Crimson, Voting, Existence

1207 Kata
Cyrene turun dan berdiri di depan pohon itu. “Bagaimana kalau aku salah menyegel iblis itu? Ini benar-benar bahaya. Pantas biksu Roku selalu memperkuat segel Ozzoroi-ku sendirian di dalam kuilnya.” “Aku harus lebih bisa mengontrol kekuatanku.” Cyrene pun kembali membaca buku catatan biksu Roku. Dicarinya halaman yang menjelaskan cara melepas segel. Gadis itu duduk di bawah pohon menikmati angin sejuk sembari terus mempelajari mantranya. Sesekali dia menoleh ke belakang. “Sabar, aku sedang mencoba mempelajari cara melepas segelnya. Kau akan kukeluarkan lagi.” “Fokuskan pada iblis di depanmu, bukan pada dirimu sendiri. Meski mantra itu tidak akan kuat padamu, tapi … kau tetap harus berhati-hati.” Peringatan yang dilontarkan oleh biksu Roku tiba-tiba terngiang. Gadis itu langsung termenung, dia langsung meragu dan takut. Pasalnya, energi yang dia keluarkan saja belum benar-benar bisa dia kendalikan, dia baru bisa mengendalikan teknik sang ayah, bukan tekniknya biksu Roku. “Apa yang harus kulakukan?” tanyanya pada diri sendiri. “Yaa … lakukan saja, Crimson. Kau … sendiri yang … akan membebaskanku. Hahahaha!” Suara itu menggema. Cyrene meremas kepalanya sendiri. Dia menggeleng dengan kuat. Dia tidak mau kalau sampai itu terjadi, kalau sampai dia salah melakukannya, bisa-bisa kiamat terjadi hari ini juga. Dia masih terduduk memeluk buku itu sejak beberapa menit berlalu. Dirinya dipenuhi kegalauan, dia percaya bahwa dia bisa melakukannya, tapi sesuatu dalam dirinya jelas tidak bisa dipercaya. *** Dalam pertemuan antar kelompok dan pemimpin negara. Satu ruangan besar itu telah membahas fenomena yang membuat panik warga kemarin. Tak hanya itu, mereka juga membahas soal kerasukan yang akhir-akhir ini tampak lebih intens dan kuat. Pemimpin negara dan bawahannya memang bukanlah pendukung para Demon Slayer itu. Mereka hanya memberi izin selama tidak merugikan mereka. “Tetapi, ini sudah di luar batas, apakah kejadian delapan belas tahun itu akan terjadi kembali?” tanya sang wali bicara pihak negara. Wajahnya sangat menyebalkan, membuat Hyusa sendiri malas menatapnya. Wajah yang penuh dengan keremehan. “Sepertinya begitu, dan aku yakin akan lebih dahsyat. Benarkan, Hazaru, Carden?” ucap ketua tim Whale, Guso yang melikir dengan penuh ejekan pada mereka. Hyusa berdecak kecil menahan emosinya. Sedangkan kelompok Clam hanya diam mengikuti arah pembicaraan. Kowa dan Yuji hanya bisa melirik dengan wajah prihatin pada kelompok Dolphin. Merekalah yang melihat sendiri kehebatan dari gadis bernama Crimson yang dipermasalahkan itu. Mereka ingin sekali memberi dukungan pada pihak Dolphin, tetap ketua tim Clam sendiri hanya diam. Mereka tahu aturannya. Clam harus berdiri dengan netral, membantu para Slayer bagaimanapun keadaannya. Bukan memihak salah satu. “Apa jawabanmu, Hazaru?” tanya wali bicara itu lagi. Pria paruh baya yang masih tampak elegan itu tersenyum santai. “Kami tahu, gadis itu adalah keturunan langsung klan Kama. Kami tidak bisa mengabaikannya, kalian pun harusnya paham. Tanpa klan dia, kita semua tidak akan duduk di sini sebagai anggota Slayer.” “Crimson adalah gadis yang masih lugu, tapi juga berani. Dulu kalian memuja orang tuanya, lalu mengapa sekarang sangat membenci anaknya?” lanjut Hazaru melempar pertanyaan itu pada Whale dan lainnya. “Kami tidak pernah benar-benar memuji Aijo dan Redric, Hazaru. Kami cukup menghormatinya saja sebagai Slayer yang paling kuat pada masanya. Tetapi, sekarang anaknya membawa bencana, dia akan mengamuk, Ozzazin akan lebih kuat dari sebelumnya. Kau juga tidak bisa mengabaikan itu, apa kau mau mempertaruhkan keselamatan para manusia di dunia ini demi seorang gadis terkutuk itu?” “Jaga bicaramu, Tuan Guso!” hardik Hyusa. “Saya tahu dia membawa kutukan, iblis nomor 1 di alam semesta. Tapi, tetap saja, dia hanyalah seorang bayi tak berdosa pada saat itu. Dia tidak bisa melawan, dia hanya bisa menangis ketika dilahirkan. Kebahagiaannya terampas saat itu juga, bahkan satu menit sebelum dia lahir ke dunia.” “Lihatlah, Yang Mulia presiden, kelompok Dolphin memang memiliki mental lemah. Apakah mereka akan tetap berada di atas? Apakah kalian akan tetap mempercayai mereka? Mereka yang telah sengaja memelihara iblis itu,” ucap Guso mengalihkan. Brak! Kali ini Kowa berdiri menggebrak meja. Semua orang terdiam menatapnya. “Tuan Guso, Anda telah keterlaluan. Bukankah para Slayer memang bertugas menolong dan melindungi masyarakat dari para iblis? Kelompok Dolphin hanya berusaha menyelamatkan satu gadis yang sekarat ini. Kukatakan sekarat karena jiwanya telah bersatu dengan sang iblis nomor 1 di alam semesta. Dia menderita selama delapan belas tahun.” “Kowa?” Ketua tim Clam pun menegurnya untuk tidak berpihak pada siapa pun. “Maaf, Tuan Haku. Saya melihatnya sendiri, gadis itu sangat kuat, tetapi dia mendedikasikan kekuatannya untuk menolong orang lain yang kesulitan. Bukan untuk menyerang.” “Lalu,” Seorang anggota kementrian mengangkat tangan, “bagaimana dengan berita itu? Dia tampak menyerang Visco.” Semua pun menoleh pada Visco yang duduk di sebelah ketua timnya. Dia yang sedari tadi diam pun enggan bicara. Tetapi, semua menunggunya bersuara. “Ya, dia memang menyerangku.” Semua orang langsung ribut bersbisik dan menduga kebenaran kabar itu. Carden hanya diam menghela napas atas jalannya rapat ini. “Tuan Carden, bukankah kita harus membela? Crimson tidak melakukannya seperti yang diberitakan,” bisik Itto yang duduk di sebelahnya. “Tidak, kita tidak perlu membela diri mati-matian kalau berita itu saah. Biarkan orang-orang yang mengatakan kebenaran, maka semua mata akan terbuka,” balasnya tenang. Hyusa yang mendengar itu pun hanya bisa mengembuskan napas berat. “Tapi, dia melakukan itu karena aku mengejeknya.” Tiba-tiba pernyataan Visco membuat semua orang kembali diam. “Dia marah padaku karena aku mengejek Nyonya Aijo, dan … yang menghabisi iblis itu--” “Ah, itu hanya perdebatan. Masa karena itu saja, gadis itu menyerang Visco sampai babak belur? Apa itu dibolehkan untuk sesama Slayer?” Guso memotong perkataan Visco dengan cepat. “Baiklah,” sang pemimpin negeri pun bersuara, “kita selesaikan rapat ini dengan rencana yang matang. Crimson harus dikurung atau bagaimanapun caranya, kita harus membunuh iblis itu.” “Maksudmu, kita harus membunuh Crimson, begitu, kan?” sanggah Hyusa. Pemimpin negeri itu pun menutup mulut karena tidak enak mengatakannya secara langsung. “Yaa, apa kalian memiliki cara yang lebih baik?” “Aku setuju untuk membunuhnya!” seru Guso mengangkat tangan. Mau tak mau anggota timnya pun mengangkat tangan. Pemimpin negeri dan wali bicaranya pun ikut mengangkat tangan. Sudah ada enam orang yang mengambil suara. Sementara yang lain masih bingung dan menatap masing-masing dari mereka yang sama-sama bingung. “Kita tidak bisa memilih langsung secara tiba-tiba begini. Bagaimana pendapat masyarakat yang pernah dia tolong? Bagaimana dengan anggota lain yang tak ikut rapat? Poling ini harus terbuka, karena dia telah dikenal oleh semua orang di beberapa negara. Semua orang punya hak untuk bersuara,” jelas Carden. “Dan … semua kembali pada Tuhan. Hanya Dia yang bisa menentukan hidup dan matinya seseorang.” Semua orang menurunkan tangannya dengan kesal. Hingga akhirnya Haku, ketua tim Clam sekaligus penengah rapat itu berdiri. “Baiklah, rapat dihentikan sementara, sembari kita menunggu reaksi para warga serta perkembangan Crimson untuk beberapa waktu ke depan. Sementara itu, kami, para Slayer akan memperkuat diri. Khususnya Clam akan membuat senjata baru dan alat bertahan yang lebih baik. Kalau hal terburuk terjadi, kami siap menyelamatkan apra warga. Kami akan mengungsikan mereka seminggu sebelum tanggal yang ditentukan.” Semua orang pun setuju dan menunda rapat itu sampai batas yang tak ditentukan. Satu persatu mereka keluar ruangan, mulai dari pemimpin negara dan bawahannya. Lalu, para Whale yang keluar dengan angkuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN