Mass Possession - End

1641 Kata
“Ah, apa ini?” “Rasanya sejuk sekali seperti angin segar.” “Seketika tubuhku terasa ringan lagi.” Dan semua orang yang terkapar mulai bangkit terduduk perlahan. Meski masih merasakan lemas, tapi para anggota Clam yang lebih bugar lagi membantu penyembuhan itu lebih cepat. Salah satu dari mereka memeriksa pasiennya dengan saksama. “Tubuhnya sudah tidak separah tadi, bagaimana bisa?” Semua orang pun melihat Cyrene yang terlihat kesulitan bernapas. Namun, dia melempar senyum dan mengacungkan satu jempolnya. “Terima kasih untuk kerja keras kalian, maaf kalau aku tidak bisa banyak membantu.” Semua orang pun bergeming terpana melihat gadis cantik yang selama ini ditakuti semua orang, tampak begitu bersinar dengan cahaya merah muda yang masih berterbangan. Kemudian dia pergi begitu saja menyusuk Hyusa dan Itto. Dia berlari dengan membuka peti kayunya dan melompat bersama senjatanya yang siap dia gunakan. Kedua bilahnya tampak berkilat. Dia pun mendarat tepat di atas kepala makhluk yang besarnya sudah hampir mencapai gedung tingkat sepuluh. “Crimson!” panggil Hyusa yang baru saja berhasil mengeluarkan para iblis dari dalam tubuh manusia di bawah sana. Gadis itu menghunuskan kapaknya ke kepala botak makhluk tersebut. Hal itu membuat sang monster mengeram dan menangkap tubuh Cyrene. “Aaakh!” Gadis itu kesakitan karena tubuhnya hampir diremuk, tetapi sudah keburu dilempar ke sembarang arah. Bruk! Bruk! Bruk! Tubuh Cyrene menghantam dua bangunan museum sampai akhirnya dia menghantam beton di bawahnya. “Crimson! Jangan gegabah!” teriak Hyusa yang masih menghalau makhluk itu dengan berbagai serangan dan segel-segelnya. Gadis itu bangkit dengan napas terengah-engah. Tubuhnya bergetar, dia pun menopangnya dengan senjatanya dengan sekuat tenaga. Darah keluar dari kepala dan hidungnya. Pakaiannya penuh debu, wajah serta kakinya dipenuhi goresan. Matanya tajam ke atas bangunan bergaya tradisional. Tampak kepala monster itu dari sana. Dia menyadari bahwa tubuhnya kelelahan karena seharian ini dia belum istirahat sama sekali. “Ini bukan apa-apa, aku bisa lebih kuat dari ini, untuk hari itu. Aku harus jauh lebih kuat,” bisiknya pada diri sendiri. “Biar aku pinjamkan kekuatanku, Crimson. Makhluk seperti itu … hanyalah … embusan angin.” Cyrene menggeleng. Tetapi, jantungnya berdetak kencang seketika. Dia tercekat dan meremas dadanya. “Tidak! Aku … masih kuat! Makhluk itu juga bukan … apa-apa bagiku!” Satu bola mata Cyrene berubah merah. "Mereka ... tunduk padaku ...." “Tidak!” pekiknya menutup matanya yang terasa panas. Debaran jantungnya berdetak hebat. Tanpa pikir panjang dia berlari dan melompat tinggi ke atas genting bangunan di depannya. Di sana dia melihat Hyusa yang terpental karena kena tepisan lengan besar itu akibat dia refleks melihat Cyrene yang kembali dengan wajah garang. Sementara Itto langsung melempar kunai dengan jimatnya para d**a sang monster. “Sekarang, Crimson!” teriaknya. Monster itu melihat kedatangan gadis itu tanpa memperdulikan dadanya yang terasa panas. Cyrene pun melompat dan melesat memutar tombaknya hingga bagian pisaunyalah yang mengarah ke depan. “Hyaaaagh!” Gadis itu mengeluarkan sisa energinya demi momen terakhir di hari ini. Mata merah dan tubuhnya berkilat, saking terangnya, cahaya kemerahan itu tampak lampu yang melesat cepat. Monster itu berusaha menangkap tubuh Cyrene, tetapi meleset. Jleb! “Hoaarrrrh!” Cyrene berhasil menancapkan tombaknya di ulu hati. Monster itu terhuyung. "Kau … lagi! Gadis sialan!" Dengan cepat Cyrene menekan senjatanya lebih dalam dan melompat lagi ke udara. Secepat mungkin dia melakukan Measurement Seal. Kali ini dia melakukannya dengan cepat karena sejak awal dia sudah memperhatikan makhluk itu. Boom! Monster itu pun meledak menjadi serpihan abu yang terbakar. Kemudian terhisap oleh sesuatu dan hancur menjadi abu yang tak bersisa. Tak lama, Senjata itu jatuh bersamaan dengan sosok manusia yang muncul di udara. Sebelum tubuh Cyrene ikut terjatuh, dia meniupkan cahaya merah muda keunguannya pada pria itu. Barulah dia tak sadarkan diri dan tubuhnya terjun bebas. Seseorang berhasil menangkapnya. Pria itu mendarat dengan satu kaki terlipat ke pijakan beton di bawahnya. Dia melihat ke arah yang berlawanan, di sana pria dengan dua pedang di punggungnya mengangguk karena berhasil menangkap pria yang dirasuki tadi dan senjata milik Cyrene. Seketika dia berteriak pada Itto. “Senjatanya!” Itto yang sudah merasakan energinya habis diserap, dengan susah payah melepaskan cengkeraman dari tombak milik gadis itu. Klang! Suara senjata yang jatuh itu sangat nyaring sampai memekakkan telinga. Itto dan korban yang tak sadarkan diri di pangkuannya itu pun ambruk. Namun, beruntung dirinya segera memasang jimat pelepas kutukan. Akhirnya dirinya terlepas dari medan magnet yang ditimbulkan oleh senjata tadi. Napasnya tersengal. Hyusa membopong Cyrene dan mendekati Itto. “Kau baik-baik saja?” Itto mendongak dengan lemas. “Ya. Hhh … tak kusangka ... senjata itu benar-benar menyakitkan. Berapa besar derita yang dia bawa selama ini? Iblis itu tak hanya bersemayam dalam Ozzoroi-nya, tapi … dalam tubuhnya.” Itto menatap nelangsa pada tubuh gadis berambut merah panjang yang terkulai tak berdaya di tangan Hyusa. Pria berambut putih panjang di hadapannya pun jadi menatap wajah gadis itu lagi lekat-lekat. Keadaan pun jadi hening seketika. *** Cyrene membuka matanya, langit-langit kamar yang tidak dia kenali dengan cahaya lampu temaram. Perlahan dia bangun, barulah dia menyadari bahwa dia berada di markas besar Dolphin. Ruangannya tidak jauh beda dengan rumahnya yang bergaya tradisional. Namun, ornamennya berbeda. Jelas di ruangan itu dindingnya bergambar lumba-lumba merah yang melompat ke permukaan. Tiang bendera kelompok Dolphin pun berdiri kokoh di sudut ruangan. Kemudian matanya tertuju pada peti kayu yang tergeletak tepat di sampingnya. Matanya membelalak mengingat kejadian sebelum dia hilang kesadaran. “Siapa yang membawanya? Apa orang itu baik-baik saja? Aku melakukan kesalahan!” pekiknya segera bangkit dan menggeser pintu lebar-lebar. Langit malam telah mengganti siang. Awan mendung dengan gemuruh di langit siap menjatuhkan tangisnya. Cyrene berjalan menyusuri engawa panjang itu. Berkelok sedikit ke kiri, dan berhenti di tengah bangunan. Di sana ada sebuah taman besar dengan kolam ikan. Suara gemericik air dan bambu yang mengalirkan air ke bawah terdengar menenangkan hatinya. Namun, pikirannya tetap dipenuhi tanda tanya melihat ketiga anggota tim King berkumpul di sana. Itto yang sedang menyesap kaleng sodanya menoleh dan menyapanya. Cyrene pun mau tak mau bergabung dengan mereka. Dia duduk di pinggir engawa, sedikit jauh karena Hyusa ada di sebelahnya. Sedangkan Carden ada di hadapannya, itulah kenapa dia memilih duduk di sana daripada di sisi Itto. Hyusa tak menanggapi kehadiran Cyrene, dia masih memejamkan mata mendengarkan gemericik air di kolam. Sementara Carden yang tadi menatap langit, berbalik pada Cyrene. “Apa yang kau rasakan sekarang?” tanyanya. “Hmm, tidak ada. Hanya sudah lebih baik lagi.” “Baguslah.” “Emm, siapa yang membawa senjataku?” tanya Cyrene dengan tatapan khawatir. “Ah, Crimson! Tadinya aku menangkap senjatamu yang jatuh, tapi … yah, begitulah. Hahah …,” ucap Itto sembari bergurau. Namun, bola mata Cyrene membesar. “Kenapa?! Itu sangat berbahaya, kau bisa ….” “Tenanglah! Dia tidak selemah itu sampai mati karena memegang Ozzoroi saja. Dia hanya kewalahan,” sanggah Hyusa yang akhirnya membuka matanya. “Itto … aku minta maaf. Aku benar-benar tidak bertanggung jawab!” seru Cyrene yang berdiri di hadapan mereka dan membungkuk 90 derajat. “Eh, tidak perlu, Crimson. Aku baik-baik saja, lihatlah, aku sehat bugar! Bahkan aku masih bisa mengangkat pria yang dirasuki tadi sampai ke rumah sakit.” Hyusa berdiri dan mendekat. Dia mengangkat dagu Cyrene yang membungkuk itu setinggi-tingginya. Tatapan Hyusa sangat tajam dan dingin, walau hanya satu matanya yang tampak. Satunya masih terhalang penutup mata. Cyrene sendiri tidak tahu ada apa dibalik penutup mata itu dan bagaimana sejarahnya pria itu bisa memakainya, entah luka atau memang ada sesuatu yang lain. “Jangan pernah membungkuk di hadapanku!” katanya dengan datar. “Kalau mau terlihat bertanggung jawab, perkuat dirimu, kontrol iblis terkutuk itu. Jadilah raja untuk dirimu sendiri, Crimson!” Gadis itu mengerutkan dahi. Dia bingung dengan sikap seniornya yang berubah 180 derajat. Kemudian pria itu melepaskan Cyrene dan kembali ke dalam. “Mau ke mana, Senpai?” tanya Itto penasaran. “Berlatih!” balas Hyusa singkat meninggalkan mereka. Itto bangkit hendak menyusul pria itu. Namun, dia menatap Cyrene lebih dulu dan melempar senyum. “Kau sangat hebat, Cyrene! Kau benar-benar gadis yang kuat. Kamu tidak sadar, Hyusa-senpai memujimu dengan kata-katanya barusan. Dia juga menjadi lebih kuat hanya untuk menyelamatkanmu ketika waktunya tiba.” Lalu, dia pergi menyusul Hyusa. Gadis itu tersenyum lebar dan berjingjit. Tubuhnya terasa merinding dengan kebahagiaan. Carden mengelus kepala Cyrene dengan lembut. Gadis itu lupa kalau masih ada pria itu di belakangnya. “Kau juga harus terus berlatih, jangan sampai mengabaikan kebaikannya,” kata Carden. Cyrene mengangguk. “Tapi, bagaimana dengan pusat kota Saitama? Apa kau tidak kenapa-kenapa? Maksudku, aku tahu kau pasti akan dengan mudah membereskannya, tapi--” “Tenang saja, kau ini pandai menyembunyikan kekhawatiranmu dengan senyuman dan keceriaan. Aku memperhatikanmu saat kau melawan Kuxin yang lebih besar dari waktu itu. Sekarang hanya ada aku, kau bisa beristirahat.” Entah kenapa, perkataan Carden selalu bisa membuatnya lebih tenang, tapi juga terenyuh. Perlahan air mata Cyrene menetes. Dia tertunduk begitu dalam. “Tadi … ada seseorang yang menolak pertolonganku. Aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang, padahal anak itu masih SMP. Aku benar-benar ingin membantunya.” Cyrene mulai bicara dengan sedikit terisak. “Mereka sudah baik-baik saja,” balas Carden membawa Cyrene duduk. Mereka berdua di sana sampai tengah malam, sampai gadis itu lelah untuk menangis dan kembali tertidur di samping tubuh Carden dengan lelapnya. Saat itulah Hazaru datang. “Dia menangis lagi?” tanyanya dengan santai. “Begitulah.” Carden bangkit. “Aku akan membawanya lagi ke kamar.” Lalu membopongnya perlahan. “Tapi, dia sangat kuat. Itu juga berkatmu, kau selalu di sisinya, menguatkan hatinya. Karena memang tidak ada lagi yang bisa melakukannya selain dirimu. Aku minta maaf kalau aku pernah melakukan kesalahan padanya.” Hazaru membungkuk pada Carden. “Sudah kubilang, perlakukan aku sebagai bawahanmu. Anggota biasa seperti yang lain.” “Tapi, aku akan berdosa. Tenang saja, aku melakukan ini juga hanya ketika kita berdua.” Carden menghela napas dan menyelesaikan pembicaraan itu. Dia bergegas membawa Cyrene ke kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN