"Tanam benih kebahagiaan, harapan, kesuksesan, dan cinta; semuanya akan kembali padamu dengan berlimpah. Ini adalah hukum alam." ~ Steve Maraboli
Bangunan itu berwarna biru, warna kesukaan Mama. Dindingnya diwarnai biru sangat muda. Kata Mama, itu memberikan kesan bersih. Semua bingkai pintu dan jendela diberi warna biru tua, sedangkan daun pintu dan jendela berwarna biru muda dalam intensitas yang lebih gelap. Secara keseluruhan, semua menghadirkan kesan sejuk dan segar. Persis seperti kesan kala kita berada di pantai.
Bangunan rumah tidak besar. Hanya lantai pertama yang memuat ruang tamu cukup luas, ruang tengah merangkap ruang makan, dapur, kamar mandi, kamar khusus untuk menyeterika, kamar Mama, dan halaman belakang terbuka untuk mencuci dan menjemur pakaian. Di satu sisi halaman belakang, ada lima kamar kos yang sedang kosong satu.
Lantai dua tidak seluas lantai pertama. Di sana hanya ada ruang kamarku, kamar mandi, perpustakaan mini, dan ruang terbuka yang biasa digunakan untuk beribadah bersama.
Biasanya rumah tidak penuh, karena penghuni resmi di dalam rumah hanya aku dan Mama. Anak-anak kos tidak begitu berpengaruh, karena mereka semua pekerja. Mereka pergi pagi, pulang sudah malam untuk langsung tidur. Saat weekend mereka pulang ke rumah masing-masing atau keluar kota berwisata. Sesekali ada keramaian kala Mama mendatangkan tenaga kerja tambahan untuk menggarap pesanan kue atau makanan dalam jumlah besar. Namun tidak setiap saat.
Hari ini, ada situasi yang berbeda.
Aku melihat Mamaku yang terduduk lemas mendengar kabar bahwa aku hilang di gunung. Andre dan beberapa teman yang melakukan pendakian bersamaku tengah bersama Mama. Aku juga melihat beberapa tetangga dan anak kos duduk di samping Mama. Wajah mereka muram. Sita menangis di sudut ruangan, tengah dihibur oleh yang lain.
“Maafin Sita, Tante. Seharusnya Sita tidak melepas pegangan tangan. Mbak Rea berusaha menenangkan Sita saat gempa itu terjadi. Seharusnya kami tetap bersama,” sesal Sita. Air matanya mengalir deras. Wajahnya terlihat lucu pada saat seperti itu. Lagipula, Sita yang aku kenal adalah jenis Sita yang ceria dan cenderung seperti anak laki-laki. Kemana Sita yang itu? Mengapa dia jadi begini?
Beberapa teman mengusap punggung Sita.
Mama tidak merespon ucapan Sita. Mama seperti tengah sibuk dengan dirinya sendiri. Mama mengenakan gamis rumah berwarna ungu muda, dipadukan kerudung bermotif bunga-bunga dengan warna serupa. Ini seragam harian Mama. Mamaku bukan pekerja kantoran, namun ia selalu tampil rapi. Minimal penampilannya seperti yang ditunjukkan sekarang. Ini bertujuan agar sewaktu-waktu ada pelanggan memesan makanan secara online maupun offline, Mama siap melayani.
“Mama sudah bilang, jangan muncak dalam situasi seperti ini. Kenapa kamu bandel, Re?” ratap Mama sambil mengusap fotoku. Wajah Mama pucat, saat itu begitu sendu dan sembab. Butiran air terus mengalir dari kedua mata Mama. Salah satu tetangga yang biasanya membantu Mama kala banyak pesanan mengulurkan tisu.
Itu foto yang diambil sebelum kami mulai mendaki. Aku ingat foto ini diambil oleh Andre. Ia langsung mengunggah foto setiap anggotanya karena begitu mendaki gunung Rigol, sinyal telepon seluler akan menghilang. Aku tahu Mama aktif di media sosial. Salah satu cara sederhana Mama mengetahui aktivitasku adalah dengan mengikuti akun organisasi ini.
Dalam foto itu, terlihat papan petunjuk arah jalur ke Puncak II. Kami memang sengaja menunjukkannya agar para pengikut dapat menyimak. Rencananya, dalam perjalanan kami juga mengambil dokumentasi untuk diunggah secara berkala setelah menyelesaikan pendakian.
Dalam foto itu, aku mengenakan kaos, jaket hijau, dan celana lapangan hitam. Aku membawa ransel, dilengkapi topi lapangan hitam. Aku tersenyum dengan dibingkai dua jari membentuk huruf V. Aku terlihat siap dengan pendakian dan apapun yang akan terjadi. Aku hanya tidak siap terpisah dari Mama. Syukurlah saat ini Mama ada di depanku. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Mama,” ucapku.
Mama tertegun. Matanya melotot aneh, seolah tidak percaya dengan pendengaran.
“Mengapa rasanya Tante mendengar suara Rea, ya?” bisik Mama dengan tetap berurai air mata. Mama menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sesuatu, “Rea?”
Teman-teman dan para tetangga terkesiap dengan sikap Mama. Ada yang langsung menjauh, ada yang memasang sikap waspada. Banyak juga yang ikutan menoleh ke kanan dan ke kiri entah untuk mencari apa.
“Rea di sini, Ma,” jawabku sambil mendekat.
Mama terdiam menajamkan telinga.
“Rea? Rea?” tanya Mama. Pandangannya tetap tidak fokus. Mama masih mencari-cari, meski jelas ia merespon suaraku. Apakah Mama tidak bisa melihatku?
Andre mendekat. Ia juga pucat dan sedih. Ia berlutut di samping Mama yang sedang duduk di kursi ruang tamu.
“Tante, sudah dua minggu berlalu. Tim SAR sudah berusaha maksimal. Saat ini mereka menghentikan pencarian karena hasilnya nihil dan cuaca di gunung sangat buruk. Mari kita doakan Rea damai di sana, Tante,” hibur Andre.
Mama meletakkan fotoku yang sudah diberi bingkai di atas meja dalam posisi berdiri pada sandaran. Selama beberapa detik Mama mengusap fotoku. Pandangannya tidak fokus. Mungkin Mama tengah mengenang kenakalan-kenakalanku. Seolah menyadari tengah ditatap banyak orang, tiba-tiba Mama menghela nafas. Setelah itu Mama menatap Andre dengan tatapan tajam.
“Aku benar-benar mendengar suara anakku. Mengapa kalian tidak percaya?” tanya Mama.
“Tante …,” ucapan Andre tidak sempat diselesaikan.
“Aku tahu anakku di sini. Rea tidak mati. Tidak! Tidak!” teriak Mama. Detik berikutnya Mama roboh.
Yang lain langsung merubung Mama. Sebagian teman laki-laki memindahkan Mama ke kamar. Para tetangga ikut sibuk mengarahkan teman-temanku. Suasana jadi panik dan ribut. Tangisan Sita kembali mengisi ruang. Tidak lama kemudian ia ikut kehilangan kesadaran.
Aku terpaku. Apakah aku sudah … mati? Kuangkat lengan kiriku. Aku terlonjak ketika menyadari bahwa tanganku transparan. Aku bisa melihat benda di balik tanganku. Aku mendekati fotoku di atas meja. Kusentuh. Lewat. Aku terpekik sendiri.
Tidak. TIDAK!! AKU TIDAK MATI. AKU TIDAK MATI! TADI TIDAK BEGINI.
Aku menangis. Spontan kusentakkan tangan berniat melampiaskan amarah pada bingkai foto itu. Ia terjatuh dari atas meja. Kacanya pecah. Bersamaan dengan itu pekikan spontan orang-orang yang masih berada di sana terdengar. Beberapa wanita tetangga lari terbirit-b***t keluar ruangan sambil berteriak ketakutan.
Aku terbangun dalam posisi duduk. Nafasku terengah-engah dan tersengal. Aroma aneh masih menusuk hidung. Mataku langsung beredar ke kotak aneh di kanan dan benda besar bercahaya di kiri. Semua masih buram seolah kini mataku hanya bisa membedakan terang dan gelap. Padahal barusan saja aku bisa melihat Mama dan teman-temanku. Apa yang terjadi? Aku terisak sendiri sambil memegang kepala yang terasa sangat sakit.
Kutekuk kaki membentuk posisi aman menangis.
Aku di mana? Apa yang terjadi? Ke mana semua orang yang tadi bersama aku dan Mama? Mengapa mendadak semua berubah. Ini bukan rumahku. Ruangan ini asing. Aku di mana?
Aku tidak bisa menjawab apapun. Aku tidak bisa bergerak lebih jauh karena rasa nyeri di sekujur tubuhku tiba-tiba menyerang. Apa yang terjadi?
Aku menangis menahan nyeri dan sakit kepala. Aku lebih sedih karena aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku seperti tidak mengenali diriku sendiri.
Hanya bunyi bip di dekatku terdengar semakin kencang dan cepat.
Bip-bip-bip-bip ….