"Alam terpuaskan dengan kesederhanaan. Dan alam bukanlah boneka." - Isaac Newton
(Catatan Todd)
Hari-hari berlalu tanpa aku boleh meninggalkan markas. Satu-satunya yang bisa kuandalkan untuk terus memantaunya hanya media layar. Aku begitu ingin bersamanya saat dia terbangun dan frustasi karena kondisi fisik yang melemah. Aku ingin berada disana saat dia menangis, setidaknya agar aku bisa segera meminta maaf telah membuatnya demikian. Tetapi, benarkah bersegera mengatakan semuanya dan meminta maaf adalah yang terbaik. Tidakkah itu akan semakin membingungkannya? Aku tidak tahu lagi.
Kusandarkan punggung sambil menatap prototype senjata di atas mejaku. Senjata ini sudah siap diuji. Aku akan melakukannya besok. Ini sudah malam. Walau ruang latihan kami berperedam, aku pikir sebaiknya besok saja. Namun mata ini tidak akan mudah terpejam, walau tubuhku sangat lelah.
Kunyalakan layar dan kuaktifkan kamera di kamar perawatan Rea. Ia tengah tertidur. Infusnya sudah dilepas. Alat pemantau detak jantung dan tekanan darah sudah tidak ada. Berarti dia sudah siap dipindahkan. Aku kirim screenshot pemandangan itu kepada Tristaz. Pria paling dewasa diantara kami itu tidak menjawab. Sabar, Todd. Besok pagi, mungkin.
Kuusap rambut di kepalaku. Kuamati wajah tidur Rea yang tenang. Sebaris alis yang lebat berpadu dengan bulu mata yang membentuk citra feminin, sangat berbeda dengan keaktifan dia saat berada diantara teman-temannya.
Jariku bergerak memutar rekaman-rekaman kegiatan Rea. Ia sedang membantu masyarakat membuat sumur resapan. Ia sedang berdiskusi serius dengan seorang pria dewasa terkait jenis-jenis tumbuhan yang cepat tumbuh untuk dijadikan tanaman peneduh. Ia sedang bersama anak-anak kecil mengisi pot-pot dari botol plastik dengan media tanam, kemudian menanam beraneka bunga kecil.
Ia mengikuti berbagai pelatihan tentang bertanam aneka jenis tumbuhan. Setelah pelatihan, ia praktikkan bertanam di halaman rumahnya yang tidak terlalu luas. Lahan yang tadinya terisi taman itu bertambah manis dengan hadirnya aneka sayuran hijau. Ada waktu-waktu Rea memetik daun segar untuk dimakan langsung.
Aku juga punya video tentang Rea dan para pengagumnya. Meski tahu para pengagum itu menginginkan hubungan lebih, nyatanya mereka hanya mendapat perlakuan standar dari seorang gadis yang tidak ingin terikat dengan siapapun. Yang ada, para pengagum itu dilibatkan pula dengan kegiatan-kegiatan Rea menghijaukan lingkungan. Modus, tetapi sepertinya itu membuat Rea semakin dikagumi.
Kami percaya satu pohon yang berhasil kita besarkan akan menjadi sumber oksigen dan membantu resapan air di masa depan. Ini seperti menabung untuk masa depan bumi yang terjaga. Kalau bukan kita generasi muda yang melakukan ini, siapa lagi? Ayo tanam pohon dan rawat agar tumbuh besar. Mari bersama kita siapkan masa depan kita nanti.
Ucapan Rea itu termuat dalam sebuah video documenter pendek terkait penghijauan bukit. Kegiatan itu diikuti banyak pecinta alam dan aktivis lingkungan. Video itu juga memuat keluhan sejumlah warga terkait berkurangnya debit air di sumur mereka karena bukit itu digunduli untuk menjadi tempat wisata. Rea dan teman-temannya tidak hanya mengeluh, mereka bertindak nyata dengan inisiatif pendanaan sendiri.
Aku tersenyum tanpa sadar. Hal-hal seperti inilah yang membuat kami memilih Rea. Ia seumuran dengan kami, tetapi ia berbuat nyata untuk lingkungan. Ia bergerak dengan inisiatif sendiri, dimulai dari skala kecil yang bisa dia lakukan. Aku sudah memantau bahwa apa yang dilakukannya telah menyebar.
Sejak kuambil, di dunianya dia telah dinyatakan hilang di gunung. Mereka berduka cukup lama. Duka itu kemudian meluas. Teman-temannya memanfaatkan duka bersama itu untuk menyebarkan apa yang telah dilakukan Rea. Untuk menghormati kepergiannya, mereka meneruskan kegiatan cinta lingkungan yang telah dia mulai. Penghijauan kecil itu meluas dan dilakukan di berbagai tempat. Itu terlihat begitu hebat di mataku. Orangnya boleh tidak ada, tetapi apa yang dia mulai dilanjutkan oleh orang lain. Bukankah itu luar biasa. Aku berharap dia memulai hal serupa di sini.
“Kalian bertiga saya tugaskan menjemput Rea. Perlakukan dia dengan baik. Ingat, dia belum sepenuhnya pulih. Tetapi kita sudah hampir tidak punya waktu. Erland bergerak sangat cepat. Jika kita tidak segera bergerak, aku khawatir kita tidak bisa bertahan ke depannya. Jadi, buat perjalanan itu senyaman mungkin. Pastikan dia bakal merasa baik-baik saja bersama kita untuk beberapa waktu ke depan.”
Tristaz melepas kami masuk kendaraan. Lez mulai melaju. Aku menoleh menatap Tristaz yang tidak beranjak dari tempatnya hingga dia menghilang dari pandanganku.
“Bagaimana perasaanmu, Todd?” tanya Jiz.
“Antusias, seperti biasa. Dia bakal punya teman bereksperimen,” jawab Lez tanpa memindahkan pandangan dari lorong di depan kami. Dengan gesit Lez memiringkan kendaraan untuk menembus pintu keluar kami yang menyempit vertical. Kendaraan harus miring 90 derajat untuk bisa keluar atau masuk.
Kami menembus kabut kering berwarna abu-abu yang dibentuk oleh debu bercampur asap dan polutan. Sedikit saja terhirup, orang sehat bisa terserang sesak nafas. Aku jenis anak yang saat kecil mudah terserang sesak nafas karena menderita kelainan dalam paru-paruku. Tempaan latihan di Path 09 telah membuat fisikku menguat dan berkembang. Aku yakin sudah enam tahun aku tidak pernah dirawat karena serangan sesak nafas.
“Memangnya ada yang salah dengan eksperimen?” tanyaku.
Lez dan Jiz tertawa.
“Aku berharap masih akan bertahan hidup untuk melihatmu sedikit menikmati waktu dengan meninggalkan laboratorium atau tempat latihan,” ucap Jiz.
“Kapan kamu berencana mati? Aku akan pastikan Todd memperlihatkan bagaimana ia menikmati waktu sebelum kamu benar-benar pergi,” kata Lez.
Kami tertawa. Semua penghuni Path 09 sepertinya tahu tentangku. Aku dikenal sebagai manusia dingin dan lebih memilih bersama berbagai peralatan laboratorium daripada berinteraksi dengan teman-teman yang lain. Mereka berdua mungkin satu-satunya forum tempat aku bisa mengobrol sedikit lebih banyak.
Aku sudah bisa melihat bangunan klinik di depan. Aku memastikan tidak ada kendaraan lain yang mengikuti kami. Klinik harus dalam posisi sangat aman. Sebelum menembus pintunya, kami harus pastikan tidak ada yang mengikuti.
Ingatanku terbang menuju satu minggu terakhir yang kuhabiskan tanpa jeda dan tanpa menemui secara langsung sosok Rea. Aku hanya bisa memantaunya melalui sarana komunikasi karena aku bisa mengakses kamera tersembunyi di kamar Rea. Namun tidak bisa kupungkiri cara itu sudah sangat menghiburku. Rasanya menjadi tidak sabar menanti hari ini. Syukurlah akhirnya hari ini tiba.
Lez mendaratkan kendaraan di depan pintu klinik. Kami turun dan melangkah masuk. Seorang pemuda menyambut kami. Ia salah satu pejuang yang sedang dirawat karena terkena anak panah nyasar. Ia tidak mengenakan atasan karena punggungnya masih harus dirawat lukanya.
Kami meneruskan langkah menuju kompleks tempat Rea dirawat. Kami membuka pintu dan melewatinya. Kami bertiga terpaku.
Rea sungguh cantik dengan baju setelan putih. Ia mengenakan boot yang menyertai. Ia mengikat rambut lurusnya ke belakang kepala. Dengan cara itu, wajahnya terlihat bersih meski masih pucat. Sepertinya ia terampil dengan make up kami yang merupakan konsentrat.
Saat kami tiba, Rea sedang asyik membaca majalah tentang Erland. Wajah seriusnya membuatku yakin ia sedang mempertanyakan banyak hal terkait tempatnya berada.