SUSTER MARY

1110 Kata
Keamanan kebanyakan hanyalah takhayul. Hal itu tidak pernah ada di alam, begitu pula anak-anak manusia yang merasakannya. Menghindari bahaya tidak lebih aman dalam waktu lama daripada menghadapinya. (Helen Keller)   Entah berapa lama aku kembali menghilang. Saat kesadaranku kembali, tubuhku terasa sangat sakit. Syukurlah sakit kepalaku mereda. Aku sudah bisa menggerakkan badan, meski aku berjengit atas setiap gerakan karena nyerinya luar biasa. Bahkan nyeri itu timbul hanya untuk gerakan mengepalkan tangan dan melepasnya. Kuatur nafas agar aku bisa mengumpulkan tenaga kembali. Pendengaranku menangkap bunyi ‘bip’ teratur yang terasa dekat dari arah kananku. Bip. Bip. “Fokuskan pada mata, Rea. Siapa tahu penglihatanmu bakal membaik setelah ini. Kita perlu tahu apa yang terjadi dan kita ada di mana saat ini,” bisikan di kepalaku memerintah diriku sendiri. Aku kumpulkan tenaga. Rasanya jadi seperti makhluk asing karena kehilangan kontrol atas diriku sendiri. Aku yang terbiasa sangat aktif merasa mendekati putus asa karena serangan rasa nyeri atas setiap gerakanku. Ah, entahlah. Saat ini penglihatan dulu. Ini tidak akan menyakitkan. Aku berusaha meyakinkan diriku. Setelah merasa cukup kuat, aku buka mataku perlahan-lahan. Aku berusaha mengenali bola lampu di atasku. Benar. Itu bola lampu. Bentuknya semakin jelas. Apakah penglihatanku sudah membaik? Kuedarkan pandangan ke arah kanan. Sebuah mesin dengan beraneka kabel yang entah ke mana saja. Bunyi bip teratur bersamaan dengan lampu kecil yang menyala di bagian atasnya. Mengapa sebelumnya aku tidak melihat lampu itu. Warna lampu cukup tajam dan merah, seharusnya aku bisa melihatnya walau pandangan mataku sebelumnya buram. Aku mengedarkan pandangan ke arah kiri. Jelas kotak bercahaya itu sebenarnya adalah jendela. Penampakan alat pengontrol bip mendadak membawa ingatanku kepada ICU rumah sakit. Apakah aku di rumah sakit? Apa yang terjadi padaku? Mengapa setelah entah berapa lama, badanku masih terasa remuk redam dan nyeri untuk setiap gerakan kecil? Mengapa pandanganku masih buram meski sekarang sudah jauh lebih baik? Kalau ini rumah sakit, mengapa aromanya bukan obat. Ini lebih seperti aroma di hutan pinus. Aku mulai diserang perasaan bingung. Usahaku mengenali dan memikirkan diriku mendatangkan sakit kepala kembali. Aku tidak pedulikan lagi rasa sakit yang bakal kutanggung. Aku bangkit dari posisi berbaring menuju posisi duduk. Mendadak kepalaku seperti diserang dengan palu godam. Kupegang kepalaku dengan kedua tangan. Rasa nyeri melanda, membuatku nyaris berteriak melampiaskan keputus asaan karena menyadari betapa ternyata aku sangat lemah. Tetapi bahkan untuk berteriak pun aku tidak mampu. Akhirnya aku hanya bisa menangis. Kepalaku sakit. Tubuhku sakit. Hatiku lebih sakit demi tidak juga mengerti apa yang terjadi dengan diriku. Aku sangat kecewa dengan diriku sendiri yang menjadi begini lemah. Alat disampingku berbunyi bip cepat. “Rea. Tenangkan dirimu,” suara seorang wanita. Nadanya terdengar lembut, seolah berusaha menghiburku. Aku bisa mengenali suara ini. Ia terdengar sejak awal aku bisa mendengar suara di sekitarku. Suaranya yang tenang dan lembut terdengar kontras berpadu dengan suara bip cepat dari mesin. Tangannya hangat dan halus menyentuh lenganku. Ia mengusapku pelan bermaksud menyalurkan ketenangan. Ia tidak salah. Perlahan tubuhku melemas dan pikiranku menjadi tenang. Suara bip mesin turut melambat seiring ketenanganku. Aku berpikir keras antara dua pilihan, membuka mata atau tetap berdiam dengan mata tertutup. Entah bagaimana, timbul ketakutan dalam diriku jika saja yang berbicara denganku ternyata adalah alien, sosok berwajah seram, atau malah makhluk tidak berwajah. Aku benar-benar tidak siap dengan kejutan semacam itu. Namun sisi hati hati yang lain menuntunku untuk membuka mata saja. Jika ternyata sosok di sekitarku menyeramkan, setidaknya aku sudah tahu apa yang terjadi. Aku menarik nafas dalam-dalam. Perlahan, aku buka mata. Kuangkat muka untuk menatap sang pemilik suara. Kuatur nafas agar tidak bereaksi berlebihan karena sekarang aku bisa melihat sebentuk wajah. Maksudku, dalam arti yang sebenarnya. Detil dan lengkap. Ia memiliki dua mata berwarna biru muda yang cantik, bulu matanya lentik, alisnya rapi, hidungnya mungil, dan bibirnya tipis bersaput lipstick pink. Wanita itu menatapku dengan lembut. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum. Sorot matanya ramah dan menyenangkan. Ia menatapku antusias, seolah ia kawan yang telah begitu lama menungguku bangun. Sepertinya ia khawatir tidak akan pernah melihat keberadaanku lagi. Wajah wanita ini enak dilihat, disapu riasan tipis dan wajar. Rambutnya cokelat, lurus sebahu. Terlihat manis membingkai wajah ramah dan senyumnya. Ia mengenakan seragam perawat berwarna biru muda. Ada tulisan ‘MARY’ di dadanya. Ia mengenakan kacamata berbingkai merah muda. Bunyi bip kembali berpacu. Aku sadar itu respon atas detak jantungku yang semakin cepat. Apakah ini karena tubuhku bereaksi berlebihan hanya karena aku sangat bahagia penglihatanku telah membaik? Tunggu. Apakah benar alat itu pemantau detak jantung. Bunyi bip itu adalah deteksi detak jantungku? “Dari sekian anak muda di Path 09 yang pernah kurawat, kamu yang terlihat paling tidak nyaman. Syukurlah sepertinya kamu sudah memiliki penglihatanmu kembali.” Aku menatapnya. Path 09? “Path 09? Apa itu? Tempat apa ini? Aku di mana?” tanyaku. Kupejamkan mata karena entah bagaimana aku merasa lelah. Posisiku masih tetap duduk memeluk lutut. Aku sadar sekali rasa sakit di tubuhku mereda, meski kepala tetap seperti tengah dipukul dengan palu. Suara bip kembali berpacu. “Kamu sedang berada di klinik Path 09,” jawabnya. “Apa yang terjadi?” Ia berbalik mengambil peralatan di sudut ruangan. Ia kembali dengan sebuah botol kecil. Ia buka tutup botol, lalu mengambil sebagian isinya dengan ujung jari. Ia mengoleskan sebuah krim bening pada lenganku. Masih ada luka goresan di sana. Beberapa bagian lenganku juga lebam, sepertinya bekas suntikan. Baru kusadari aku mengenakan baju pasien yang terbuka di bagian belakang. Kutatap luka-luka di lengan dan kakiku. “Kamu salah posisi saat ditarik. Cuaca di tempatmu benar-benar buruk saat itu. Badanmu menolak, jadinya banyak luka. Tetapi tidak parah. Dalam beberapa hari kamu akan membaik.” “Ditarik?” Aku merasa kosong. Apa maksudnya ditarik? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya? “Dibawa kemari. Mungkin saat ini kata itu terlalu asing buatmu. Tenang saja. Kamu butuh waktu. Saat ini kita fokus kepada kesehatanmu dahulu. Kita sembuhkan luka-lukamu. Kamu harus segera pulih kembali. Perlahan, kamu akan bisa mengingat satu demi satu kejadian.” Aku menatap Mary. Sepertinya dia seusiaku, tetapi terlihat dan bersikap sangat dewasa. Atau sekolah perawat di tempat ini hebat sekali, sehingga lulusannya bisa sekeren Mary. “Aku tidak pernah mendengar ada tempat bernama Path 09,” kataku. Mary tersenyum. “Tentu saja. Tempat tinggal kita sangat … berjauhan. Tidak heran kamu tidak pernah mengenal nama itu.” Aku mengangkat bahu. Aku kembali merenung dan berusaha mencerna situasiku. “Kamu menjalani pendidikan keperawatan di sekolah mana?” Mary menatapku dengan sorot mata yang ganjil. Apakah pertanyaanku salah? “Mengapa kamu bertanya begitu?” “Kelihatannya kamu seusiaku, tetapi sebagai perawat kamu sangat hebat. Sekolahmu pasti keren sekali.” Mary tersipu. Ia kembali tersenyum. “Yah, bisa dibilang begitu. Kamu akan memahaminya, nanti. Untuk saat ini, istirahatlah. Kamu harus segera pulih. Kami membutuhkanmu,” ucapnya.   Membutuhkanku?    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN