(CATATAN TODD) Meninggalkan Rea di kamarnya, aku merasa sebagian diriku tertinggal. Masih terbayang senyum yang senantiasa dia berikan setiap kali kami berpisah. Perasaan ini begitu indah. Sekarang aku mengerti mengapa Lez begitu kelimpungan saat Mey, gadis yang disukainya, memilih bersama pemuda lain. Bagus saja karena di depan semua orang Rea mengakui kalau dia bersamaku. Kulangkahkan kaki menuju kamarku di lantai teratas, tidak jauh dari menara pengintai. Selain laboratorium, di sanalah aku mengamankan segala peralatan pribadi. Kamar itu pula tempatku meletakkan semua kamera pengintai yang tidak diketahui teman-teman yang lain, termasuk kamera di berbagai bagian kamar Rea. Aku lepaskan seragam lalu menyegarkan diri di kamar mandi. Di mataku, terbayang sosok Rea yang berdarah-darah

