Kill Yourself

1208 Kata
Malam itu, Cyrene tidak bisa tidur di kamarnya. Suasana begitu hening di rumah itu. Pikirannyalah yang ramai dengan kenangan masa lalu. Suara ibunya yang memanggil untuk makan, mandi, bersiap ke sekolah. Lalu dirinya yang masih kecil itu menyahut dengan malas, kadang penuh antusias ketika makanan telah tersedia. Begitu pun sang ayah yang selalu melempar senyum dan candaan. Rumah ini dulunya ramai dengan canda tawa. Meski ayah dan ibunya selalu bertugas keluar tak mengenal waktu, ketika mereka di rumah, mereka akan mendedikasikan waktunya untuk keluarga. Meninggalkan peran pembasmi iblis terbaiknya di luar. Cyrene kecil kadang terbangun di tengah malam ketika ayah dan ibunya dipanggil untuk bertugas keluar. Dirinya hanya bisa mengintip dari jendela kamar yang mengarah ke selatan rumah, melihat ayah dan ibunya pergi menjauh bersama beberapa orang lainnya yang berseragam sama. Cyrene kecil selalu mendoakan kedua orang tuanya agar cepat kembali dalam keadaan baik-baik saja. Dirinya begitu bangga pada kedua orang tuanya yang sangat hebat dan selalu kompak bersama. Sampai akhirnya dia mendapat pembulian di sekolah, senyum ibunya perlahan menghilang. Air mata Cyrene turun lagi di pipinya sampai membasahi bantal yang dia tiduri. Gadis itu menutup mata dan memilih untuk melupakan semuanya dan berharap ini semua hanya mimpi. Setiap kali dia terlelap, selalu itu yang dia harapkan meski sampai detik ini, dia masih saja berada di dunia yang sama. Tiba-tiba dia membuka matanya lagi. “Apa kali ini aku benar-benar mati saja? Besok … ketika aku mengambil Ozzoroi, baiknya aku langsung melakukan itu,” bisiknya pada langit-langit kamar yang gelap. Namun, dia melirik ke pintu kamarnya yang tertutup. Carden ada di ruang tengah, dia tidak tahu pria itu tidur atau terjaga. “Dia pasti tidak akan membiarkanku melakukan itu. Tapi, itu satu-satunya jalan, bukan?” gumamnya lagi. Akhirnya dia pun kembali memejamkan mata. *** Kelopak mata pemilik panggilan Crimson itu terbuka secara tiba-tiba. Napasnya berat. Tubuhnya tertelungkup, dia pun bangkit perlahan dan memijit lehernya. Aroma masakan yang masuk dari sela-sela pintu terhirup hidungnya. Kakinya turun dan melangkah keluar. Dia pergi ke ruangan sebelah, di mana dapur berada. Tampak pria tinggi itu sudah berpakaian rapi sedang memasak sesuatu. Cyrene mengulas senyum di bibirnya. Dia pun mendekat dan memperhatikan Carden memasak daging panggang dengan telaten. “Terima kasih, kau selalu berdiri untukku. Padahal kau bisa mengabaikanku dan melanjutkan tugasmu sebagai pemimpin kelompok.” Perkataan Cyrene tak ditanggapi oleh Carden. Pria itu sibuk membalik daging dan memberi sedikit cairan kecokelatan di atas dagingnya yang telah matang itu. Dia berbalik dan menuang dagingnya di atas piring yang sudah berada di atas meja. Gadis itu terus memperhatikan dengan saksama. Rambut panjangnya yang digerai itu sedikit berantakan karena tidurnya yang terlalu pulas. Dia pikir dia tidak akan bisa tidur malam itu. Piyama kepala kelincinya juga masih menutup tubuhnya yang mungil. Karena Carden tak kunjung menanggapi perkataannya, dia pun pergi ke kamar mandi. Di dalam sana, Cyrene berdiri tepat di depan cermin wastafel. Bola matanya terpaku, cermin itu tidak menunjukkan bayangan dirinya. Ada sosok makhluk tinggi kurus berwarna hitam, di sekitar tubuhnya ada asap-asap yang mengepul. Terlihat kawat berkarat di lehernya. Lidah terjulur penuh air liur. “Mati … matilah bersamaku ….” bisiknya. Namun, Cyrene hanya bergeming. Dia pun melepas seluruh pakaiannya dan mulai menyalakan shower untuk mandi dengan cepat. Makhluk itu mengikuti di belakangnya dan terus mengatakan “mati”. Selang beberapa menit, gadis itu pun keluar dengan pakaian yang sama. Rambutnya yang basah dililit dengan handuk. Kakinya berjalan menuju meja makan. Semua sudah siap, Carden tengah menuangkan air mineral di gelasnya. Cyrene pun duduk di hadapan pria itu dan mulai mengambil sumpitnya. “Selamat makan!” serunya. Carden masih diam menikmati sarapan yang dia buat sendiri itu. Di atas piring Cyrene, dagingnya sudah dipotong kecil-kecil. Dia hanya perlu melahapnya satu persatu dengan sumpit. Sesekali dia mencocolnya ke dalam saus. “Mati … matilah bersamaku … sekarang. Ayo!” Makhluk itu terus berbisik di belakang tubuh Cyrene. Dia tetap mengabaikannya dan terus makan. Kali ini Carden menatap ke arahnya tanpa berkedip. “Matilah bersamaku … gantung diri … putus nadimu … ssshhh … bunuh … dirimu.” Keheningan itu tak lagi damai, bisikan itu terus terdengar di telinga Cyrene. Pria itu tidak bisa berkata apa-apa. Wajahnya datar memperhatikan Cyrene yang santai melahap habis makannya. “Terima kasih makanannya, aku kenyang!” serunya menaruh sumpit di atas meja. Kemudian dia meneguk habis air mineral di gelasnya. “Mati … mati … bunuh dirimu ….” Cyrene pun menoleh pada makhluk itu, tanpa sadar bola matanya memerah. “DIAMLAH MAKHLUK RENDAH! KAU MEMBUATKU MUAK!” Lalu tangan kanan Cyrene mencekik leher makhluk itu dan membakarnya sampai habis. Carden terpaku menatapnya karena suara yang keluar dari mulutnya bukanlah suara lembut Cyrene, melainkan suara besar yang menggema di seantero ruangan. Setelah itu, Cyrene menatap Carden lurus. Bola matanya masih merah dengan sunggingan senyum di ujung bibirnya. Tak lama, wajahnya merengut seperti sedang melawan sesuatu di dalam tubuhnya. Napasnya tersenggal. “Arrgh, kau … masih sangat kuat rupanya,” katanya sebelum bola matanya kembali berubah jadi ungu keabuan. Cyrene terbatuk-batuk dan napasnya tercekat seperti habis berlari jauh. Perlahan dia menatap Carden dengan perasaan cemas. Pria itu masih bergeming. Cyrene pun bangkit dan berdiri hendak masuk ke kamarnya. “Kau …,” Carden mulai bersuara, “harus berjuang lebih kuat lagi, Cyrene. Jangan menyerah, ini kali pertama dia berhasil keluar seperti itu secara tiba-tiba.” Cyrene yang kini bergeming. Dia menyadari itu, ketika kesadarannya diambil alih, dirinya merasa kehabisan tenaga di dalam sana. “Dia menjadi lebih kuat karena kamu hendak menyerah, bukan? Makhluk bunuh diri itu muncul semalam. Apa kau memikirkan untuk lebih baik mati? Itu bukan solusi.” Cyrene pun menghela napas dan mengangguk mengerti. Lalu, dia kembali ke kamarnya dengan langkah gontai. Dengan cepat dia berganti pakaian dan mengeringkan rambut panjangnya. *** Mereka pergi ke kuil Kinishi menggunakan taksi karena hari masih pagi. Sepanjang perjalanan, Cyrene diminta untuk memfokuskan diri, saat berlatih, harus bisa menggunakan skill barunya. Keduanya tiba di bawah tangga kuil yang cukup tinggi. “Kau hanya perlu berjuang untuk menahannya dalam tubuhmu. Semakin dekat waktunya, akan semakin besar pula kekuatannya. Maka, kamu pun harus jauh lebih kuat darinya.” “Aku mengerti, ini adalah tubuhku, setidaknya kalau aku tidak bisa memusnahkannya maka biarkan dia tetap di dalam tubuhku. Begitu, bukan?” “Kasarnya seperti itulah yang diharapkan klan Kama. Namun, para Whale akan terus menentangnya, mereka akan berusaha untuk membunuhmu.” Cyrene terdiam. Berkat berita yang waktu itu, pasti kebencian semua orang akan bertambah pula padanya. Kelompok Whale akan lebih diuntungkan. Apakah klan Kama bisa bertahan? Hanya gara-gara aku. Kalau begitu, aku yang harus mempertahankannya. Pasti itu yang akan dikatakan oleh ayah dan ibu. Langkah mereka berhenti di depan pilar merah depan kuil yang cukup besar itu. Lahannya yang luas tampak bersih. Cyrene mulai merasakan kekuatan yang besar dari dalam kuil itu. Dirinya berjalan lebih dulu memasuki kuil yang tidak terkunci. Tubuhnya membungkuk untuk memberi salam ketika pintu digeser. Matanya terbelalak melihat pemandangan menyeramkan dari dalam kuil itu. Ruangan yang remang tanpa lampu, hanya cahaya matahari yang masuk dari sela-sela jendela kayu. Banyak kertas-kertas jimat menempel di dinding. Tali-tali merah yang berantakan menggantung dari langit-langit. Hallberd milik Cyrene masih bertengger dengan tenang di tengah ruangan. Senjata yang dipenuhi aura kegelapan. “Apa yang terjadi?” tanyanya ketika Carden melangkah masuk mendahului Cyrene.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN