A Holy Seal

1374 Kata
“Kejadian kemarin sangat mengerikan, semua kacau balau!” “Ya, terima kasih berkat kedatangan gadis terkutuk itu!” “Benar, ini kali pertama negara Jepang mengalami kepanikan hebat karena para iblis yang mengamuk. Semua gara-gara gadis itu datang kemari!” “Kita usir saja dia, untuk apa dia kembali kalau hanya menimbulkan perkara baru yang merugikan kami semua?” “Tetapi, para Dolphin melindunginya, dan memang tidak banyak yang terluka di kawasan mereka dibanding kawasan Whale.” “Persetan dengan Dolphin dan itu semua! Aku tetap berada di pihak Whale!” *** Stasiun televisi menayangkan berita mengenai kejadian kemarin berulang kali. Berita dari seluruh kawasan Jepang. Kehebohan dan kepanikan terlihat di setiap video yang mengulas kembali saat-saat menegangkan itu. Bagi sebagian orang yang tidak terdampak terlihat biasa saja menanggapinya, tetapi bagi mereka yang merasakannya langsung di tempat kejadian, menimbulkan rasa trauma. Wawancara pada beberapa dari mereka pun membuat publik berdebat. Kebanyakan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi sampai negaranya menjadi seperti ini. Siaran berita semua hanya berisi itu-itu saja. Pihak pemerintah pun diminta turun tangan mengatasinya. Oleh karena itu, Cyrene terbangun sendirian di kamarnya. Suasana markas sepi, tak ditemuinya orang yang dia kenal selain para penjaga. “Nona, sudah bangun?” sapa seorang wanita yang bertugas membuat makanan di sana. Dia memberikan semangkuk bubur dan air mineral. “Tuan Hazaru dan yang lainnya pergi ke pertemuan dengan presiden, perdana menteri, dan perwakilan dua kelompok lain.” Cyrene hanya duduk di ruang makan leseh itu menatap bubur putih yang dihias oleh suiran ayam, daun bawang, dan abalon. “Kenapa aku tidak dibangunkan? Kenapa aku tidak pernah diajak dalam rapat besar begitu?” bisiknya. “Bukankah aku juga kelompok King?” Wanita di sebelahnya hanya mengamati dan kembali membungkuk. “Nona, aman di sini. Percaya saja pada mereka. Silakan dimakan, saya permisi. Kalau ada apa-apa panggil saya atau penjaga saja, tak perlu sungkan.” Wanita itu pun keluar membiarkan Cyrene makan sendirian ditemani gemericik air di kolam kecil yang semalam dia datangani. Hujan yang ditahan semalaman, akhirnya turun pagi ini dengan begitu deras. Suaranya menutupi gemericik yang menenangkan tadi. Gadis itu pun mulai menyantap makanannya. Sesekali dia melihat bayangan sang ibu dan ayah yang makan di meja yang sama sembari bersenda gurau. Sang ibu pun memberikan salah satu lauknya ke mangkuk Cyrene. Ayahnya juga mengelus kepalanya dengan penuh senyuman. “Cyrene-ku yang cantik, kelak kau akan menjadi lebih hebat dari pada ayah dan ibu. Makan yang banyak, ya. Supaya tumbuh dengan baik!” “Jangan dengarkan ayahmu, tidak masalah kau tidak menjadi lebih hebat, yang penting kau sehat dan bahagia seperti ibu. Hehe ….” Cyrene hanya tersenyum simpul. Dengan lahap dia menghabiskan semuanya tanpa tersisa. Kemudian dia menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Barulah dia bangkit dan meninggalkan ruangan itu beserta senjatanya. Dia menggendong petinya di punggung seperti biasa. Jaket kuning tua memeluk seragam Dolphinnya. Tudungnya kali ini tidak dinaikkan, karena dia tidak ingin menutup diri lagi. Celana pendek hitam yang dipadu dengan alat pelindung di bagian lutut, menghiasi kakinya yang mungil nan mulus. Kaus kaki sampai atas lutut dan sepatu sneakers hitam dengan list merah pun melengkapi setiap outfitnya dalam bertugas. Rambutnya pun selalu dia ikat dua rendah supaya memudahkannya bergerak bebas. Kakinya melangkah dengan pasti pergi menggunakan taksi menuju kuil Kinishi. Jika dia tidak diizinkan mengikuti rapat itu, tugas dia sekarang hanyalah bertumbuh menjadi lebih kuat lagi supaya bisa hidup bahagia seperti yang diharapkan ayah dan ibunya. Kali ini dia tidak akan lari, langkahnya sudah pasti. Dia akan menghadapinya dengan lebih berani. *** Di kuil Kinishi, dia kembali berlatih. Melancarkan skill penyegelan sekaligus eksorism milik sang ayah serta teknik penyegelan suci dari biksu Roku. Gadis itu tidak beristirahat semenit pun, dia ingin cepat ke halaman terakhir, cara agar bisa menenangkan Ozzazin ketika waktunya tiba. Dia hanya memiliki sekitar satu bulan untuk mempersiapkan dirinya. Telapak tangannya mengeluarkan cahaya emas, kemudian berubah menjadi lingkaran Polygon dengan bintang di bagian tengah. Kemudian muncul beberapa tulisan Hiragana yang berarti doa-doa suci. Cyrene tidak benar-benar mengetahui apa artinya, tetapi dia fokus untuk membaca mantra yang telah biksu Roku tulis di bukunya. Mantra penyegelan suci terkuat. Kami no ganjouna dokubou ni tojikomete kudasai, anata wa jaakuna akumadesu. Anata ga jikan to tomoni jouka sa remasu. Kami ga anata o yurushitekudasaimasu you ni.(1) Seketika lingkaran itu membentang di hadapannya dan membesar, tali-tali cahaya bertuliskan doa-doa itu saling bertautan siap mengikat sesuatu di dalamnya. Ketiga jari kiri Cyrene-ibu jari, telunjuk, dan tengah-terangkat rapat di depan bibirnya, sementara tangan kanannya terjulur ke depan, di mana segel cahaya itu berada. “Rokku!”(2) teriak Cyrene dengan kencang bersamaan telapak tangan kanannya mengepal sekuat tenaga. Segel itu pun langsung mengunci sesuatu di tengahnya dengan erat dan meledak. Hal itu menimbulkan dentuman yang cukup kuat serta cahaya yang sangat terang. Angin pun menerbangkan rambut panjang Cyrene dengan kencang. Matanya menyipit dan kedua kakinya menahan angin kencang itu agar dirinya tidak ikut terbawa angin. Biksu Roku datang karena menyadari kejadian itu. Dia terkejut karena Cyrene bisa menguasainya hanya dalam waktu dua hari. Dengan kekuatan yang cukup besar pula. “Selamat, Crimson! Lihat, kan, kau memiliki kemampuan yang diturunkan oleh ayah dan ibumu. Mereka masih ada di hatimu, jadi jangan pernah menyerah dan berpikir bahwa kau tak pantas hidup.” Gadis itu terengah-engah dan mengangguk dengan wajah berseri. “Mulai sekarang, aku akan melakukan apa pun yang kumau, yang kubisa untuk menyelamatkan semua orang terutama anak-anak.” “Baiklah, selagi menunggu Carden kemari, kau berlatihlah di dalam hutan. Kau juga sudah bisa mempelajari halaman selanjutnya, melepas segel. Gunakan itu pada iblis-iblis kecil di sana.” “Benarkah aku bisa melakukannya sekarang?” “Tentu, tapi ingat, kendalikan energi yang kau gunakan untuk setiap iblis yang kau jumpai. Pikirkan efeknya ke sekitar, maka kau akan bisa lebih mudah menguasainya. Lalu, teknik pelepasan itu sangatlah mudah. Kamu pasti bisa.” Cyrene pun mengangguk penuh semangat. Dia pergi ke dalam hutan meninggalkan senjata saktinya dalam peti di engawa kuil bersama sang biksu. “Crimson!” teriakan biksu Roku menghentikan langkah cepat gadis itu. “Hati-hati ketika mempelajari pelepasan segel. Fokuskan pada iblis di depanmu, bukan pada dirimu sendiri. Meski mantra itu tidak akan kuat padamu, tapi … kau tetap harus berhati-hati.” Cyrene mengangguk dan berlari dengan ringan, melompat ke dahan pohon demi pohon. Matanya awas mencari sesuatu, instingnya pun diperkuat. Tak lama ekor matanya menangkap sesuatu di sisi kiri. Secepatnya dia mendatangi arah itu, dan keluarlah iblis hitam penunggu hutan. Bentuknya seperti pohon besar dengan mata merah. Makhluk itu meraung kencang sampai sekumpulan burung berterbangan ke udara. Dengan cepat Cyrene menendang makhluk itu sebelum makhluk itu menyerangnya. Otomatis bayangan itu terdorong jauh. Dia kembali bangkit dengan tubuh yang lebih besar lagi, otot-ototnya keluar, jemarinya berubah menjadi akar-akar kokoh dan panjang. Mereka berayun berusaha menangkap tubuh mungil Cyrene dari kejauhan. Namun, Cyrene cukup gesit untuk menghindar. Sampai akhirnya mereka saling berhadapan lagi. Gadis itu mendarat di atas tanah tepat di hadapan makhluk besar yang mengamuk itu. Secepat kilat lingkaran polygon dengan bintang di tengahnya yang bercahaya itu keluar dari telapak tangan Cyrene. Namun, serangan akar pohon yang lebih besar datang. Cyrene berdecak kesal sembari melompat ke atas pohon. Dilemparnya lingkaran segel itu dari atas sana. Tangannya mulai membuat gerakan seperti yang tadi dia pelajari. Kini lingakran itu sudah berada tepat di atas kepala bayangan besar tersebut. Cyrene melompat ke dahan lainnya karena kembali diserang, tetapi mulutnya komat-kamit merapalkan mantra. Akhirnya lingkaran itu membesar melebihi ukuran sang makhluk dan dengan cepat turun membentuk tiga lingkaran yang sama. Di atas kepala, bagian d**a yang mengikatnya, dan bagian pijakannya. Kemudian muncul tali-tali cahaya emas berisi doa-doa yang saling bertautan di sekujur tubuh makhluk itu. Makhluk itu pun tidak bisa lagi bergerak dan hanya bisa mengerang kencang, mengamuk dengan beringasnya. “Rokku!” teriak Cyrene mengepal tangan kanannya. Shriink! Blarr! Lingkaran itu mengunci sang makhluk dan meledak. Cyrene berpegangan pada dahan pohon di bawahnya sembari mengintip menahan angin dengan tangan lainnya. Cahaya itu menyedot sang makhluk masuk ke pohon besar di belakangnya. Begitu semua selesai, Cyrene mantap dengan terpana kejadian barusan. Semua langsung hening, pohon itu seketika berubah warna jadi hitam seolah mati, dedaunannya pun mengering. Cyrene mendapat satu kenyataan baru mengenai apa yang dikatakan oleh biksu Roku, bahwa dirinya harus menyesuaikan energi yang dia gunakan, harus memperhatikan efek pada sekitarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN