Kuikuti langkah kaki-kaki panjang Todd menuju pintu bergambar tetesan air. Aku bisa merasakan ketiga pasang mata masih mengikuti kami. Todd mendorong pintu dan menahannya hingga aku lewat. Kemudian ia menjajari langkahku. “Aku akan menunjukkan isi gedung ini, kemudian kita ke tempat tinggalmu,” jelas Todd. Kuanggukkan kepala. Sejujurnya, kepalaku terasa kosong. Aku masih merasa semuanya dikuras habis oleh kenyataan bahwa aku masih hidup, aku tidak tahu tengah berada di mana, dan jelas aku tidak bisa pulang tanpa bantuan mereka. Kugelengkan kepala. “Kamu baik-baik saja? Kalau kamu terlalu lelah atau merasa tidak enak badan, kita bisa langsung ke kamarmu. Tur bisa lain kali saja.” “Tidak, Todd. Lanjutkan saja. Aku tidak ingin nantinya terbangun dari tidur, kemudian keluar kamar dan meras

