"Aku merasakan paru-paruku mengembang dengan deru pemandangan - udara, gunung, pohon, orang-orang. Aku berpikir, 'Inilah yang membuatku bahagia'." - Syliva Plath.
Sepertinya sudah pagi (atau sudah sore) saat aku kembali terbangun. Kulirik langit terang di luar jendela. Birunya langit dan putihnya awan tertutup lapisan abu-abu tipis. Terlihat seperti atmosfer tidak sehat di area industri perkotaan. Klinik ini ada di mana sih? Apakah polusinya sehebat itu? Atau kaca jendela ini yang super kotor?
Di kota tempat tinggalku, ada rumah sakit besar yang gedungnya lima lantai. Aku pernah menengok salah satu teman yang dirawat di lantai teratas. Aku ingat sekali kaca jendelanya bersih, sehingga saat menengok si sakit, kami bisa sambil selfi-selfi berlatar belakang pemandangan kota.
Tempat ini sangat berbeda.
Aku gelengkan kepala. Mary bilang, aku akan mengerti nanti. Jadi kuikuti saja sarannya untuk fokus dengan kesehatan dan pemulihanku. Aku harus segera bangkit, lalu pulang. Mama pasti mengkhawatirkan aku, putri semata wayangnya. Sudah berapa hari kutinggalkah sekolah? Berapa kegiatan yang kutinggalkan?
Aku bangkit dari posisi berbaring dengan gerakan perlahan. Kepalaku masih terasa melayang saat melakukan itu. Namun aku tahu harus berusaha. Aku berdiam sejenak menanti aneka rasa itu menghilang. Kutekuk lutut dan kurebahkan dahi di sana. Kuatur nafas sambil mensugesti diri sendiri bahwa aku baik-baik saja.
Entah berapa menit aku demikian. Akhirnya rasa itu mereda. Aku menatap meja di samping tempat tidur. Sebelumnya, di atas meja itu terdapat alat yang berbunyi bip. Saat aku diam, bunyinya teratur pelan. Sejauh bisa mengingat, bunyi bip itu bertambah cepat ketika aku terbangun setelah bermimpi melihat tanganku yang tembus pandang. Pernah juga berbunyi cepat ketika aku ketakutan atau emosi. Kali ini, alat itu sudah tidak ada. Entah bagaimana aku merasa kehilangan. Aku lihat sudah tidak ada selang infus yang tersambung padaku. Bekas luka tusukan jarum sudah menutup.
Apakah aku sudah bisa turun? Layak dicoba. Perlahan kuturunkan kaki. Aku beringsut mencapai lantai. Dingin langsung merasuki kakiku. Lantai ini terbuat dari logam. Kutegakkan tubuh lalu kulepas pegangan tangan ke tempat tidur. Aku sanggup berdiri tegak selama beberapa detik, lalu lututku mulai gemetar. Kuatur nafas agar tenagaku pulih. Tetapi lututku benar-benar tidak mau diajak bekerja sama.
Ada langkah kaki tergesa mendekat.
“Seharusnya kamu memanggilku,” ucap Mary sambil memapahku ke kursi tidak jauh dari tempat tidur. Aku duduk dan melepas nafas lega.
“Bagaimana saya tahu harus memanggilmu, Mary. Saya belum pernah ke tempat ini. Lagipula, saya sudah tidak menemukan selang infus dan alat yang berbunyi bip itu. Saya pikir sudah cukup kuat.”
“Aku suka semangatmu. Tetapi, nampaknya kamu perlu beberapa latihan sebelum bisa berjalan lagi seperti biasa. Kamu cukup lama tidak menggunakan kaki.”
“Berapa lama saya di tempat tidur?”
“Sepuluh hari.”
“Hah!!”
Mary tersenyum.
“Iya. Sepuluh hari. Itu biasa. Terkadang, anak-anak juga terluka parah setelah berlatih. Bisa berhari-hari mereka tinggal di sini.”
“Anak-anak? Terluka parah setelah berlatih?”
“Maksudku, para Pejuang. Nanti kau akan tahu.”
Apalagi itu?
“Nah, karena kamu sudah tidak menggunakan infus, maka nutrisi harus masuk secara oral. Ini sarapanmu.” Mary meletakkan botol kecil berisi sebuah tablet berwarna hijau muda.
“Apa ini?”
“Protein tinggi, karbohidrat, dan serat.”
Aku mengamati tablet itu. Warnanya hijau merata. Jelas tidak kelihatan ada serat. Lagipula, berapa serat yang bisa dikandung benda sekecil ini.
“Apa tidak ada makanan normal?” tanyaku.
Mary mengangkat alis.
“Ini normal. Masukkan mulut, minum air, kulum sejenak, lalu telan. Ayo. Cobalah.”
Aku mengikuti tutorial yang diucapkan Mary. Awalnya terasa hambar, tetapi kemudian muncul rasa manis dan semacam jelly yang mudah kutelan.
“Manis,” komentarku.
“Iya.”
Kuangkat bahu. Kusadari kemudian, perutku langsung terasa kenyang. Aku jadi ingat rasanya minum jelly drink. *Wah, nanti kalau balik ke rumah, aku akan bawakan ini untuk mBak Darni, asisten Mamaku. Dia kesulitan diet untuk mengurangi berat badan sekitar 15 kilogram. Tablet ini akan sangat efektif.
“Kapan saya boleh pulang?” tanyaku.
“Tergantung definisi kamu tentang pulang.”
“Maksudnya?”
“Kamu dibawa kemari oleh Tim Elit Path 09. Melihat kondisimu, dua hari lagi kamu boleh pulang ke Path 09.”
“Maksud saya pulang ke rumah. Bertemu keluarga.”
“Aku petugas kesehatan di sini. Bukan wewenangku menjawab pertanyaan itu. Sabar, ya. Besok lusa kamu akan tahu jawabannya. Oh, iya. Kita seumuran kok. Pakai saja ‘aku’.”
Kuanggukkan kepala. Mary membereskan beberapa peralatan di atas meja. Aku mengalihkan pandangan ke jendela. Baru teramati bahwa lingkungan hijau itu terasa tidak alami. Kutajamkan pandangan menuju pokok dahan terdekat. Tampak olehku adanya baut. Warna daun yang hijau seragam dan warna batang yang dari pangkal hingga ujung warna cokelatnya sama, juga nampak aneh.
“Mary, pohon ini tidak alami?” tanyaku.
“Sejak aku lahir, yang aku tahu sudah tidak ada pohon alami di sini.”
Aku menatapnya.
“Maksud kamu, di negeri ini semua pohonnya seperti yang di luar itu?”
“Iya. Itu yang aku tahu. Mm, aku harus pergi merawat pasien yang lain. Kalau kamu bosan di ruangan ini, kamu boleh berjalan-jalan ke ruangan di depan kamar. Ingat, setelah berlatih berjalan, banyaklah beristirahat. Kamu perlu banyak energi untuk pulang.”
Kuanggukkan kepala. Langkah Mary terlihat tergesa saat meninggalkanku. Apakah aku terlalu banyak bertanya sehingga Mary jelas terlihat menghindariku? Otakku masih berusaha mencerna apa yang tadi tertangkap mata. Beberapa menit kemudian aku merasa mengantuk. Aku berpindah ke tempat tidur. Kurebahkan tubuh yang entah bagaimana terasa lemas.
Kupandang langit-langit ruangan. Lampu bulat redup itu masih setia menemani. Jendela besar masih setia menayangkan suasana kelabu di luar. Aku merindukan bunyi bip yang biasanya setia menemaniku melewati saat sadar.
Ingatanku melayang menuju rumah. Sebagai putri semata wayang, Mama sangat memperhatikanku. Perhatian itu kian istimewa kala aku sakit. Biasanya sepanjang sakitku belum sembuh, Mama selalu ada di sampingku. Mama menungguiku sepanjang hari, mengompres keningku, menyeka tubuhku sebagai pengganti mandi, bahkan menyuapiku seolah aku masih TK. Hingga sebesar ini, sering kudapati Mama masih menjagaku hingga pagi. Tidak jarang, Mama tertidur di kursi.
Aku tidak pernah sakit yang membuatku sampai harus tinggal di rumah sakit. Kondisi sakit paling parah yang pernah kualami hanya demam hingga nyaris mencapai 40oC. Itu saja Mama sudah panik dan heboh.
Dengan motor kesayangan, Mama memboncengku ke dokter. Ia melobi pasien-pasien lain demi mendapatkan ijin agar aku diperiksa duluan. Setelah mendapatkan obat, Mama membawaku pulang. Aku tahu Mama tidak tidur malam itu. Mama baru bisa memejamkan mata saat kutunjukkan suhu tubuhku sudah turun menjadi 38,5.
Aku tersenyum mengingatnya. Mamaku yang hebat. Mamaku yang tangguh. Semoga Mama dalam keadaan baik dan sehat sekarang. Aku berharap masih diberi kesempatan bertemu dengan Mama lagi. Aku berjanji kepada diriku sendiri akan menjadi anak yang lebih baik.
Entah di mana aku sekarang. Tidak ada Mama.