BATAS KUASA

1246 Kata
Wahai gunung Everest, kami memang belum bisa menaklukkanmu, tapi tahun depan kami pasti kembali dan menaklukkanmu. Kami pasti bisa karena kami akan lebih baik dan lebih besar dari kamu. Dan kamu masih tetap akan sebesar ini dan tidak akan berkembang lagi. ~Sir Edmun Hillary, pendaki pertama Mount Everest, 1953   “Selamat pagi,” sapa Mary sambil meletakkan botol berisi sebuah tablet hijau muda dan botol air di atas meja. Aku bangkit sambil senyum. Pagi ini, badanku pegal. Namun lebih karena terlalu banyak berbaring dan kurang gerak saja. Nyeri dan sakit akibat luka sudah tidak terasa. Aku lihat luka-lukaku juga tinggal sedikit. Aku menatap daun hijau dan langit di luar jendela. Tidak berubah. Kelabu. “Tidurmu gelisah semalam. Apa yang terjadi?” tanya Mary. Kugelengkan kepala. Aku bermimpi bertemu Mama lagi. Masih dengan situasi yang sama. Mama yang menangis. Teman-teman dan tetanggaku ada di sana menghibur Mama. Aku berada di dekat mama yang sedang memeluk fotoku. Mama ngotot bahwa beliau merasakan kehadiranku dan mendengar suaraku. Aku mendekati Mama, tetapi segera sadar lenganku tembus pandang. Aku menjatuhkan bingkai fotoku hingga kacanya pecah. “Apa sejak dahulu suasana di luar jendela selalu kelabu begitu?” tanyaku. Mary mengikuti arah pandangku. Senyumnya berubah menjadi senyum kecut. “Harus jujur kukatakan, aku belum pernah melihat keadaan udara bersih. Jadi demikianlah situasi di tempat ini.” Aku anggukkan kepala. Aku bergerak turun dari tempat tidur. Lututku sudah mulai nyaman. Meski pelan, tetapi aku sudah lebih leluasa berpindah ke kursi dekat jendela. Aku tidak perlu berpegangan pada apapun lagi. Lantai tetap terasa dingin. Ini menyadarkanku bahwa indera perasaku tidak tumpul. Tanpa kusadari, aku mencubit lenganku sendiri. Sakit. Aku masih hidup. Hanya saja, mimpi itu terasa begitu nyata. Walau tidak mungkin kejadian di dunia nyata bisa benar-benar terulang dengan adegan yang sama, tetapi aku dua kali demikian. Jadi, kupikir itu benar-benar mimpi. Tetapi kenapa terasa amat sangat nyata. Sebenarnya, apa yang terjadi? “Mary, katamu hari ini aku boleh pulang?” “Iya. Kamu boleh pulang hari ini. Kamu sudah kuat. Buktinya bisa pindah sendiri ke kursi itu. Tetapi sabar, ya. Kamu masih harus menunggu beberapa jam lagi. Kita harus memastikan protokol keamanan berjalan dengan baik sebelum memindahkanmu.” “Maksudmu, situasi sedang tidak aman?” “Situasi tidak pernah aman, Rea. Makanya kita harus sangat berhati-hati.” Itu juga aneh. Selama 17 tahun hidup, rasanya aku tidak pernah merasa negaraku tidak aman. Mary membereskan tempat tidurku. Gerakannya terlihat begitu cekatan dan terstruktur. Tidak sampai lima menit kemudian, tempat tidurku sudah rapi. “Mary, sebenarnya tempat apa ini?” “Sabar, Rea. Beberapa jam lagi kamu bisa bertanya hingga puas.” Kuanggukkan kepala. Mary tersenyum, lalu mendekatiku. “Tugasku hanya merawatmu hingga pulih, Rea. Aku tidak berhak memberikan informasi lebih banyak. Itu akan berbahaya bagi dirimu dan diriku sendiri. Jadi, maaf ya, aku meminta pemaklumanmu. Hanya itu yang bisa kusampaikan.” Aku menatap matanya yang terlihat bersungguh-sungguh. Mary nampak lelah. Mungkin, aku bukan orang pertama yang dirawatnya dan menanyakan hal itu. Kuberi Mary sebuah senyuman, lalu kuanggukkan kepala. “Tidak apa-apa, Mary. Aku paham. Aku akan menunggu beberapa jam lagi,” ucapku, “Mm, Mary. Bisakah menunjukkan di mana kamar mandi?” tanyaku. Mary tersenyum. Ia mengajakku keluar kamar. Tepat di samping kamarku ada ruang lain yang ternyata kamar mandi. Isinya mirip dengan kamar mandi standar. “Kamu ingin mandi?” tanya Mary. Kuanggukkan kepala. Mary mengambil peralatan dari lemari di dekat tempat tidurku. “Ini baju untuk kamu. Kupikir ukurannya pas.” Kutatap celana dan atasan berwarna putih. Terlihat seperti terbuat dari bahan kulit, tetapi ringan. Modelnya mirip baju kantor. Ah, sudahlah. Dibanding baju rumah sakit berwarna biru muda, ini lebih baik.   Kututup pintu. Aku memeriksa isi kamar mandi. Tampak bendanya sih, seperti biasa. Tetapi alih-alih mengalirkan air, pancuran mengalirkan uap panas bertekanan. Keran pemutar mengatur kuatnya tekanan uap. Anehnya, badanku yang mungkin penuh daki setelah belasan hari di atas tempat tidur, terasa bersih dan segar setelahnya, padahal tidak tersedia sabun. Rambutku yang terasa lengket dan gatal, seperti langsung rontok pengotornya. Sampo yang tersedia hanya perlu dipakai sedikit untuk perawatan kulit kepala dan rambut. Setelah disemprot uap air lagi, rambut terasa bersih dan lembut. Baju ganti yang disediakan Mary terasa pas badan dan nyaman. Jenis kainnya terasa lembut di kulit. Kulihat ada alat semacam pengering rambut mini. k****a petunjuk pemakaian dan kucoba. Kembali terasa tekanan udara, hanya saja yang ini tidak basah. Tidak sampai satu menit pemakaian, rambutku kering. Kusisir rambut. Kulanjutkan memeriksa isi tas peralatan. Ternyata tersedia kotak riasan wajah lengkap dalam bentuk panel. Dalam satu lembar panel seukuran telapak tangan, ada alas bedak, bedak, pemerah pipi, pewarna mata, dan eye liner. Mereka masing-masing berukuran mini, dilengkapi dengan kuas yang tipis dan lembut. Aku mencoba memakai riasan. Sebagai informasi, tidak heran panel ini berisi bagian-bagian mini. Ternyata, masing-masingnya seperti ekstrak berkonsentrasi tinggi. Jadi tidak perlu diaplikasikan banyak-banyak, sudah terlihat hasilnya. Sebagai contoh, sekali oles eyeliner sudah terlihat tebal dan bagus. Asyik banget. Jadi selebihnya, aku memakai pulasan setipis mungkin. Mary menyambutku dengan senyumnya saat aku keluar. “Wow, kamu cantik sekali,” puji Mary. “Terima kasih.” Kami sibuk dengan aktivitas masing-masing selama beberapa menit. “Apa aktivitas yang sedang kamu lakukan saat kamu diambil? Konon tempatmu saat itu begitu dingin dan basah udaranya,” tanya Mary. Aku memutar otak. Udara yang dingin dan basah? “Oh, itu kabut. Saat itu kami sedang mendaki gunung. Cuaca sedang tidak bagus. Udaranya dingin dan berkabut.” “Kabut, ya? Apakah itu hobimu berada di tempat demikian? Atau kamu memang tinggal di tempat yang selalu begitu?” “Tidak juga. Aku suka mendaki gunung, tetapi keseharianku tinggal di kota. Kondisi di kota sangat berbeda dengan di gunung. Di kota udaranya terasa lebih kering dan berpolusi.” “Ow, begitu. Menarik. Mm, aku harus pergi. Ini tasmu. Nanti penjemputmu akan membantu membawakan. Terima kasih sudah berbagi informasi,” ucap Mary. Kuanggukkan kepala. Mary melangkah keluar. Baru teramati ia mengenakan sepatu bot berhak sekitar 7 senti. Aku melirik sepatu yang ditinggalkan Mary. Sepatu bot putih dengan sol tebal. Sepertinya nyaman dikenakan dan dipakai berjalan. Tetapi, mana sepatuku? Aku bangkit mengambil tablet hijau itu lagi. Kumasukkan mulut, lalu kuteguk air untuk mengulum tablet hijau. Saat terasa sudah muncul semacam jelly, kutelan. Wuahh, perutku kenyang lagi dalam tiga detik. Aku jadi penasaran bagaimana tablet ini dibuat. Tetapi tetap lebih penasaran sedang di mana aku sekarang ini. Aku berpindah ke ruangan di depan kamar tempatku tidur selama berhari-hari. Ruangan yang ini minimalis, tetapi setidaknya tempat duduk di sini lebih nyaman diduduki. Tersedia beberapa bahan bacaan di atas meja. Kuambil sebuah majalah. Majalah ini bergambar seorang pria bernama Erland. Foto setengah badan dengan gaya membawa pistol ala-ala agen 007 itu menampakkan tubuhnya yang langsing, dibungkus pakaian ketat berwarna putih. Rambutnya berwarna putih, dengan potongan aneh sehingga lebih mirip cula Badak Jawa. Matanya dipertajam dengan eyeliner hitam tebal nyaris membuat matanya terlihat dua kali lebih besar. Eyeliner hitam sangat kontras dengan alis mata yang putih sewarna rambut di kepalanya. Alis kirinya nampak sengaja dipotong di tengah. Dalam foto itu, Erland tersenyum tipis dan nampak begitu percaya diri.   Erland akan mengembangkan sayap dengan menguasai negeri sebelah, sehingga tinggal satu wilayah saja yang perlu ditaklukkan untuk menguasai dunia. Erland yakin dengan sumber daya yang ada saat ini, negeri kita mampu menguasai dan memimpin dunia.   Rasanya setahun kemudian pintu dibuka. Mary datang bersama tiga pemuda berseragam hitam-hitam. “Rea, ini Lez, Jiz, dan Todd. Mereka akan membawamu ke markas Path 09,” jelas Mary. Mereka takjub melihatku. Aku lebih takjub lagi melihat mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN