Mass Possession - Part 2

1261 Kata
Tiga anggota King berlari dan melompati gedung-gedung tinggi untuk lebih cepat sampai ke prefektur yang menjadi target Rorkuxin lainnya. Sementara laporan demi laporan terus terdengar dari alat komunikasi alat dengar di telinga tanpa kabel yang dipakai oleh Hyusa. Kemudian pria itu sesekali memberitahu dua timnya mengenai situasi di berbagai daerah. “Kawasan Barat yang ditangani oleh kelompok Whale sudah hampir disterilisasikan. Kawasan Timur, hanya tersisa di daerah Kawaguchi yang bisa kita datangi. Di sana hanya ada Slayer tingkat tiga beserta para anggota pertahanan Clam,” jelas Hyusa sedikit berteriak. “Itu cukup jauh dari sini, bagaimana dengan Tuan Carden?” tanya Itto yang tepat berada di depan. Dia adalah keturunan ninja yang memiliki skill kecepatan dibanding anggota lainnya. “Dia masih mengurus pusat kota Saitama. Di sana sama ramainya dengan Shibuya. Berdasarkan laporan sementara, kerasukan masal terparah adalah pusat kota Saitama dan Shibuya. Aku belum mendapat laporan dari kawasan Barat.” “Tapi, Shibuya ….” Itto menoleh ke belakang kanannya, di mana Cyrene melesat di sana. Gadis itu menunjukkan wajah heran. Hyusa pun melirik gadis itu dan mendengkus. “Ya, berkat Crimson, daerah Shibuya lebih cepat teratasi sebelum menyebar semakin parah.” Diam-diam Cyrene tersenyum, merasa bangga karena akhirnya dia bisa membantu semua orang walau tak seberapa. “Tapi, ada beberapa yang kabur,” ucap Cyrene. “Satu murid SMP yang kerasukan dibawa pergi oleh gurunya dan dua temannya.” “Kenapa kau biarkan mereka?!” bentak Hyusa. Cyrene menggigit bibirnya. “Guru itu … tidak membiarkanku membantu, dia menepis tanganku dan berlari menjauh. Aku kehilangan jejak karena terlalu ramai dan fokus menyelamatkan yang lain.” Terdengar Hyusa berdecak kesal. Kemudian dia menekan tombol di alat dengarnya dan tersambung pada seseorang. “Shota, pergilah ke daerah Shibuya dan cari satu anak SMP yang kerasukan beserta gurunya dan dua murid lainnya. Tangani itu sekarang!” Cyrene melirik dengan penuh rasa bersalah. Tetapi, kali ini Hyusa tidak melempar cacian apa pun seperti biasanya. Mereka pun kembali fokus ke jalan menuju Kawaguchi. Daerah museum yang dipenuhi wisatawan dan turis. “Kereta!” teriak Cyrene. Mereka pun berlari dan mendarat di atas gerbong kereta cepat tersebut. Lagi-lagi Cyrene terhuyung setiap kali mendarat di benda yang tengah berjalan cepat. Refleks Hyusa merangkul tubuhnya yang berada tak jauh darinya. “Kalian baik-baik saja?” tanya Itto yang selalu mendarat dengan sempurna. Kedua kawannya mengangguk. Cyrene menatap Hyusa dan membungkuk berterima kasih. Dirinya masih canggung berada sedekat itu dengan senior yang dulu menolak kehadirannya mentah-mentah. Senior yang selalu meremehkan dan mencelanya. Senior yang begitu membencinya walau tanpa Cyrene sadari, dia selalu memperhatikan perkembangan gadis itu, membantunya secara tidak langsung ketika dia sempat mengamuk di masa lalu. Kereta itu melaju cepat menuju ke stasiun dekat Kawaguchi. Di perjalan itu mereka melihat sisa-sisa kegaduhan di beberapa daerah yang telah diselesaikan oleh anggota lain. Meski masih banyak anggota Clam yang berusaha dengan cepat menolong para korban. Banyak kendaraan, gedung, jalanan hancur karena kerasukan masal yang tak biasa. Kuxin bukanlah iblis seperti hantu yang manusia ketahui pada umumnya. Bukan pula zombie yang mewabah seperti penyakit. Kuxin adalah bayangan yang dibuat sendiri oleh Rorkuxin, iblis tingkat 2 yang selama ini tinggal di neraka ja*anam. Kaki tangan langsung Ozzazin, sang iblis nomor 1 di seluruh alam semesta. Iblis yang tidak senang melihat manusia baik-baik saja, iblis yang menyukai keburukan dan dosa. Iblis yang ingin menguasai dunia dan membuktikan pada Tuhan, bahwa merekalah yang terkuat, bukan manusia maupun malaikat. Cyrene, Hyusa, dan Itto pun tiba hanya dalam hitungan 30 menit karena sebelumnya mereka sudah berlari dengan cepat keluar dari Shibuya. Keadaan di stasiun itu sudah kacau. Segalanya hancur. Beberapa anggota Clam bertubuh besar menjaga tempat ini. Bahkan ketika para penumpang kereta keluar, mereka ditahan di dalam. Sang masinis pun sudah diberitahu bahwa dia harus kembali ke stasiun sebelumnya. Namun, semua butuh waktu untuk berkoordinasi dengan masinis lain dan pusat. Sementara para penumpang dijaga ketat oleh para Clam. Cyrene dan yang lain turun menemui ketua tim penjaga di sana. “Kalian sudah sampai, anggota lain telah memojokkan para makhluk itu ke depan museum yang telah disterilkan dari warga,” jelas pemuda bertubuh kekar tersebut. Ada garis dua putih di lengan seragamnya seperti yang pernah Cyrene lihat pada pemuda Clam yang dia kenal tadi. “Terima kasih, Kowa. Kami akan segera ke sana,” balas Itto. “Maaf kami terlambat.” “Tidak sama sekali, kami tahu bahwa kalian mengurus prefektur lain, ini terbilang sangat cepat. Tapi, bagaimana dengan Shibuya, katanya--” “Sudah aman!” sanggah Cyrene melempar senyum. Seketika pria bernama Kowa itu tercekat. “A-ah iya, kalian tim King memang hebat!” sahutnya merasa canggung menanggapi Cyrene di sana. “Berterima kasihlah nanti pada Crimson, dia membereskannya sendirian. Kami hanya menjemputnya,” kata Itto lagi sembari memberi tanda pada gadis itu untuk segera mengikutinya menuju lokasi. Cyrene pun mengangguk dan bergegas pergi bersama hyusa. Kowa hanya bergeming tidak percaya. Ada tatapan khawatir di sana. Kowa adalah ketua pertahanan tim 1. Dia yang bertanggungjawab untuk keamanan di kawasan paling parah dan menghadapi keadaan terberat. Mereka dan tim 2-lah yang membantu para Slayer menangani Ozzazin di masa lampau. Dia pun segera menghubungi seseorang melalui alat dengar komunikasi seperti yang Hyusa gunakan. “Yuji, bagaimana keadaan di sana?” tanyanya. “Ketua Kowa! Shibuya sudah aman terkendali, kami baru diberi tahu Shota bahwa ada satu yang melarikan diri. Itu saja.” Dan dari Yuji, pemuda yang pernah mendatangi kediaman Cyrene itulah, Kowa mendapatkan kelegaan di hatinya. Yuji sendiri adalah ketua keamanan tim 2 yang juga mengurus kawasan paling parah atau keadaan paling berat kedua setelah tim 1. Dia merenung menatap gerbang keluar stasiun menuju kota. “Gadis itu, benar-benar penuh misteri,” bisiknya. *** Keadaan di lokasi sudah tak keruan. Cyrene terenyak melihat beberapa anggota Dolphin terkapar di mana-mana. Beberapa anggota Clam juga berusaha menghalau dan membantu satu sama lain. Hyusa langsung beraksi tanpa aba-aba. Dia melompat menarik pedangnya dan menebas beberapa makhluk yang sudah tak lagi berbentuk seperti manusia. Mereka semua lebih terlihat seperti monster. Itto pun berlari ke arah lain untuk membantu di sisi satunya. Dua pedang tanpa bilahnya siap untuk menyerang. Sementara Cyrene menarik semua anggota yang kewalahan ke sisi medan pertarungan. Kejadian itu berlangsung lambat karena dia hanya sendiri. Sedangkan Hyusa dan Itto sedang menghabisi para makhluk itu. Bahkan ada yang menjadi sebesar Pak Ayase dulu. Gadis itu melihat semua anggota penyembuh Clam juga sudah kerepotan. Cyrene mengepal tangan dan meniupkan cahaya merah muda keunguan dari mulutnya, cahaya itu dia kumpulkan menjadi satu bulatan di depan dadanya. Kedua tangannya bergerak seperti tengah membuat nasi kepal yang besar. “Masih kurang,” bisiknya. Kemudian dia kembali memusatkan energi pada pernapasannya, demi bisa mengeluarkan udara yang bercahaya itu lebih banyak lagi. Seseorang dari Clam menyadari apa yang sedang dilakukan oleh Cyrene. “Hei, lihat itu. Apa yang sedang dia lakukan?” tanyanya khawatir dengan keringat membasahi dahi dan seluruh tubuhnya. “Tidak tahu, tapi aku lihat tadi dia membawa semua korban ke sini,” balas yang lainnya dengan napas tersengal. “Aku harap hal baik, karena kami sudah sangat kelelahan. Lihat, beberapa dari kami malah pingsan dan jadi korban tambahan. Belum adakah bala bantuan baru dari pusat?” Kawannya itu menggeleng. “Mereka juga sedang kewalahan. Tahu sendiri, kita ini tidak memihak siapa pun, hanya kita yang netral dan menjadi support bagi para Slayer di kedua kutub. Pastinya pusat sudah kehabisan anggota. Tidak semua bisa dikirim ke medan perang, kan?” Lalu, tiba-tiba cahaya merah muda keunguan itu sudah cukup besar berdiameter sekitar 75 cm. Satu tangannya melepaskan kabut bercahaya itu ke seluruh korban di hadapannya. Bahkan para Clam juga menerima tiupan lembut tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN