Emma

1273 Kata
uara ramai-ramai di malam buta membangunkan Cyrene yang terlelap. Matanya celingukan mencari tombol lampu kamar. Klik! Klik! Klik! Sayang, lampu di rumahnya tak berfungsi lagi. Dia pun mencari Carden keluar. Tampak di balik dinding pagar rumahnya sudah banyak asap dari obor yang mengepul ke langit-langit. Obor yang tak hanya satu melainkan belasan. Suara para warga juga mulai terdengar marah dan berteriak-teriak. “Bakar rumahnya! Bakar bersamaan dengan gadis itu sekarang juga!” “Ya, dia hanya membuat kekacauan di sini. Dia hanya membawa petaka!” “Ayo lempar!” Dan begitulah bagaimana obor-obor itu masuk menerjang rumah Cyrene. Refleks dia mundur dan terjatuh di depan ruang tengahnya. Pintu samping yang terbuka lebar membuat beberapa obor masuk ke dalamnya. Api langsung membakar segalanya yang bisa mereka sentuh. Gadis itu terbelalak. Dia berusaha bangkit dan keluar melalui pintu depan. Kakinya berlari tanpa perintah, tetapi begitu pintu depan dibuka, para warga yang marah sudah menutup akses keluar gerbangnya. Api sudah ada di antara mereka. Menyala-nyala dan semakin ganas. Bahkan dia melihat beberapa kelompok Slayer diam berdiri bersama para warga itu. Carden pun hanya diam di depan gerbang rumahnya menatap Cyrene dengan datar. Menyaksikan gadis itu terjebak di dalam rumahnya dengan kobaran api. Gadis itu mencoba memanggil Carden, tapi suaranya seperti tidak keluar. Dia semakin mundur. Dan saat itulah dia melihat jilatan api sudah sampai ke dapurnya. Di sana ada gas, Cyrene terperangah dan …. Duaarrr! *** Napasnya terengah-engah, keringat mengalir deras dari dahi sampai ke lehernya. Piyama tidurnya pun basah. Gadis itu tersadar dan menatap Carden yang sudah berada di atas tubuhnya mencengkeram pergelangan tangannya yang hendak menyakitinya dengan kuku tajam dan cahaya merah di tangan Cyrene. Gadis itu tidak menyadari bahwa ada tato merah berbentuk petir yang menjalar dari lengan kiri sampai ke wajah kirinya, bercahaya bagai kobaran api. Gigi taringnya keluar dan bola matanya merah semerah darah. Carden menekan tubuh Cyrene yang terbangun tiba-tiba dan terduduk di kasurnya. Napas Cyrene masih begitu cepat. Pria itu berhasil membuat tubuh Cyrene kembali terbaring, tangannya meronta, tetapi dia langsung mengalirkan cahaya merah muda ke kedua lengan Cyrene. “Tenanglah, itu hanya mimpi buruk,” bisik Carden mengecup ubun-ubun gadis itu dan memejamkan mata. Seluruh tubuhnya bercahaya, dan sebagian cahaya itu mengalir di tubuh Cyrene. Gadis itu mengerang kesakitan. Sampai akhirnya perlahan tato itu berangsur menghilang, gigi taringnya kembali normal, dan bola matanya kembali tenang. Carden membuka mata dan menatap wajah gadis manis di bawahnya itu. Cyrene menatap wajah Carden yang tampan tanpa cela, air mata keluar dari ekor matanya. Napasnya sudah lebih tenang sekarang. Carden pun bangkit dan duduk di pinggir ranjang. “Apa … aku menyerangmu saat tidur?” tanya Cyrene dengan suara lemah. “Tidak. Sejujurnya aku selalu memperhatikanmu ketika kau tidur lelap, memastikan jantungmu tidak berhenti atau tidak tiba-tiba berubah seperti barusan.” Cyrene baru tahu soal itu. Dia pun duduk dengan perlahan. “Aku … bermimpi, semua orang menginginkanku mati. Semua orang tak terkecuali dirimu,” ucapnya dengan tatapan lemah ke jemarinya yang ditautkan di atas selimut yang masih menutupi sebagian tubuhnya. “Itu hanya mimpi buruk yang Ozzazin ciptakan, supaya dia bisa bangkit dan menguasai tubuhmu, Cy.” “Dan dia berhasil, kan?” Pandangan Cyrene nelangsa melihat bola mata keemasan Carden. “Hampir, tapi … ya, ini sangat berbahaya. Semakin hari dia semakin kuat seiring bertambah kuatnya dirimu. Ditambah, waktu kebangkitannya semakin dekat.” Gadis itu meremas selimutnya dan alisnya hampir menyatu. Kemarahan, ketakutan, kesepian menyerangnya secara bersamaan. Namun, tangan Carden yang besar dengan jemari jenjangnya merenggangkan remasan tangan Cyrene dan menggenggamnya. “Percayalah pada dirimu sendiri, percaya padaku, dan Tuhan.” Suara itu selalu bisa menenangkan hati Cyrene. Akhirnya mimpi buruk itu hanyalah mimpi buruk, sesuatu yang sangat tidak gadis itu harapkan menjadi nyata. *** Hari ini Cyrene memutuskan untuk tidak melakukan teknik pelepasan segel, sampai kapanpun dia tidak akan mempelajarinya. Biksu Roku memahami itu dan memberi Cyrene kesempatan untuk memilih. “Bolehkah aku memberikan teknik itu pada Hyusa-senpai?” “Kenapa harus dia?” “Karena aku sangat mempercayainya lebih dari siapa pun setelah Carden. Dia juga pria yang kuat dan berhati lembut.” “Bukankah dia sangat membencimu dulu? Dia tidak menginginkanmu.” Cyrene tersenyum tulus. “Tapi, aku tidak membencinya. Kalau aku harus mengulang kehidupanku, aku akan memilih menjadi juniornya lagi.” “Syukurlah, kau masih memiliki hati yang sangat lembut seperti ibumu.” Biksu Roku pun mengangguk mengizinkan gadis itu memberikan satu teknik tersebut pada Hyusa. Dan siang itu Cyrene mendapat tugas baru, dia diminta pergi ke sekolah menengah atas di kota Fukushima. Seorang slayer tingkat tiga telah ke sana dan membereskan kerasukan masal itu, tetapi ada satu murid yang masih kerasukan. Katanya sudah sejak minggu lalu, dan iblis itu masih tidak mau pergi. Pemuda tingkat tiga itu tidak tahu harus pakai cara apa lagi, dan barulah dia ketahui bahwa yang merasuki tubuhnya ada lima iblis termasuk Kuxin dan hantu bunuh diri. Cyrene datang setengah jam kemudian karena perjalanan yang cukup jauh. Gadis itu berlari dengan cepat memasuki sekolah yang sudah ramai anak murid dan guru-guru di luar. Gadis itu mematung di belakang mereka, matanya mencari-cari keberadaan sang iblis. Instingnya pun langsung aktif, dia langsung melihat ke atas balkon sekolah. Aura yang sangat gelap ada di sana. Dan saat itulah seorang pemuda terdorong ke pinggir batas dinding karena dicekik oleh anak perempuan yang kerasukan itu. Semua orang yang menyaksikan di bawah berteriak histeris. “Emma! Jangan, Nak! Sadarlah!” teriak seorang wanita yang diketahui adalah ibunya tengah dipeluk oleh seorang guru perempuan yang ikut menangis dan panik melihatnya. Cyrene pun langsung berlari membelah kerumunan. Semua orang terkejut dan tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Mereka hanya bisa menonton dan berdoa dengan cemas. Gadis itu menaiki anak tangga dengan cepat. Menaiki tiga lantai tidak membuatnya terlalu kelelahan. Dia membuka pintu dengan kasar dengan napas tersengal. Tatapannya tajam pada anak perempuan yang menyadari keberadaannya menoleh dengan mata menghitam dan wajah pucat. “Cri-Crimson, tolong!” pekik pemuda itu masih mencoba bertahan agar tak mati dicekik atau jatuh terempas. Cyrene mendekat perlahan sembari membuka peti kayunya. “JANGAN IKUT CAMPUR! KAU GADIS BR*NGSEK!” Suara yang menggelegar itu keluar dari mulut gadis cantik mungil berambut panjang. Cyrene benar-benar marah. Dia mengibaskan Halberd-nya dan mendekat dengan cepat. Anak itu hendak mendorong tubuh pemuda di depannya sebagai pengalihan, tetapi Cyrene berhasil mengibaskan senjatanya dan membuat sebuah angin kencang yang mengempaskan anak perempuan itu. Pemuda yang dicekiknya pun terlepas meski sedikit terhuyung dan hampir jatuh. Cyrene segera menghampiri pemuda itu dan mnariknya menjauhi dinding pembatas. “Kau bisa menahannya untukku?” tanya gadis itu. “Se-sebentar saja mungkin, kekuatanku tidak sebanding dengannya.” “Tidak apa-apa, Haru, kau hebat, kok. Sudah menyelamatkan mereka semua.” Cyrene melirik ke bawah gedung, menunjuk anak-anak murid dan guru-gurunya yang tak terluka sedikit pun. Pemuda bernama Haru itu pun kembali percaya diri. Namun, belum sempat pemuda itu menahan anak kecil tadi, anak itu sudah melompat ke bawah. Cyrene membelalak melihat adegan itu seolah waktu berjalan lambat. Secepat kilat dia naik ke dinding pembatas dan mengentakkan tombaknya ke sana. Orang-orang di bawah sana sudah berteriak ketakutan. Namun, dentuman terdengar. Anak perempuan yang kerasukan itu pun terpental oleh penghalang tak kasat mata. Anak bernama Emma itu mendarat dengan sedikit terseret di atas balkon. “Kau tidak akan bisa menyakiti mereka. Aku sudah memasang kekkai yang tak seonggok iblis busuk sepertimu bisa masuki!” “Kurang ajar!!” katanya mengerang. Dengan cepat dia melompat dan menyerang Cyrene. Tetapi, gadis berambut merah itu sigap menghindar. Haru mundur ke sudut dekat pintu keluar dan mulai mengeluarkan kertas jimat. Dibacanya sebuah mantra sebelum kertas itu terbang menempel di dahi Emma. Anak itu pun meraung dengan suara melengking yang memekakkan telinga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN