"Apa yang membuatmu diam terlalu lama di hutan ini?”
Sebuah suara mengejutkan Cyrene yang tengah menatap pohon besar di depannya. Dia menoleh dan mendapati biksu Roku di sana.
“Aku hanya mendengar dentuman sekali ketika kau masuk, lalu selebihnya hening. Hanya terdengar makhluk-makhluk berisik seperti biasanya saja ketika sore menjelang.”
“Aku ….” Cyrene menggantung kalimatnya karena bingung bagaimana cara menyampaikan apa yang tengah dia rasakan. Biasanya dia berkeluh kesah pada Carden seorang. Hanya pria itu yang selalu melihat kerisauan dalam hatinya.
“Apa kau ragu untuk menggunakan teknis pelepasan?” tanya biksu Roku lagi.
“Begitulah, aku hanya belum tahu bagaimana mengontrol kekuatannya. Jadi, aku mempelajarinya sedikit lebih lama di sini.”
Biksu itu mengangguk. Kemudian dia berjalan ke belakang tubuh Cyrene dan menghadap pohon besar tersebut.
Tangannya terangkat dan menyibak pelan seperti membuka pintu tak kasat mata. Bayangan hitam itu pun keluar dengan raungan yang memekakkan telinga. Dia pergi ke arah yang jauh. Pohon itu pun tetap kering dan mati.
“Pohon ini akan selamanya begini, dia tidak bisa tumbuh lagi, dan tidak bisa juga roboh sendiri. Iblis hanya akan merusak tempatnya,” jelas biksu Roku dengan tenang.
Kemudian dia menoleh lagi pada Cyrene yang sudah menatapnya dengan raut penuh kekhawatiran.
Biksu itu tersenyum berusaha menenangkannya. “Tenanglah, kau pasti akan baik-baik saja. Karena kau adalah Kama Cyrene. Kau tidak selemah pohon ini.” Kemudian dia berjalan memunggungi Cyrene untuk kembali ke kuilnya.
“Ta-tapi, boleh aku tahu sudah berapa tahun pohon ini berdiri?”
Biksu itu berbalik lagi. “Kira-kira sejak zaman nenek moyangku.”
Degh!
Gadis itu tersenyum getir. “Wah, sungguh sangat tua dan … kuat.”
Biku Roku kembali tersenyum. Senyumnya lebih lebar seolah tahu bahwa Cyrene hanya sedang menghibur diri. Dia pun mengajak gadis itu kembali ke kuil untuk menyudahi latihannya.
Matahari semakin turun, langit oranye memenuhi angkasa. Hutan semakin gelap, para hantu dan iblis hutan mulai menampakkan dirinya. Namun, baik Cyrene dan biksu itu tetap bergeming tak menanggapi keberadaan mereka. Hantu-hantu dan iblis itu hanya melihat dari jauh, ada ketakutan dalam pandangan mereka.
Hingga sampailah mereka di kuil setelah berjalan perlahan selama kurang lebih delapan menit. Carden sudah tampak di sana.
Cahaya oranye membuat rambut dan manik matanya semakin bersinar. Pria itu tetap saja berwajah datar, dalam keadaan apa pun. Kecuali ketika tersenyum pada anak-anak atau pada Cyrene. Senyum yang membuat siapa pun yang melihatnya terpana dan jatuh cinta. Namun, bagi Cyrene rasa itu adalah rasa kagum dan penghormatan karena pria itu telah mengurusnya sejak dia masih belia.
“Bagaimana?” tanyanya.
Cyrene mengedikkan bahu. Dia tidak berkata sepatah kata pun dan hanya meraih petinya.
“Dia sangat hebat, sudah menguasai teknik penyegelanku, tapi butuh melatih pengontrolan energinya saja.” Biksu Rokulah yang akhirnya menjelaskan.
“Hmm, sudah kuduga. Dia tidak perlu berlatih lama-lama, aku bisa mempercayainya.”
Cyrene mengembuskan napas berat dan berjalan melewati Carden begitu saja setelah berterima kasih pada biksu Roku.
Carden merasa ada yang aneh dengan sikap itu. “Ada apa dengannya?” tanyanya pada biksu Roku.
“Hmm, mungkin karena dia belum bisa menggunakan teknik pelepasan segel. Dia takut iblis dalam tubuhnya yang keluar.”
“Begitu.”
Carden pun pamit dan menyusul Cyrene yang telah menuruni anak tangga. Pria itu masih bingung, tak biasanya gadis itu berjalan tanpa dirinya.
“Kau masih belum bisa menggunakan teknik pelepasan segel? Tidak masalah, masih ada hari esok. Kau hanya perlu percaya pada dirimu, jangan dengarkan iblis itu.”
Cyrene hanya mengiyakan tanpa menoleh. Sebentar lagi mereka sampai ke tangga terakhir. Lampu jalan sudah terlihat menyala.
“Suasana hatimu tidak baik, Cyrene.”
Carden meraih tangannya hingga membuat keduanya berhenti di anak tangga ketiga dari bawah. Carden langsung mengalirkan cahaya merah muda di sana. Namun, Cyrene melepasnya dengan cepat. Carden terkejut dan mengerutkan dahi. Maniknya melihat keseluruhan tubuh Cyrene seperti sedang memindai.
“Aku baik-baik saja, sedang tidak dipengaruhi apa pun. Kau bilang kau tidak akan selalu membantuku dengan itu. Jadi, aku tidak perlu ditenangkan. Ini murni tindakanku.”
Cyrene pun kembali melangkah turun dan menunggu taksi di sana. Jalanan di sana memang selalu sepi. Meski ada saja taksi yang lewat beberapa menit atau bahkan jam. Dirinya enggan menunggu lama, jadi dia memutuskan untuk berjalan menuruni gunung itu.
“Crimson!” bentak Carden.
Entah kenapa suara itu bagai perintah yang tak bisa dia abaikan di telinga Cyrene. Dia berhenti dan langsung berbalik dengan tatapan heran, tetapi melihat mata tajam pria itu seolah dia sedang dimarahi, dia pun hanya bisa menatap aspal yang mereka pijak.
Pria itu berjalan mendekat dengan santai. Tetapi, gadis itu terus menunduk menyadari kesalahannya. Dia telah menentang Carden atau mengabaikannya. Dia tahu itu tidak masalah, Carden hanyalah pria yang mengurusnya seperti ayahnya dulu. Namun, perasaannya berkata lain, ada ketakutan yang mengatakan bahwa dia tidak boleh menentangnya atau mengabaikannya begitu saja. Insting itu juga berkata bahwa Carden berbeda, dia sendiri juga harusnya tahu. Namun, berkat rasa kecewanya, dia nekat. Padahal dia belum tahu apa alasannya dirinya selalu tak dibawa ketika rapat penting.
Pikirannya terus berdebat, mungkin saja ada alasan baik di belakang sana, atau memang karena dia ini beban. Mungkin Carden hanya tidak mau mengatakan yang sejujurnya, tetapi dia juga memiliki rasa percaya pada pria tinggi nan tampan itu bahwa Carden bukanlah pria yang tidak jujur. Tidak mungkin pria sebaik, sesabar, dan setenang itu bertindak licik. Tetapi, sekali lagi Cyrene tidak benar-benar tahu, karena banyak manusia yang tidak dia percaya.
Tapi, apakah dia ini manusia? Dia begitu sempurna, harusnya aku tidak bertindak kekanakan, batinnya.
“Aku hanya kecewa karena tidak pernah diikutsertakan dalam rapat penting. Aku juga anggota King, kan?” katanya akhirnya mendongak menatap wajah Carden yang tetap bersinar walau melawan cahaya lampu jalan.
Tubuh Carden yang tinggi itu membuat Cyrene mendongak terlalu tinggi. Sementara Carden hanya meliriknya ke bawah tanpa membungkuk sedikit pun.
“Apa kau mau dihakimi? Kau mau mendengar kata-kata buruk dari para anggota lain? Kau mau menentang pemimpin negara?” tanyanya dengan suara lantang dan berat.
Bola mata Cyrene membesar. “Jadi … selama ini--”
“Ya,” potong Carden sembari mengembuskan napas beratnya. “Tapi, beruntung, kali ini ada yang membelamu, Cyrene. Kau tahu siapa?”
“Si-siapa?”
“Kowa, dia sampai berdiri dan menggebrak meja.” Lalu, diceritakanlah jalannya rapat itu pada Cyrene.
Gadis itu pun tersenyum simpul, hatinya merasa lega sekaligus kalut. Kalau ada pemilihan secara menyeluruh, berarti kemungkinan besarnya dia akan dimusnahkan.
“Aku … hanya perlu membuktikan, kan? Aku tidak mau mati di tangan mereka, aku inginnya mati di tanganku sendiri. Karena akulah yang telah membunuh ayah ibuku!” pekik Cyrene mengepal tangannya.
“Tentu saja, kaulah pemilik tubuhmu, dan Tuhan yang menentukannya bukan manusia. Aku percaya, Tuhan punya rencana yang lebih baik.”
“Terima kasih, Carden.” Cyrene pun kembali tersenyum. “Aku juga tidak takut menghadapi semua masyarakat, karena kau akan selalu di siku. Iya, kan? Kau … tidak akan meninggalkanku?”
Carden memeluk tubuh Cyrene dengan erat. “Tugasku adalah melindungimu, terutama menyelamatkanmu dari keburukan para iblis. Jadi, kau sudah tahu jawabannya.”
Gadis itu merasa tersanjung karena hanya dari pria itulah dia mendapatkan kasih sayang yang hilang dari orang tuanya, bahkan dari orang-orang di sekitarnya. Cyrene pun membalas pelukan Carden.
“Hmm, rasanya seperti aku memiliki kakak yang sangat menyayangiku.” Lalu, dia menyadari sesuatu dan mendongak ke atas. “Carden, apa kau tidak merasakan apa pun ketika memelukku? Maksudnya, itu … makhluk itu ….”
Carden menatap wajah Cyrene dari dekat. “Tidak, aman, kok. Kau meremehkanku?” tanyanya balik dengan senyum mengejek.
“Ah, kau membuatku ingin menangis!” Cyrene kembali membenamkan kepalanya dalam pelukan pria tinggi itu. “Aku sangat sangat berterima kasih padamu yang mau berjalan di sisiku, mau memelukku, dan selalu memberiku aura kehidupan yang menyegarkan.”
“Baiklah! Sudah cukup, kita harus pulang. Taksinya akan datang.” Carden melepas pelukannya dan menoleh ke belakang.
Dan benar saja sebuah mobil taksi melintas. Pria itu pun menghentikannya dan mereka berdua kembali ke rumah Cyrene.
Gadis itu masih saja memendam banyak pertanyaan dan rasa penasaran pada pria di sebelahnya. Sesuatu yang tak seorang pun tahu, dan mungkin hanya dia yang dapat melihatnya. Dia juga menerka-nerka, apakah Carden mengetahui bahwa dirinya tahu mengenai Carden atau tidak? Selama ini pria itu selalu terlihat tenang tanpa ada perasaan gusar sekali pun.