"Mereka yang menemukan keindahan di seluruh alam akan menemukan diri mereka menyatu dengan rahasia kehidupan itu sendiri." - L. Wolfe Gilbert.
“Istirahatlah, Todd. Dia akan membaik, sebaiknya kamu yakini itu,” ucap Mary berusaha menyuruhku pergi.
“Tidak adakah hal lain yang bisa kamu sarankan?” tanyaku.
Mary tertawa pelan.
“Kau sudah tinggal di sini hampir sepuluh hari. Perkembangannya bagus, kamu tahu itu. Mengapa kamu tidak percaya kepadaku?”
“Aku sangat percaya kepadamu, Mary. Kamu tahu itu. Kamu perawat handal di Path 09, kita semua tahu itu. Aku tidak akan pernah lupa bahwa aku pun berhutang nyawa kepadamu. Tetapi dia berbeda. Aku mengambilnya dari dunia itu. Apakah kamu tidak bisa bertoleransi dengan rasa bersalahku nanti jika aku tidak mendampingi dia saat sadar?”
Mary tertawa, kali ini lebih keras.
“Oh, Todd. Akui saja bahwa kamu ingin memastikan dia bertahan, karena dia cinta dalam hidupmu. Hm?”
“Oke. Itu membuat segalanya menjadi sederhana.”
Kami tertawa.
Mary menatap sosok yang berada di ruang perawatan khusus. Dia sudah melewati masa kritis. Dua hari yang lalu dia sudah merespon panggilan kami. Jujur saja, aku ingin bersamanya saat dia benar-benar sadar nanti. Karena itu aku masih bertahan di klinik ini.
“Dia gadis yang sangat beruntung,” gumam Mary.
“Beruntung?”
“Ya. Puluhan gadis penghuni Path 09 mengharapkanmu, Todd. Tetapi kamu memilih dia. Tidakkah itu sebuah keberuntungan?”
“Melihat kondisinya saat baru tiba, menungguinya koma berhari-hari, kemudian kamu tidak mengijinkanku memberikan lebih banyak darah untuknya, membuatku berpikir lagi apakah aku telah melakukan hal yang benar?”
“Kamu berjuang untuk negeri ini, Todd. Tidak ada langkah mundur apalagi balik kanan. Kita harus terus maju. Yakinlah bahwa pilihanmu dan apa yang terjadi ini adalah yang terbaik. Memang yang terjadi tidak sesuai rencanamu, tetapi dia masih bertahan. Pasti bakal ada kejadian seru nantinya.”
“Apa maksudmu?”
“Entahlah. Mungkin hadirnya bayi-bayi generasi masa depan Path 09?”
Kuusap wajah. Bagaimana mungkin dia masih memikirkan itu sementara sosok itu masih belum sadarkan diri?
Tunggu.
“Dia membuka mata?” tanyaku.
Mary sudah hendak masuk ke ruangan itu.
“Tunggu, Mary. Kita lihat apa yang akan dia lakukan. Menurutku, dia belum akan bisa bangkit saat ini.”
“Todd, dia juga manusia. Biarkan aku menolongnya. Dia bisa saja kebingungan dengan kondisinya saat ini. Otak jeniusmu itu perlu berhenti sejenak mengeksplorasi orang lain. Dia bukan bahan percobaan.”
Kuangkat bahu.
Sosok itu kembali diam, tetapi aku yakin sekali dia sempat melihat ke kanan dan ke kiri, seolah memindai lingkungan di sekitarnya. Sesuatu membuatku tenang, karena dia tertidur lagi dengan wajah tersenyum. Benar. Dia tersenyum dalam tidurnya.
“Todd,” panggil Tristaz, pimpinan kami melalui alat komunikasi.
“Ya.”
“Kembali ke markas, Todd. Kami membutuhkanmu untuk realisasi alat pemindai kendaraan bawah tanah.”
“Tidak bolehkah aku tinggal lebih lama di sini? Kirim saja alat, aku bisa kerjakan di sini.”
“Tidak, Todd. Sudah cukup kamu melakukan eksperimen di klinik. Jika terjadi sesuatu dengan eksperimenmu, akan berbahaya bagi pasien Mary. Lagipula ada hal lain juga yang harus kita bicarakan terkait anak-anak baru yang akan segera bergabung. Kamu pikir kita tidak perlu menyiapkan ruang khusus untuk Rea?”
“Yahh, baiklah. Aku paham. Kamu sangat merepotkan, Tristaz.”
“Aku bahagia bisa merepotkanmu, karena jika tidak otak jeniusmu itu menjadi tidak berguna bagi masa depan negeri ini.”
“Hmm.”
Tristaz tertawa lalu mematikan koneksi.
Kuhela nafas berat. Beginilah situasi keseharianku. Aku nyaris tidak punya waktu untuk urusan pribadi. Yah, memang sejak awal bergabung aku berkomitmen mengabdikan hidupku di Path 09. Itu artinya aku kesampingkan keperluan pribadi demi kemajuan Path 09. Itu terjadi setiap hari, berarti sudah berlangsung delapan tahun karena aku ada di Path 09 sejak umurku sebelas tahun.
Tristaz sangat mengandalkanku untuk urusan teknologi, aku tahu. Aku bersyukur untuk kepercayaan itu meskipun berat kujalani. Nyaris semua teknologi komunikasi dan berbagai peralatan kami adalah rancanganku. Aku punya puluhan anak buah yang membantuku di divisi teknologi, namun mereka tidak dalam kemampuan yang baik untuk merancang. Kami sudah pernah mencoba, yang terjadi malah ledakan berbahaya atau alat-alat yang gagal berfungsi. Mengingat kami berpacu dengan waktu, akhirnya semua rancangan diserahkan kepadaku. Mereka yang mewujudkannya.
Selain itu, aku juga menjadi andalan untuk tim menembak. Untuk anak baru, aku melatih mereka dengan panah. Untuk yang sudah cakap, aku alihkan ke senjata otomatis. Satu minggu sekali kami melakukan simulasi perang yang bisa makan waktu seharian. Tidak jarang makan korban luka. Namun melatih strategi itu tetap perlu dilakukan dalam situasi kami yang serba tidak pasti.
“Akhirnya kamu mau pergi, Todd?”
“Kenapa itu terdengar sangat lega?”
Mary tersenyum.
“Aku belum pernah melihat seseorang se-posessif dirimu. Tenang saja. Kamu orang pertama yang akan aku hubungi kalau dia bangun.”
“Selalu nyalakan video, Mary. Aku bisa memantaunya dari markas.”
“Siap, Komandan.”
Kami tertawa. Sekali lagi kulihat gadis cantik yang tengah terbaring tidak sadarkan diri itu. Dia masih tersenyum. Kuharap aku akan melihat senyum itu lagi, yang khusus tertuju kepadaku.
Kusandang ransel milik Rea dan kutenteng sepatu gunungnya.
“Lez, kamu di mana?” tanyaku sambil menyalakan mesin kendaraan tanpa roda. Sambil menunggu sedikit panas, kutata ransel dan sepatu Rea di jok belakang. Saat sudah kupastikan tertata rapi, aku pegang kemudi. Kutarik mendekatiku. Kendaraan terangkat dari tanah. Aku menjejak pedal sehingga kendaraan mulai melaju meninggalkan klinik.
“Aku menunggu di lab, Todd. Aku sudah siapkan alat dan bahan yang kamu perlukan.”
“Oke. Aku dalam perjalanan.”
“Kamu membawanya?”
“Membawa apa?”
“Gadis itu?”
“Dia belum sadar, Lez.”
“Oh, sayang sekali.”
“Kenapa?”
“Aku sudah tidak sabar ingin melihat kalian bersama. Itu akan menjadi momen langka.”
“Para penonton harap bersabar. Ini tidak mudah.”
“Aku sudah selesai menyiapkan ruang khusus untuknya. Kamu bisa melihatnya nanti.”
“Kamu siapkan lemari lengkap?”
“Ya. Hasil rancangan barumu. Kenapa kamu hanya membuat tiga. Aku antri lebih dahulu dari dia.”
“Hey. Kamu tahu di mana aku menyimpan model itu. Kamu bisa mencetaknya sendiri sekarang juga sambil menungguku.”
“Kita sudah lama berteman. Salahkah aku jika berharap hadiah darimu?”
“Bilang saja kalau kamu malas mengerjakannya sendiri.”
“Hey, aku tidak boleh terus-menerus di dalam laboratorium sepertimu. Aku punya tugas lain.”
“Yah, kamu memang seksi sibuk diantara kita. Baiklah. Dua hari lagi kamu bisa pakai lemari pembersih.”
“Hore?”
“Lez, seharusnya kamu berbahagia atas janjiku. Aku manusia yang selalu menepati janji.”
“Baiklah. Hore!”
***
“Fokus saja pada target,” kataku kepada peserta latihan memanah sore itu.
Mereka mengangguk. Satu demi satu melepaskan anak panah logam. Bunyi berdesing mewarnai udara. Salah satu dari mereka berhasil tepat sasaran. Kutepuk bahunya.
“Pertahankan itu. Latih terus otot lenganmu. Kalau bisa seimbangkan antara lengan kiri dan kanan.”
“Boleh kami melihatmu memanah, Todd?” tanya salah satu pemuda.
Kuanggukkan kepala.
Kuambil sebuah busur dan tiga buah anak panah. Kupasang ketiganya bersamaan. Kuposisikan busur horizontal, sehingga aku bisa langsung membidik tiga sasaran.
Kutarik nafas, kemudian kulepaskan ketiga anak panah. Aku tersenyum ketika melihat ketiganya menancap tepat pada tiga sasaran yang masing-masing berjarak satu target. Persis seperti rencanaku.
Mereka bertepuk tangan.
“Cukup untuk hari ini. Sampai bertemu tiga hari lagi.”
Mereka membubarkan diri sambil membereskan busur dan anak panah masing-masing. Beberapa saat kemudian, ruang latihan kembali rapi dan sepi.
Aku melihat monitor kecil di tangan kiriku. Kunyalakan tombol 1, klinik.
Aku tersenyum melihat Rea tengah turun dari tempat tidur. Selama beberapa detik ia berhasil berdiri, namun tidak lama kemudian ia nyaris roboh. Lututnya masih sangat lemah. Dia masih butuh waktu menguatkan otot dan tulangnya lagi.
“Maafkan aku yang tidak bisa mendampingi terapimu. Kuharap aku bisa segera bertemu kembali denganmu,” bisikku.
Kutarik nafas dalam-dalam. Alarmku berbunyi. Tugas selanjutnya memanggil. Ada alat komunikasi yang harus kukembangkan.