Practice Makes Perfect

1601 Kata
“Biksu Roku!” panggil Carden melangkah dengan hati-hati di atas kertas jimat yang berserakan. Cyrene hanya mengekor, tetapi dia berhenti di depan senjatanya dan menemukan tiga tetes darah di bawah sana. Kemudian dia menatap Carden, pria itu pun telah melihatnya dan hanya bergeming. Dia kembali memanggil nama biksu itu sampai ke ruangan belakang yang tertutup. Ketika pintu dibuka, biksu itu terlihat terkapar di atas meja tulisnya. Carden segera mendekat dan mencoba membangunkan biksu tua tersebut. “Ugh, Carden?” tanyanya sedikit berbisik. Pria itu menghela napas lega dan membantu sang biksu untuk duduk bersandar ke kursi lesehnya. Tubuh biksu itu sangat lemah. “Anda baik-baik saja?” tanya Carden. Biksu itu mengangguk. “Aku hanya kelelahan, energiku tidak seperti dulu ketika masih muda, hehe ….” Cyrene yang tiba ke dalam hanya bisa prihatin mendengarnya. Biksu Roku masih saja bisa bercanda. “Ah, Crimson. Ini, pelajarilah buku ini. Aku sudah menulisnya selama beberapa tahun terakhir untuk kuberikan padamu.” Biksu Roku menyerahkan buku yang cukup tebal di atas mejanya. Cyrene langsung menaruh senjatanya di bawah dan bersimpu untuk menerima buku tersebut. Dilihatnya sebentar apa yang tertulis di dalam sana. “Itu adalah ilmu-ilmu yang selama ini kupelajari. Kemarin aku mengatakan akan menyerahkan kekuatanku padamu. Kau pelajarilah dulu, nanti siang kita bisa mulai berlatih di belakang kuil ini,” lanjut biksu Roku. Cyrene pun mengangguk kemudian pergi ke belakang kuil untuk membaca buku tersebut. Carden dan sang biksu masih membahas sesuatu di dalam sana. Cyrene mencoba memperagakan teknik yang diajarkan di buku itu. Hanya butuh dua puluh menit, dia sudah bisa menghafal setengahnya. Carden dan biksu Roku datang. Pria tinggi itu pamit karena perlu mengurus sesuatu di luar. Kini tinggal biksu Roku yang sudah tua itu bersama Cyrene di belakang kuil. Sang biksu duduk di pinggir engawa-nya. Dia meminta gadis itu mulai menunjukkan teknik yang sudah dia pelajari barusan. “Tidak perlu buru-buru, kita masih punya banyak waktu,” katanya. Cyrene tersenyum tulus. “Terima kasih, Biksu. Tapi, lebih cepat lebih baik. Aku akan berlatih setiap hari.” “Katanya kau sudah bisa menggunakan teknik ayahmu, Measurement Seal?” “Ya, belum bisa kukendalikan. Karena aku mencobanya pertama kali pada Pak Ayase. Jiwanya sudah hampir habis dimakan oleh Donyaku yang berkembang berkat Kuxin.” “Hmm, separah itu, ya.” Cyrene hanya bergeming. “Kau sudah berkembang pesat. Itu patut diapresiasi, Crimson. Jangan menganggap dirimu lemah bahkan terkutuk. Tidak ada bayi yang ingin terlahir dengan keburukan. Semua sudah takdir Tuhan,” lanjut Biksu Roku yang terus memilin tasbihnya di tangan. “Anda benar. Tetapi, adakah cara yang bisa benar-benar memusnahkan Ozzazin?” Bola mata Cyrene berkilat. Biksu Roku menatapnya dengan pandangan teduh. “Ada.” “Bagaimana? Tolong ajarkan aku!” pinta Cyrene yang langsung bersemangat mendekat ke hadapan biksu itu. “Oleh tangan Tuhan. Hanya Dia yang bisa memusnahkan semua makhluk di bumi dan alam semesta.” Gadis itu langsung lemas mendengarnya. “Kita hanyalah manusia dengan segala keterbatasannya, Crimson. Kita hanya bisa berupaya dan mencegah. Iblis itu adalah makhluk hidup yang menyeimbangkan kehidupan. JIka dia musnah, maka akan ada lagi keturunannya. Mereka tidak akan pernah benar-benar habis.” Kemudian biksu Roku menunjuk ke dalam hutan yang cukup lebat di belakang Cyrene. “Kau pasti melihatnya, di luar kawasan kuil ini, ada begitu banyak hantu dan iblis. Tetapi, tak semuanya kalian basmi, bukan? Ada yang memang dibiarkan karena tidak berbahaya, atau memiliki peran penting dalam ekosistem dunia.” Cyrene menatap jauh ke hutan yang rimbun. Ada hawa tak enak di sana serta mata-mata yang menyala menatap kemari. “Tapi, ada cara supaya iblis di dalam tubuhmu tidak mengamuk. Itu ada di halaman terakhir. Kau hanya perlu mempelajari dari awal halaman. Kelak, kau akan tahu bagaimana mengakhiri semua ini.” Gadis itu tampak serius dan mengeratkan giginya. Genggamannya pada Halberd di tangan pun semakin erat. Darahnya mulai memanas, jantungnya berderu, seperti ada semangat membara akan tantangan yang segera datang. Tanpa dia sadar, senyumnya terbentuk. *** Carden menemui Hyusa di rumah sakit, tempat Ayase dirawat. Pria berambut putih panjang itu membungkuk mendapati pria tinggi berambut keemasan itu masuk ke kamar rawat. Carden berhenti di pinggir ranjang. “Pak Ayase?” Dia menatap Ayase yang duduk termenung menatap keluar jendela. Pria paruh baya itu tak menanggapi kehadirannya. “Sejak dia sadar kemarin, kondisinya masih seperti ini. Kata dokter dari Clam, jiwanya hampir termakan habis. Jadi, pria itu seperti mayat hidup. Kalau terlambat sedikit saja, dia bisa mati,” jelas Hyusa. Lalu, seketika pintu dibuka dengan kasar. Seorang perempuan yang terlihat tak jauh umurnya dengan Ayase itu menyerbu masuk dengan wajah marah. Gayanya yang elegan dengan tas dan pakaian branded serta dandanan menor, membuatnya semakin terlihat menyeramkan. Lalu, salah satu pemuda berseragam sekolah menengah atas ternama mencoba untuk menahannya. “Kau! Kalian dari Dolphin, kan?! Di mana gadis terkutuk itu?!” teriak sang wanita. Lengan wanita itu terangkat hendak memukul tubuh Carden, tetapi Hyusa maju menghalangi, dan tangan itu tertahan oleh pemuda yang menahannya sedari tadi. “Ibu, hentikan! Ini bukan salah mereka!” bentak sang pemuda. “Maaf, ada urusan apa Anda dengan kami dan … gadis itu?” tanya Hyusa berusaha tetap sopan. “Tak usah pura-pura tak tahu! Gara-gara dia muncul, para Whale malah kewalahan dan tak bisa benar-benar menyelamatkan suamiku! Kalian ada di sana, bukan? Kenapa kalian membiarkan gadis busuk itu berlaku seenaknya?!” “Ibu!” Pemuda itu terus menghalangi ibunya untuk tidak mengamuk pada dua pria tampan di depannya. Kemudian dia berbalik dan membungkuk pada Carden juga Hyusa. “Maafkan ibuku, dia hanya menonton berita tanpa mencari tahu kebenarannya. Aku yakin, kejadian sebenarnya tidak hanya itu, bukan?” Kedua pria tinggi itu diam. Carden membuka mulutnya untuk bicara, tak disangka suara Hyusa lebih dulu keluar. “Tentu saja! Gadis itulah yang menyelamatkan ayahmu, suamimu, Nyonya!” hardik Hyusa. “Cobalah untuk melihat semuanya, jangan setengah-setengah!” Ada kemarahan di balik nada Hyusa yang ditahan serendah mungkin. Kemudian sang wanita pun berhenti dengan tatapan heran dan masih terlihat tidak suka. “Ck, kalian hanya membelanya karena kalianlah yang memeliharanya. Sekarang bagaimana dengan suamiku? Apa kalian bisa mengembalikannya seperti semula?” “Nyonya,” Kali ini Carden yang bicara, “suamimu menjadi begitu karena kerasukan Donyaku. Anda tahu kenapa? Bukankah Anda istrinya? Donyaku adalah iblis yang menyukai kekuasaan, apakah suamimu menginginkan kekuasaan lebih, atau bahkan melakukan korupsi demi kebahagiaanmu?” Wanita itu tercekat. Sang pemuda pun menunduk, tetapi suaranya perlahan terdengar. “Ayah … dia sangat menginginkan jabatan presiden tahun depan.” “Hentikan, Aru! Kau mempermalukan ayahmu!” bentak sang ibu memukul kepala pemuda itu. “Jangan begitu, Nyonya!” hardik Hyusa mencoba menarik tubuh pemuda itu ke dekatnya. Pemuda yang dipanggil Aru itu meringis dan mulai mengangkat wajahnya, terlihat ekspresi yang penuh dengan kemarahan di sana. “Ayahku itu b******k! Dia menggelapkan dana masyarakat, dia mengambil uang mereka, dan memberikannya pada ibu untuk membeli abrang-barang mewah. Ibu jugalah yang membujuk ayah untuk mencari cara agar satatusnya jadi lebih tinggi untuk mendapat lebih banyak uang! Ayah yang mudah terhasut pun jadi gelap mata, dan mencari cara kotor untuk naik jabatan! Dia seperti kerasukan setiap pulang kerja.” “Aru! Kau benar-benar anak durhaka!” teriak wanita itu. Carden dan Hyusa hanya bisa menghela napas pasrah. Mereka semua melihat ke arah Ayase yang masih termenung dengan tatapan kosong ke jendela. Jiwanya benar-benar menghilang. “Terima kasih kau sudah jujur, mulai sekarang, jagalah ibumu. Jangan sampai kau mengalami hal yang mengerikan ini. Tetaplah di jalur kebaikan dan percaya pada Tuhanmu,” ucap Carden mengelus kepala Aru. Pemuda itu pun mengangguk, air mukanya sudah terlihat tenang. Sementara sang ibu masih enggan meminta maaf dan berlaku tenang, dia masih saja menyalahkan dua lelaki itu. “Nyonya, jika kau seperti ini terus, Donyaku itu akan melahapmu. Apa kau tidak menyadarinya?” tanya Hyusa menunduk menatap wajah wanita itu dari dekat. Wanita itu mundur satu langkah dengan wajah panik. “A-apa maksudmu?!” Hyusa menegakkan badan dan menatap ke belakang tubuh wanita itu. “Dia sudah mengikutimu sejak awal, mungkin sejak kau mempengaruhi suamimu. Kau hanya perlu menunggu waktu.” Refleks wanita itu menoleh ke belakangnya. Dia hanya melihat pintu kamar yang terbuka ke koridor rumah sakit. Wajah wanita itu menegang, keringatnya mengalir menatap pandangan Hyusa yang sedingin es. “K-kau bercanda, kan?” “Bukankah tuan Carden sudah menjelaskan barusan? Donyaku itu menyukai kekuasaan, dia akan mendatangi orang yang serakah akan status, kekuasaan, harta. Bagaimana menurutmu, Nyonya, apa aku berbohong?” Tubuh wanita itu bergetar dan lututnya lemas, sampai dia terduduk di lantai. “To-tolong, aku tidak mau jadi seperti suamiku!” Tatapannya memelas menatap Hyusa. Aru menghampiri ibunya dan memeluknya. “Tenanglah, Bu. Aku yakin mereka akan menolongmu, tapi kau harus berhenti menjadi egois dan gila harta. Tolonglah, Bu. Dengarkan aku kali ini.” “Aru … tapi, ibu-ibu di kompleks--” “Berhenti memikirkan itu! Kau mau dimakan oleh iblis atau mau hidup?!” bentak Aru kesal. “Kau ini kurang ajar ya, pada orang tua!” ucap ibunya tak kalah membentak dan memukul kepala anaknya. Aru bangkit dan melangkah keluar. “Kalau begitu, urus dirimu sendiri. Aku sudah cukup dewasa untuk membantumu, tapi kau selalu dipenuhi keserakahan!” “Aru!” Pemuda itu pergi meninggalkan sang wanita bersama Carden dan Hyusa. Kedua pria itu pun pamit untuk pergi dari sana, meninggalkan wanita itu menangis sendirian. “Kenapa kau tidak membantunya? Biasanya kau melakukan itu walau sejahat apa pun orang itu,” kata Hyusa di perjalanan mereka keluar rumah sakit. “Terkadang, ada kalanya orang itu harus mengubah keburukannya sendiri. Barulah seseorang membantunya. Dia masih sanggup berdiri, berjalan, masih sanggup hidup dengan lebih baik. Waktunya masih panjang.” Hyusa hanya mengangguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN