“Jadi, kenapa dia kembali kalau hanya kembali mengacau?”
“Aku dengar, mereka tengah mempersiapkan sesuatu. Gadis itu harus ada di sini.”
“Maksudnya? Mempersiapkan apa? Apa gadis itu akan dikorbankan demi keselamatan dunia?”
“Tidak tahu, tapi tiga kelompok itu tampak lebih tertutup dari sebelumnya.”
“Aku rasa bagus kalau gadis itu dihabisi. Tapi … apakah mereka akan membunuhnya?”
“Kita lihat saja nanti, pokoknya jaga kewarasanmu selama dia ada di sini kalau tidak mau berurusan dengannya.”
***
Selagi melatih skill yang diberikan oleh biksu Roku, ponsel pintar milik Cyrene berdering. Napasnya tersengal ketika berhenti mengeluarkan energi dari tangannya. Dia merogoh saku dan mengangkat telepon itu tanpa berpikir panjang.
“Carden?” sapanya.
Cyrene tampak mendengarkan pria yang meneleponnya itu dengan serius. Tak lama, dia pun mengangguk dan mematikan panggilan. Segera dia menemui biksu Roku yang masih berdoa di depan patung budhanya.
“Biksu, aku harus pergi. Besok aku akan kemari lagi!” seru Cyrene.
Biksu Roku membuka mata dan menoleh padanya. “Baiklah, latihan kita sudahi di sini untuk sekarang. Lakukan hal terpenting lebih dulu.”
Cyrene mengangguk dan bergegas memasukkan senjatanya dalam peti kayu yang biasa dia bawa-bawa. Kemudian pergi dari kuil itu. Dia berlari menuruni anak tangga yang cukup panjang hingga ke jalan besar. Langkahnya cepat menyusuri jalan yang cukup sepi. Sampai akhirnya dia keluar ke jalan padat penduduk.
Di sana dia mencari sesautu yang telah disampaikan oleh Carden.
“Rorkuxin sudah memulai aksinya. Dia menyebar lebih banyak Kuxin, walau dia terlihat lemah kemarin, kami belum bisa menemukan keberadaannya.”
Kira-kira begitulah informasi yang disampaikan Carden setelah dirinya berdiskusi dengan Hazaru dan ketua dari Whale serta Clam. Katanya, Carden akan memberikan informasi selanjutnya ketika keadaan mulai sedikit membaik.
Tiba-tiba beberapa orang mulai kerasukan dan menyeberang dengan asal sampai beberapa kendaraan hampir menabraknya. Saat itulah Cyrene melesat menangkap satu dan dua manusia yang hampir tertabrak kendaraan.
Cyrene kebingungan karena tidak bisa melakukan pembersihan di tengah keramaian begini, bisa-bisa semua orang semakin panik. Carden mengatakan, bahwa Hyusa dan Itto akan segera menyusul kalau kota sebelah sudah cukup aman. Rorkuxin menyebar bayangan iblisnya hampir ke semua prefektur di Jepang. Tim Whale dan Clam pun disebar merata ke daerah kekuasaannya masing-masing.
Cyrene tidak bisa berpikir terlalu lama, orang-orang yang kerasukan semakin bertambah membuat semua orang mulai ketakutan. Teriakan di mana-mana, suara klakson bahkan saling sahut.
Gadis itu berdiri tepat di depan seorang anak yang SMP yang mulai dirasuki, dua kawannya panik dan menangis memohon pertolongan. Cyrene masih bergeming, tetapi tangannya hendak meraih pundak sang anak yang dirasuki dengan perlahan. Hatinya masih meragu.
Sampai seorang wanita berseragam kantoran menarik lengan anak itu dan menjauhkan yang lainnya dari Cyrene.
“Jangan! Jangan anak ini, dia adalah muridku! Aku tidak sudi dia disentuh olehmu, dasar Iblis!”
Teriakan itu sontak membuat semua orang di sekitar menoleh pada mereka. Dan angin pun menerbangkan tudung yang selama ini menutupi rambut merah gadis penuh senyuan itu.
Semua orang membelalak. Ada yang ngeri dengan peti kayu di punggungnya, ada juga yang ngeri melihat rambutnya, bahkan takut untuk melihat keseluruhan tubuhnya.
“Kenapa dia ada di sini? Di saat genting begini, apa dia akan membunuh mereka semua?”
“Bagaimana kalau aku juga kena? Tolong selamatkan aku, jangan berikan aku padanya!”
“Iya, sebaiknya kita pergi dari sini sekarang!”
Bisik-bisik itu mulai memenuhi kota menutupi suara teriakan manusia-manusia yang kerasukan di jalanan. Shibuya telah kacau. Terdengar pula suara mobil menabrak tiang listrik karena menghindari orang yang kerasukan di tengah jalan.
“Biarkan aku menyelamatkannya, Bu,” ucap Cyrene dengan lemah lembut. Tangannya yang tadi sempat turun, kembali terangkat hendak meraih punggung sang anak yang terus dipeluk oleh gurunya itu.
Anak itu terlihat meronta dan meraung tak keruan.
Plak!
Cyrene bergeming mendapati tangannya ditepis dengan kasar oleh perempuan di hadapannya.
“Menyelamatkan katamu? Berani-beraninya! Kau itu Iblis pembunuh, tak berbeda dengan yang merasuki kami semua!” teriaknya sembari berusaha membawa ketiga anak muridnya lari dari sana.
Cyrene pun mengembuskan napas dan menoleh ke segala arah. Semua orang masih berlarian, ada pula yang mencoba melawan orang yang kerasukan itu agar tidak menular. Memang bukan suatu penyakit, mereka bukan zombi, tetapi yang namanya iblis bisa dengan mudah berpindah dari tubuh satu ke tubuh yang lainnya sesuka hati. Terutama tubuh yang lemah, manusia yang imannya kurang.
Tak lama, para anggota berseragam dengan lambang cangkang kerang emas berdatangan membantu orang-orang yang kecelakaan dan yang diserang.
Seseorang datang menghampirinya. Seorang pemuda yang kemarin datang ke rumah Cyrene.
“Nona, Crimson! Kami sudah di sini, lakukan apa yang harus kau lakukan. Aku percaya, kau tidak akan membunuh mereka seperti yang dirumorkan banyak orang.”
“Kau yakin percaya padaku?” tanya gadis itu datar.
“Tentu, apa yang dikatakan Tuan Carden pasti benar. Dan kami diperintah untuk membantumu menyelesaikan sisanya. Itu saja!”
Cyrene pun tersenyum dan mengangguk.
“Oh, satu lagi. Tuan Carden bilang bahwa kami harus percaya padamu, kalau tidak, ya … kerjakan saja tugasmu. Begitu. Kami hanya menjalankan tugas sebagai tim pertahanan.”
“Terima kasih.”
Cyrene pun membuka peti kayunya dan mengeluarkan Ozzoroi yang sudah dimantrai agar segelnya lebih kuat lagi. Dia mengelusnya sebentar untuk merasakan kekuatan yang bersemayam di dalamnya, apakah segel itu benar-benar kuat atau tidak.
Lalu darahnya bergejolak, sesuatu membuatnya bersemangat, senjata itu mengeluarkan asap hitam.
Shrink!
Bilah di kedua ujungnya keluar. Mereka tampak kokoh dan tajam. Pemuda tadi pun terkejut dengan perasaan tidak tenang. Baginya aura Cyrene semakin memberatkan tubuhnya.
“Mundurlah!” pinta Cyrene. Pemuda itu pun mundur dan menatapnya dari jauh.
Gadis itu berlari ke tengah jalan dan menghantam ujung pisau tombaknya ke atas aspal. Suara dentuman pun terdengar. Semua orang yang kerasukan mulai menoleh dan berjalan mendekat. Para Clam hanya bisa diam menunggu apa yang terjadi. Pemuda tadi berlari ke jalan dan meneriaki kawanannya, “Mundur! Berikan Nona Crimson ruang! Fokus selamatkan korban!”
Dengan begitu, semua anggota Clam pun membawa semua korban yang tidak sadarkan diri ke tempat yang lebih aman.
Cyrene masih berdiri di tengah menunggu semua orang-orang itu semakin dekat. Aura Kuxin di dalam tubuh mereka semakin bertambah. Tubuh-tubuh mereka mulai membengkak dan menghitam. Ada yang langsung melompat untuk menyerang Cyrene.
Dengan cekatan, gadis itu membungkuk dan menggeser tubuhnya di aspal. Manusia-manusia itu berjumlah cukup banyak. Mungkin ratusan, begitulah yang dilihat oleh matanya.
Setelah di rasa semua cukup dekat dengannya, Cyrene mengayunkan tombaknya membentuk setengah lingkaran dan menghantamkannya lagi ke aspal. Dentuman kembali terdengar. Kali ini sebuah barrier berbentuk kubah mengurung dirinya beserta semua manusia yang kerasukan itu.
Beberapa anggota Clam terpana menatap penghalang super besar itu.
“Bagaimana dia bisa membuat barrier sebesar itu dengan mudah? Dahulu, hanya Nona Sakhi yang dapat melakukannya di antara semua Slayer,” kata salah satu dari mereka.
“Aku dengar, dia juga bisa membuat kekkai tinggi, besar, dan kokoh.”
Namun, semua orang pun tidak memiliki jawaban kenapa gadis yang memiliki nama panggilan Crimson itu bisa melakukannya. Mereka hanya terus menyimak sembari menyelamatkan para korban dengan teknik penyembuhan masing-masing. Tangan mereka mengeluarkan cahaya untuk memperbaiki segala yang rusak dalam tubuh korban.
Sementara Hyusa dan Itto baru saja tiba. Mereka melompat dari atap gedung ke tengah jalan di mana Cyrene dan kubahnya berada. Mereka cukup terkejut dengan pemandangan itu.
Cyrene pun mulai mengayunkan tombaknya ke semua manusia yang kerasukan itu. Bilah kapaknya menjatuhkan beberapa dari mereka, ada pula yang terkena pukulannya.
“Apa yang terjadi di dalam sana? Aku tidak bisa melihat gadis itu,” tanya Hyusa dengan wajah khawatir.
“Aku juga tidak. Bagaimana kalau kau pergi ke atas, dan aku menjaga di sini?” saran Itto.
Hyusa pun melompat tinggi dan berdiri di atas gedung yang cukup dekat dengan keberadaan kubah tak kasat mata itu. Meski tak terlihat oleh orang biasa, tapi bagi para Slayer, kubah itu tampak berkilat seperti balon tiup.
Pria itu membelalak melihat Cyrene tengah berjuang di dalam sana, dikerubungi semua makhluk yang menjadi lebih besar. Namun, seketika makhluk-makhluk itu terbanting keluar, ada yang menabrak barrier dengan keras dan terkapar. Di saat itulah, Cyrene memutar melompat dan mengalirkan energinya pada tombak yang dia miliki. Dengan sekali hantaman dari ujung pisau tombaknya di aspal yang mereka pijaki bersama, para iblis itu mengerang dan keluar dari tubuh para korban. Tampak cahaya merah mengalir di aspal seperti aliran listrik yang mengikat para makhluk tersebut. Aliran merah itu menusuk ulu hati para manusia yang terjebak di dalam kubah besar tersebut.
Perlahan, semua Kuxin keluar dan hancur menjadi abu. Ketika semua manusia itu kembali ke tubuh aslinya, mereka mulai tak sadarkan diri. Sebelum terjatuh ke aspal, Cyrene meniupkan cahaya merah muda keunguan pada semua manusia itu. Barulah mereka semua jatuh terkapar.
Gadis itu menggenggam erat senjatanya yang masih berdiri kokoh, napasnya tersengal karena dia belum istirahat dari latihannya tadi. Namun, senyumnya mengembang bersamaan dengan barrier yang terlepas.
Hyusa turun dan bergabung dengan Itto.
“Crimson, kau baik-baik saja?” tanya Itto menyambut Cyrene yang berjalan mendekatinya dengan gontai.
“Baik, sangat baik,” balas Cyrene melempar senyum.
“Kau sepertinya sangat kelelahan,” ucap Itto lagi.
“Ya, tadi aku langsung berlari ke sini saat latihan di kuil Kinishi.”
“Istirahatlah, biar kami yang selesaikan sisanya.”
Hyusa berdiri di hadapan Cyrene ketika gadis itu hendak kembali ke tepi untuk menaruh senjatanya kembali ke dalam peti. Pandangan mereka bertemu. Awalnya hening, Cyrene menunggu sesuatu yang hendak diucapkan oleh seniornya itu, sementara Itto hanya memperhatikan, berjaga kalau Hyusa sampai keterlaluan lagi.
Mulut Hyusa sudah terbuka, tetapi dia urung mengatakannya. Dia pun mengalihkan tatapan pada Itto. “Ayo kita ke prefektur selanjutnya!” ajaknya meninggalkan Cyrene begitu saja.
“Senpai!” panggilnya karena merasa bersalah.
Hyusa pun berhenti dan menoleh padanya dengan tatapan dingin.
“Boleh … aku ikut?” tanya Cyrene dengan ekspresi penuh harap.
“Aku tidak akan menunggumu!” balas Hyusa yang kembali berjalan memunggunginya.
Seketika wajah Cyrene berseri-seri dan menatap Itto. Pemuda yang seumuran dengannya itu pun tersenyum lega dan mengelus kepala Cyrene. “Aku akan menunggumu, cepat!”
Gadis itu pun berlari mengambil peti kayunya untuk memasukkan Ozzoroi dengan buru-buru dan berterima kasih pada pemuda Clam tadi untuk membereskan sisanya. Meski pemuda itu hanya diam karena masih terkejut.