SELAMAT DATANG

1059 Kata
Seorang pria seumuran Papaku berdiri menyambut. Ia tersenyum dan mempersilahkan kami duduk di empat kursi yang telah tersedia di depan meja besar. Setelah kami duduk, ia juga duduk di seberang meja. “Kamu menyukai perjalananmu ke markas, Edrea?” tanyanya. Aku senyum. Kuanggukkan kepala. Ini terasa asing, tetapi aku memilih mengikuti dan menunggu saja. Sejujurnya, aku merasa tidak punya pilihan lain. Kusadari atau tidak, posisiku saat ini adalah tawanan. Aku diculik dari tempatku. Aku tidak mengenal tempat ini. Ada baiknya aku tidak banyak ulah. Toh, sejauh ini mereka memperlakukan aku dengan baik. “Panggil Rea, saja.” Ucapku. “Oke. Rea. Aku Tristaz, pimpinan Path 09. Aku yakin kamu sudah berkenalan dengan Jiz, Lez, dan Todd. Ketiga teman seperjalananmu yang merekomendasikan kamu agar bergabung dengan kami. Sayangnya, ada yang menyabotase misi pengambilanmu.” “Sabotase?” tanyaku. “Kamu ingat gempa asing itu?” Aku berdiam. Samar ingatanku kembali. Aku bisa mengingat dua jam pertama perjalanan kami yang lancar ceria sejak berangkat. Mendekati lokasi tempatku jatuh cuaca berubah buruk dan terjadi gempa. Sebenarnya, aku tahu itu bukan hal aneh. Lagipula itu bukan kali pertama aku mendaki Gunung Rigol. Tetapi cerita Tristaz membuatku berpikir bahwa saat ini ada dua pihak yang membuatku jadi bahan perebutan. Mengapa? “Syukurlah kamu masih bisa diselamatkan dan dibawa ke tempat yang aman. Maafkan kami untuk segala ketidaknyamanan. Percayalah, kami memberikan fasilitas nomor satu untuk merawatmu selama kamu tidak sadar. Nutrisi yang kamu dapatkan juga khusus. Semoga itu membantu mengatasi kondisi tidak nyaman akibat perjalanan ke Path 09 yang tidak berjalan sesuai rencana.” Kuanggukkan kepala. Nampaknya itu sudah bukan masalah lagi. Aku baik-baik saja. Tidak ada bekas luka pada tubuhku. Perutku kenyang dan sepertinya berat badanku stabil. Aku hanya tidak tahu aku berada di bumi bagian mana. “Ada yang perlu kamu tanyakan?” tanya Tristaz. “Saya lihat tempat ini sangat berbeda dengan tempat saya tinggal. Sebenarnya ini di Bumi bagian mana? Mengapa tumbuhan, atmosfer, dan tanahnya terlihat berbeda? Path 09, apa itu?” Kukeluarkan deretan tanda tanya yang mengisi kepalaku sejak aku sadar dan bisa berpikir. Tristaz tersenyum. Sepertinya ia tidak kaget dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Ia menekan salah satu sudut mejanya. Rupanya meja datar itu memuat tombol rahasia. Detik berikutnya, muncullah layar hologram yang nampak jelas, tidak tembus pandang, dan menghadap kepadaku. “Kita berada pada Bumi yang sama. Hanya saja, teknologi kuno leluhur kami membuat kalian tidak bisa menemukan keberadaan tempat ini. Sistem yang sama mencegah penduduk kami menerobos dan menyerang kalian. Ketamakan generasi sebelumnya telah membuat sebagian wilayah mengalami pencemaran dan kerusakan parah. Perbuatan mereka menyebabkan tanah rusak sehingga tidak ada lagi tumbuhan yang bisa hidup. Polusi tingkat tinggi membuat atmosfer lokal berubah. Manusia yang masih bertahan hidup tinggal dalam bangunan rumah dengan sistem ventilasi khusus. Demikian halnya dengan air dan makanan kami. Semua hasil sintesis dan daur ulang sebagai dampak ketiadaan bahan baku.” “Jadi benar pohon-pohon itu bukan tumbuhan hidup?” “Ya. Pohon dibuat di pabrik, difungsikan sebagai peneduh dan terapi mata saja. Sedang diupayakan inovasi agar pohon buatan itu bisa menghasilkan oksigen dan air.” “Jika kalian tidak punya sumber daya, dari mana bahan baku membuat air dan makanan kalian?” “Teknologi sintesis kami sudah sangat maju, Rea. Bahan apapun bisa diubah menjadi apapun, seperti tumbuhan yang tetap akan berbuah sesuai kodratnya dimanapun kamu tanam. Kami mengadopsi kemampuan tumbuhan itu.” “Sungguh, itu luar biasa walaupun saya masih tidak bisa melogika bagaimana caranya.” Mereka tersenyum atas pernyataan lugasku. Aku jujur sajalah. Tristaz menggeser layar. Kini muncul gambar gedung tempat kami berada saat ini. Tristaz terlihat bangga dengan apa yang ditampilkan hologram. “Path 09 adalah sekumpulan anak muda yang muak dengan sistem pemerintahan saat ini. Kami bekerja secara independen mengembangkan dunia mandiri untuk menyusun kekuatan. Suatu saat kami akan berjuang menurunkan pemimpin yang tamak dan semakin memperluas kerusakan lingkungan. Kami menginginkan perdamaian di dunia, bukan menyerang wilayah lain lalu mengeruk sumber dayanya. Kami tahu penaklukan itu hanya akan meninggalkan kerusakan parah ketika sumber daya alam dan manusianya sudah habis.” “Apa maksudnya sumber daya alam dan manusia habis?” “Kulihat kamu sudah membaca majalah tentang Erland. Dia penguasa negeri ini. Usianya sudah sangat tua, sebenarnya, tetapi ia punya kelompok ilmuwan yang mengupayakan teknologi mengesktrak kehidupan lain, sehingga generasi tersebut dapat bertahan hidup lebih sehat dan lebih lama.” Aku bergidik mendengarnya. Aku pernah mendengar tentang sel punca sebagai produk yang dipercaya bisa membantu menyembuhkan berbagai penyakit yang diderita individu. Tristaz mengucapkan kata ‘mengekstrak kehidupan lain’ untuk memperpanjang usia seseorang, ini sangat jauh dari apa yang bisa kubayangkan tentang sel punca. Apakah Erland sejenis kanibal berteknologi tinggi? Atau ia seperti Gargamel yang mengekstrak sari Smurf untuk keperluan pribadinya secara sihir? Dunia apakah ini? Aku masih tidak paham. “Tulisan dalam majalah itu menunjukkan sepertinya Erland orang baik,” protesku. “Kalian mungkin menyebutnya pencitraan. Apa yang ditampakkan di media selalu yang luar biasa dalam sisi positif agar penonton terpedaya,” potong Todd. Lez dan Jiz mengangguk. Tatapanku sekilas menangkap tangan Jiz yang mencengkeram lengan kursi. Ini kontras dengan wajahnya yang tetap datar dan menyetujui ucapan Todd. “Apakah kita berbeda jaman atau bagaimana? Saya tidak mengenal teknologi mobil tanpa roda, mandi dengan uap bertekanan, tablet yang membuat kenyang seharian, hingga rias wajah berkonsentrasi tinggi?” tanyaku. Tristaz dan ketiga teman seperjalananku tertawa. “Baik, Todd. Sekarang aku percaya dengan pilihanmu,” sahut Lez. Aku menatap Tristaz hingga ia berhenti tertawa. Apa enaknya menjadi bahan tertawaan di depan matamu, sementara kamu bukan badut. “Maaf, Rea. Bagi Path 09, ketiga teman seperjalananmu adalah aset penting. Mereka menguasai teknologi dan berpandangan jauh ke depan. Situasi kami saat ini memang masih memungkinkan untuk bertahan hidup. Namun bagaimana dengan generasi selanjutnya? Kami tahu tambang yang saat ini menjadi andalan kami bakal habis suatu hari nanti.” Tristaz berhenti sejenak. Seolah ia berusaha memilih baik-baik kata yang paling sederhana sehingga dengan singkat bisa membuatku paham. “Mereka bertiga menyarankan kami melihat dunia luar. Menurut mereka, kita perlu belajar tentang sesuatu yang di duniamu disebut ekologi. Mereka yakin meski lambat, dengan ilmu ekologi itu  kami akan bisa mengembalikan alam sebagaimana mestinya. Suatu saat impian untuk mandiri memenuhi kebutuhan bahan baku akan bisa diraih. Kami tidak perlu menyerang negeri lain hanya untuk mendapatkan bahan baku kemudian menambah luas kerusakan. Itu namanya perdamaian. Todd, lanjutkan.” Tristaz mengambil nafas dalam-dalam. Matanya berkaca-kaca. Ia terlihat sangat emosional.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN