A Good People

1333 Kata
Sore itu, mereka beristirahat. Cyrene membeli es krim di mini market, sementara Carden menunggu saja di depan. Matanya awas melihat iblis yang berkeliaran. Ada yang hanya mengikuti, ada pula yang sudah merayu-rayu tanpa disadari oleh sang korban. Ada juga hantu kecil yang berkeliaran tak tentu arah. Tetapi, ada banyak juga yang hanya bisa dia lihat. Seperti sosok kebaikan seperti dirinya. Menjaga para manusia dari godaan sang iblis. Manusia-manusia yang hatinya kuat akan Tuhan. Bel pintu toko terdengar, Carden menoleh dan mendapati gadis manis itu tersenyum padanya menunjukkan es krim yang sedang dia makan. “Ayo!” katanya. Mereka berdua pun kembali berjalan menyusuri kota yang mulai temaram. Tudung jaket Cyrene tidak pernah turun ketika berada di tengah kota seperti ini. Bukannya dia takut akan hujatan, justru dia takut membuat orang lain kelelahan karena takut padanya. Meski di satu negara ini tidak semua orang mengenalnya. Karena ada saja yang tidak percaya dengan keberadaan iblis maupun pembasmi iblis seperti mereka. Itu lebih baik daripada membuat mereka selalu dihantui ketakutan dan membuat pekerjaan para iblis itu lebih mudah lagi. Hari semakin gelap. Lampu-lampu jalan sudah menyala, cahaya oranye memenuhi jalan yang digelapi langit malam. Jalanan Shibuya yang setiap hari ramai, tetap padat walah matahari telah berganti malam. Mereka berhenti di pinggir penyeberangan jalan bersama kerumunan lain. Sebuah papan televisi di atas gedung menyiarkan berita mengenai kondisi salah satu anggota DPR yang kemarin dirasuki oleh Kuxin. Kini keadaannya sudah membaik di rumah sakit. Sudah bisa membuka mata meski masih dalam keadaan linglung dan tidak sulit merespon orang lain. Kemudian ada video amatir yang ditampilkan dengan narasi dari sang pembawa berita. Meski suaranya samar-samar karena keramaian jalan. Semua orang berfokus pada layar itu. Semua orang membelalak dan terperangah, tak terkecuali Cyrene sendiri yang berhenti menjilati es krimnya. Dia biarkan es itu meleleh di tangannya. Video amatir yang menunjukkan adegan di mana sang iblis berubah menjadi besar, lalu sosok Crimson terlihat menyerang Visco, salah satu anggota pembasmi dari kubu Whale. Lalu, adegan dipotong sampai ketika iblis itu hancur berkeping-keping menjadi abu tanpa memperlihatkan sosok Crimson. Kamera itu bergoyang menunjukkan wajah Visco yang penuh luka menatap lurus ke arah iblis di depannya. Lalu, sosok Crimson mendekatinya lagi dan menarik kerah baju Visco sampai dia mendorong tubuh lelaki itu hingga terseret jauh menabrak tiang listrik. Semua orang yang melihat itu langsung berbisik dan memaki gadis bernama Crimson di dalam tayangan tersebut. Hingga video ditutup oleh pemandangan Visco yang tak berdaya di bawah tiang listrik itu. Kemudian tayangan kembali ke studio berita. “Gila! Ternyata benar, ya. Dia itu iblis!” “Kejam sekali, padahal anggota Whale sudah di sana, tapi kali lihat tidak tadi? Tidak hanya pria besar itu yang kewalahan, ada dua lainnya yang sudah tumbang.” “Oh, iya aku lihat tadi sekilas. Lalu, siapa yang membunuh iblis raksasa itu?” “Tentu saja pria besar dari Whale itu, dia hanya diam di sana menatapnya, dan iblis pun hancur. Kelompok Whale itu jauh lebih kuat dari pada Dolphin.” “Ih, mengerikan juga ya itu perempuan. Apa masalah dia mengacau di sana?” “Tapi, untung saja anggota DPR itu selamat berkat Whale.” Lampu hijau untuk orang menyeberang pun menyala. Orang-orang itu masih membicarakan berita tadi dan merutuki sosok berambut merah yang tanpa mereka sadari ada di antara mereka berdiri tadi. Cyrene mengangkat kakinya untuk melangkah, sembari kembali menjilati es krimnya. Carden yang sedari tadi diam juga mulai memakai topi hitamnya dan merangkul tubuh gadis itu. Mereka berjalan seolah sepasang kekasih yang sedang menikmati kencan. Karena di depan mereka ada yang menyadari kejanggalan dari Cyrene yang terus menunduk memakan es krimnya. Sampai di seberang jalan, Carden membungkuk dan menjilat es krim yang digenggam Cyrene tadi. Lelehan di jemarinya pun ikut dijilat olehnya. Bola mata Cyrene membesar. “Carden, kau tidak perlu melakukan ini!” hardiknya berbisik. Lalu, mata mereka bertemu. Kilatan keemasan milik pria tampan itu menusuk jiwa Cyrene yang kalut. “Tersenyumlah.” Mendengar itu, Cyrene malah meneteskan air mata walau tidak mau. Namun, kemudian dia pun menarik senyumnya dan menghapus air mata dengan kasar. Setelah itu mereka pun kembali berjalan menghindari kerumunan. Hati Cyrene merasa begitu tentram setelah melihat tatapan Carden padanya. Seperti ada angin surga yang menyejukkan hati. Seolah tidak hanya dia yang bersamanya, tapi Tuhan juga. Malam semakin larut. Mereka tidak menemukan iblis yang menganggur, semua sudah ditangani oleh para pembasmi sesuai tingkatannya. Lalu, Cyrene berhenti, Carden ikut berhenti dan menoleh ke belakang. Dia memandangi gadis itu yang tengah membungkuk memohon maaf pada seseorang yang tak sengaja dia tabrak. Orang itu pun tersenyum dan ikut membungkuk. “Hati-hati, kamu sendirian? Berbahaya berjalan di gang ini sendirian,” kata orang itu. Cyrene malah terpana dan tidak tahu harus menjawab bagaimana. Mereka saling berpandangan, tapi kemudian dia mengalihkan pandangan. “Aku baik-baik saja. Terima kasih, dan maaf.” Lalu dia berjalan mendekati Carden. Pria itu memperhatikan gadis pekerja di hadapannya yang kebingungan. “Oh, dia bersamamu?” tanyanya dengan suara lemah lembut. “Ya, Anda baik-baik saja?” tanya Carden balik. “Tidak masalah, hanya kopi yang sedikit tumpah di pergelangan kemejaku. Kau kakaknya? Kekasih? Jaga dia dan cepat pulang. Dia pasti tidak nyaman berada di kerumunan.” Cyrene terperangah. Dia pun maju ke hadapan Carden dan membuka tudungnya. “Kau tahu siapa aku?” Wanita itu tersenyum lalu mendekat. Tangannya terangkat dan mengelus rambut merah Cyrene. “Aku baru pertama melihatmu dari dekat, rupanya gadis yang ditakuti itu sangat cantik dan … baik hati. Aku tahu ini pasti sulit untukmu, Crimson. Aku tahu tentangmu dari rekan-rekan kerjaku, dna tadi sore aku melihat beritamu di televisi. Aku yakin ada alasan di balik kau melakukan itu. Dilihat dari tatapanmu, kau bukan orang yang berhati dingin.” Cyrene pun bergeming. Sebenarnya ada sesuatu yang lain yang dia lihat dari wajah wanita baik hati itu. Sebuah cahaya menyinari tubuhnya. Lalu bayangan senyuman sang ibu terlintas di kepalanya. Senyuman wanita itu sangat lembut seperti ibunya ketika dia mengadu mengenai pembulian di sekolah. Tak lama, wanita itu pamit dan pergi meninggalkan mereka berdua. Meninggalkan Cyrene yang terenyuh. Sudah bertahun-tahun sejak kematian orang tuanya, hatinya memang dingin, dingin karena kebaikan menjauh darinya. Hanya Carden yang bisa menghangatkannya kembali, walau itu tidak pernah cukup untuk terus membuat hatinya membara dengan kebaikan di dunia yang telah meninggalkannya. Dua sejoli itu kembali berjalan dan memasuki sebuah gang besar. Beberapa wanita berpakaian seksi mulai mengerubungi Carden dan menawari jasa mereka sampai hendak menyeretnya masuk ke sebuah bangunan yang temaram. Pria itu langsung menangkis dan menyapu beberapa iblis khusus di dekatnya. Iblis penggoda. Hanya tim King yang bisa mengusirnya selain mengurusi iblis tingkat dua dan satu. Beberapa wanita itu mundur dan merutukinya karena berlaku kasar. Padahal yang Cyrene lihat, pria itu mengempaskan iblis penggoda di sekitar mereka, bukan mengempaskan tubuh mereka. Carden terus berjalan dengan acuh dan terlihat sangat serius di jalan menuju ke sana sebuah gang yang lebih kecil. Cyrene pun merasakannya, mereka berbelok di sebuah gang antara gedung tempat karaoke dan bar. Seorang wanita malam yang teler berdiri lemas di pojokan, tetapi masih berusaha untuk pergi dari sana. Wajahnya dipenuhi dengan ketakutan. Ada bayangan besar yang menghalangi jalannya. Bayangan berbentuk sekumpulan tangan telah menggerayangi tubuh wanita tersebut. Dia meminta tolong, tetapi suaranya hampir tidak keluar. “Rorkuxin!” teriak Carden melempar cahaya yang keluar dari telapak tangannya. Cahaya itu terlempar di sepanjang gang dan menembus tubuh sang iblis dan melepaskan wanita yang terikat tersebut. Bayangan itu membara dan sempat hendak kabur. Cyrene langsung berlari merebut sang wanita dan mengamankannya. Sementara Carden berusaha menangkapnya dengan tangan kosong. Iblis itu pun tidak bisa lagi menutupi sosoknya dengan bayangan. Makhluk itu berubah menjadi iblis hitam dengan satu tanduk dan segala tulisan aneh di sekujur tubuhnya. Tubuhnya dalam keadaan lemah, tidak besar, tapi sedikit membungkuk. Lengannya panjang dengan rambut berapi-api dan lidah terjulur panjang sampai kaki. Bahkan ada bekas rantai yang mengikat pergelangan tangan, kaki, dan lehernya. Namun, ada tanda 1 di dahinya yang menyala-nyala. Cyrene sendiri baru pertama kali melihat sosok Rorkuxin yang sesungguhnya tanpa penyamaran lain. Dirinya membeku di tempat sembari merangkul tubuh wanita yang ketakutan barusan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN