaku.”
“Aku tahu. Lagipula aku menghormati kamu. Aku tidak ingin kamu terluka, apalagi olehku.”
“Terima kasih.”
Aku tidak bisa menyebut Path 09 sebagai teman, tetapi setidaknya mereka memperlakukan aku dengan baik dan tulus. Tetapi Todd tetap saja cowok. Kelihatannya dia juga normal. Di sisi lain, aku juga telah menyaksikan kekejaman Erland dan pasukannya. Nyawaku bukan apa-apa bagi mereka. Setelah mengetahui banyak hal seperti ini, kamupun pasti juga tidak akan bisa tidur nyenyak ketika berada dalam situasiku.
Usapan Todd berakhir dengan tangannya berada di atas kepalaku.
“Kamu tertidur?” tanyaku.
Todd tidak menjawab. Kubuka mata. Ia sedang berkonsentrasi dengan hal lain.
“Erland memerintahkan aku meninggalkan rumah ini, Rea. Waspadalah,” bisik Todd.
“Kamu juga berhati-hatilah, Todd.”
“Hmm.”
Aku mengangguk samar tanpa membuka mata. Kudengar langkah Todd. Ia membuka pintu dan menutupnya kembali. Langkah Todd menjauh.
Tidak ada suara. Waktu berlalu. Aku yakin sudah tengah malam sekarang. Tidak ada yang terjadi, tetapi aku tetap berusaha terjaga walau berakting tengah tidur. Ketika itu aku merasakan hembusan angin yang lebih kencang, seperti aliran udara saat AC kau turunkan suhunya. Saat aliran udara itu sudah berlangsung cukup lama, kurasakan dadaku mulai sesak. Apakah ini gas beracun?
Kututup hidung dan mulut dengan lengan jaketku. Tetapi tidak banyak membantu. Udara di kamar ini mulai tercemar. Pandanganku mulai berkunang-kunang dan kepalaku pusing.
Samar kudengar suara pelan kaca jatuh ke lantai.