Ketiga pemuda itu mengangguk kepadaku. Mereka mengenakan seragam hitam, boot hitam, dan kacamata hitam keren yang sepertinya bisa dipakai ngaca. Postur tubuh mereka tegap dan terlihat kaku, khas seperti orang militer. Dibandingkan segala atribut mereka yang lain, aku paling tertarik kepada boot hitam yang super keren itu. Nyaris bersamaan, ketiganya melepas kacamata dan memperkenalkan diri.
Jiz kelihatannya yang paling tua. Badannya besar dan berotot, mirip penampilan pengawal pribadi orang penting. Wajahnya cenderung terlihat kotak, dengan rahang tegas, hidung mancung sedikit bengkok, dan bibir penuh. Kulit di atas bibir dan sekitar rahangnya membiru. Mirip milik papaku sehabis bercukur. Rambutnya dipotong nyaris plontos, menampakkan kening lebar yang dapat memantulkan sinar lampu.
Lez yang paling pendek. Meski demikian ia terlihat atletis dan sigap. Wajah Lez panjang dengan rambut lurus gondrong nyaris menyentuh pundak. Sebaris kumis tipis hinggap di atas bibirnya. Hidungnya mancung sempurna. Aku yakin kalau di sekolahku, Lez bakal jadi pentolan ekskul basket dan gebetan banyak rekan perempuan. Gerakannya begitu cepat dan lincah ketika menuju tas yang sudah disiapkan Mary. Sekilas melihat, diantara mereka bertiga Lez adalah seksi sibuknya.
Todd paling tinggi. Puncak kepalanya hampir menyentuh bagian atas bingkai pintu. Ia memiliki mata yang bersinar cerdas, waspada, dan sibuk mengamati segala sesuatu. Todd memiliki wajah tampan dan lembut. Tidak ada kumis atau cambang di wajahnya. Tipe-tipe wajah anak-anak sains. Rambutnya lurus, namun dipotong rapi. Tidak sependek Jiz, juga tidak gondrong seperti Lez. Matanya menatapku seperti melihat obyek praktikum yang super menarik. Risih.
“Kami senang sekali kamu sudah pulih. Sekarang, saatnya membawamu ke markas.”
Jiz memberi isyarat ringan untuk mengikutinya keluar ruangan. Lez mengangkat tas. Todd bergeser keluar ruang untuk memberiku jalan. Aku pamit pada Mary yang berdiri tidak jauh dari kami sambil tersenyum.
“Apakah kita akan bertemu kembali, Mary?” tanyaku.
“Aku tidak tahu. Kita harap saja begitu, tetapi bukan karena kamu terluka lagi,” ucap Mary.
“Kalau begitu, terima kasih atas kesabaranmu merawatku. Maafkan aku yang cerewet dan banyak bertanya. Aku harap kita bisa bertemu kembali dalam kondisi yang lebih baik.”
Tidak ada pelukan. Tidak ada lambaian tangan. Hanya senyum. Entahlah. Mungkin itu bukan bagian dari budaya di tempat ini.
Kami berempat melangkah menyusuri koridor panjang. Langkah-langkah kakiku menghasilkan bunyi tok-tok ketika sol keras beradu dengan lantai logam. Sangat berbeda dengan sepatu mereka bertiga yang seperti sudah dalam silent mode. Mereka terlihat menahan diri untuk menyesuaikan cara jalanku yang masih belum normal dan lambat.
Ternyata, koridor itu memuat setidaknya enam ruangan seperti ruangan yang kutinggalkan. Ada dua kamar yang sedang digunakan merawat pasien lain. Satu diantaranya masih tidur, didampingi alat berbunyi bip. Ruangan yang lain tenang, karena penghuninya sedang tidur lelap.
Tiba di ujung koridor, ada cahaya terang. Itu lebih seperti area transisi antara klinik dengan dunia luar. Aku mengernyitkan mata karena cahaya di ruang itu terang sekali. Rupanya mataku sudah lebih terbiasa dengan redup lampu ruang perawatan dan jendela yang menayangkan suasana kelabu.
Kami meneruskan langkah menuju sejenis tempat parkir. Mereka melangkah menuju sejenis mobil, tetapi tanpa roda. Aku terpaku di depan pintu yang telah dibuka.
“Jangan bilang. Biar kutebak. Di duniamu belum ada alat transportasi seperti ini?” tebak Todd.
Ekspektasiku bahwa dengan mata kepo dan waspadanya, Todd adalah juga sosok introvert dan tidak banyak bicara. Melihat cara bicaranya barusan, aku tahu aku salah. Nada bicaranya ramah. Satu kalimat itu sudah membuatku merasa nyaman dan memutuskan aku akan lebih dekat dengannya dibandingkan dengan Lez apalagi Jiz.
Kuanggukkan kepala.
Todd tertawa. Ia masuk ke jok belakang dan bergeser untuk menunjukkan ia baik-baik saja. Aku duduk di sebelahnya. Pintu otomatis menutup setelah Lez dan Jiz masuk. Lez duduk di belakang kemudi, Jiz di sampingnya. Lez menyalakan mesin yang menderu pelan, nyaris tanpa suara. Kendaraan terangkat. Lez nampak mulai waspada. Jiz dan Todd membantunya dengan memantau beberapa layar sentuh di depan mereka. Gila. Ini mobil canggih juga. Boleh bawa pulang nggak nih?
“Aman hingga radius sepuluh kilometer. Setelah itu lewat di kiri hutan, karena mobil ini tidak bakal dicurigai. Warga di kiri hutan netral,” kata Todd.
Lez mengangguk dan menekan pedal. Kendaraan mulai maju. Perlahan kami meninggalkan arena parkir, lalu menuju sejenis pintu transparan yang bisa ditembus begitu saja. Tiba di luar gedung, mataku langsung menangkap udara kelabu seperti yang bisa kulihat dari dalam ruang perawatan.
Di luar gedung sepi. Rasanya seperti terbang di atas gurun pasir. Bukan berarti aku pernah ke sana sih. Lez mengemudi dengan waspada walau tidak sedikitpun mengurangi kecepatannya yang sangat kencang.
Aku menoleh ke belakang menatap bangunan klinik tempatku dirawat. Mary melambaikan tangan dari balik jendela. Oh, ternyata mereka mengenal lambaian tangan. Dari luar, bangunan kotak berwarna abu-abu itu terlihat kecil. Padahal di dalam terasa lapang. Tidak lama kemudian, bangunan itu menghilang dari pandangan. Padahal aku yakin sekali seharusnya bangunan itu masih nampak.
Ketiga rekan seperjalananku masih sibuk dengan layar masing-masing. Sesekali mereka bertukar informasi jika ada sesuatu yang mencurigakan, sehingga Lez segera mengubah rute. Agar tidak gabut, aku melihat pemandangan di luar jendela. Masih pohon yang nampak hijau, tetapi tidak segar. Langit kelabu dan tanah yang terlihat kering tertutup sesuatu berwarna abu-abu. Rumah-rumah penduduk dibuat berbentuk kotak dengan warna seragam, abu-abu. Warna ini persis warna abu sisa pembakaran.
Beberapa menit kemudian, sebuah bangunan abu-abu muncul di depan kami. Lez menekan sebuah tombol. Pintu besar pada bangunan abu-abu membuka. Dengan terampil Lez melewati pintu. Aku menyebutnya terampil, karena dalam penglihatanku, pintu itu sempit sekali dan tinggi. Tetapi Lez dapat masuk dalam posisi miring dengan mudahnya. Detik berikutnya ia sudah menormalkan kembali posisi kendaraan.
Aku mengernyit sambil berusaha menjauhkan diriku dari Todd. Aku tidak tahu bahwa di mobil ini ada sabuk pengaman. Jadi saat Lez memiringkan mobil, aku jatuh menimpa Todd.
Kami melalui lorong panjang dengan lampu kecil di kanan dan kiri. Kulihat pintu di belakang kami menutup kembali. Rasanya seperti seabad berada di dalam lorong. Syukurlah, akhirnya Lez berhenti dan mendarat di atas sebuah titik pendaratan berbentuk lingkaran. Ini mirip tempat pendaratan helikopter di depan kampus tanteku. Bedanya, yang ini ditopang oleh penyangga tiang tinggi. Ada banyak tempat pendaratan di sekitar. Sebagian terisi kendaraan serupa, sebagian kosong.
Pintu kendaraan membuka. Aku turun. Kusempatkan melongokkan kepala melihat situasi di bawah tiang penyangga. Kosong. Seperti tidak ada habisnya.
“Aku sarankan untuk tidak mencoba mencari tahu sendiri dasarnya,” ucap Todd yang berdiri di sebelahku.
Kuangkat bahuku. Pipiku memanas mengingat kejadian di perjalanan tadi.
“Ada apa di bawah sana?” tanyaku lebih untuk mengalihkan perhatianku sendiri.
“Gua. Tempat kita bisa mendapatkan mineral dan bahan pembuatan berbagai benda.”
“Di tempat kami disebut tambang.”
Todd tersenyum. Ia memasang kembali kacamatanya. Kuikuti ajakan Todd menuju sejalur penghubung dari lokasi pendaratan menuju sebuah pintu. Seberkas sinar memindai kami berempat. Pintu membuka, kami masuk. Sepertinya ini sejenis lift.
“Tidak ada tombol sama sekali?” tanyaku sambil menatap bagian dalam lift.
“Setiap orang memiliki tugas spesifik setiap waktu. Jadi pemindai tahu kamu akan ke mana. Tidak perlu tombol,” jawab Lez.
Kuanggukkan kepala.
Saat pintu terbuka, kami keluar. Kutemukan ruangan lapang, dengan beberapa muda-mudi berseragam berseliweran. Masing-masing membawa berkas atau wajah serius, seolah tengah menangani kasus yang berat. Kami terus melangkah. Di depan sebuah pintu dengan logo sebentuk tetes air, kami kembali dipindai.
Pintu membuka.