The Devil Slayer

1556 Kata
“Bu, kenapa tidak ada yang mau berteman denganku? Di sekolah, semua anak-anak menjauh dan ketakutan. Apa aku sejelek itu?” tanya Cyrene kecil yang duduk di pangkuan ibunya di teras rumah. Ibunya dengan sabar melempar senyum dan mengelus rambut hitam panjang anak semata wayangnya itu. “Mereka hanya malu, karena kamu adalah anak yang sangat cantik.” “Tapi … beberapa anak pria mengatakan kalau aku ini makhluk terkutuk. Mereka membenciku, ya, Bu?” Sang ibu terenyak, air matanya menggenang, bibirnya dikatupkan dengan erat. Namun, dia tetap tersenyum dan memeluk anaknya dengan erat. “Cyrene, anak ibu yang paling cantik dan baik hati, tidak ada yang membencimu. Jangan pernah berpikir seperti itu, mereka hanya iri karena kamu terlihat sempurna. Tetaplah berprasangka baik dan perlakukan mereka dengan baik juga, ya.” *** “Berhentilah mengatakan hal buruk itu, Visco! Kau tidak tahu apa-apa!” bentak Itto yang sudah berdiri tegak. Sementara suara kehancuran dan erangan terdengar. Iblis itu mulai menghancurkan rumah di sekitarnya sementara Hyusa sibuk menghalau. “Bisakah kalian selesaikan ini dulu?!” hardiknya dari atas kepala sang makhluk. Pria klimis bernama Visco itu membuang ludah dan mengangkat pecut berwarna emasnya. Namun, yang dia incar bukanlah sang makhluk itu melainkan tangan kiri Hyusa. Seketika pria berambut panjang putih itu terbanting ke rumah lainnya sampai melewati persembunyian Cyrene. Gadis itu terkejut dan mempererat tudungnya. “Apa yang kau lakukan?!” teriak Itto lagi. “Sudah kubilang, biar kami yang tangani. Ini hal yang sangat mudah!” Kedua pria lainnya mulai melesat ke sisi kanan dan kiri makhluk besar itu. Melempar jaring bercahaya keemasan dan membungkus makhluk itu. “Kalian terlalu membanggakan diri Visco,” ucap Carden yang masih menatap mereka dari atas pagar dengan santainya. “Bukankah kalian yang terlalu sombong?! Mentang-mentang tim Dolphin didirikan oleh klan Kama yang menjadi kelompok pertama di dunia. Kalian selalu berada di puncak, kenyataannya, kalian begitu lemah. Kamilah yang paling kuat. Masyarakat pun tahu itu, mereka semakin sadar setelah kalian melakukan kesalahan besar, Carden!” Pria itu tidak berhenti di sana. Dia melempar cambuknya untuk mencekik leher sang makhluk yang telah dirasuki Donyaku dan Kuxin. Makhluk menyeramkan itu kembali mengerang dan memberontak. “Dengar, Carden. Kelompok Dolphin sudah jatuh, semua berkat dua sejoli yang kalian elu-elukan itu, siapa namanya? Aijo. Wanita yang kalian banggakan, wanita keturunan langsung pendiri Dolphin, rupanya wanita yang paling bodoh yang pernah kutemui saat itu.” “Visco!” teriak Itto berusaha menghentikan kalimat buruk yang terus dilemparkan pria berjubah tersebut. Di saat yang bersamaan, Hyusa bukannya tidak kembali, dia berdiri di atas tiang listrik tak jauh dari tempat Cyrene bersembunyi. Dia memperhatikan gadis itu. “Kenapa dia ke sini? Aku bisa merasakan darahnya bergejolak. Apa dia sedang kambuh?” tanyanya pada diri sendiri sembari mempererat genggaman Sakabatou-nya. Rambut putih yang dia ikat satu tinggi itu tertiup angin dengan indah, tetapi satu matanya tidak lepas dari gadis di bawah sana. “Itu kenyataan! Untuk apa dia mendatangi medan pertempuran di saat perut buncitnya sudah hampir tua. Aku tahu saat itu dia masih bisa bergerak lincah, tapi apa akibatnya? Dunia ini dalam bencana sekarang. Karena wanita bodoh itu!” “Ini adalah salahmu, Bu!” Kalimat yang pernah dia lontarkan di depan makam sang ibu kembali terngiang. Hatinya semakin sakit manakala dia menyadari kesalahannya. Perkataan salah satu anggota Whale itu tak beda jauh dengannya. Dia menyalahkan ayah dan terutama ibunya. Kini hatinya semakin memanas karena telah bertindak jahat, bahkan pikirannya sama dengan Visco. “Cukup, Visco! Jangan kekanakan!” bentak Carden. Suara Visco menggelegar sampai menusuk jantung Cyrene. Napasnya berdetak cepat, tubuhnya mulai berasap. Dia keluar dari persembunyian. Saat itulah Carden memejamkan mata, dia tahu betul Cyrene berada di sana sejak kedatangan pertamanya. Sekarang gadis itu telah terpancing. “Berhenti di situ, Crimson!” perintah Carden tanpa menoleh. Namun, gadis itu tidak berhenti. Dia terus berjalan mendekat, justru Visco dan yang lainlah yang terkejut melihat kedatangan Crimson yang tak diduga. Hyusa melesat dan mendarat di samping tubuh Carden. “Biar aku yang tangani,” ucapnya. “Tidak perlu. Dia harus melatih dirinya sendiri untuk melawannya.” Carden dengan santai menoleh pada Cyrene yang telah berdiri di depan tubuh Visco yang lebih besar darinya itu. “Aku … bukan iblis! Namaku Aijo Cyrene, anak dari Aijo Kama dan Redric Kama. Seorang pembasmi iblis! Aku memiliki kekuatanku sendiri.” Gadis itu melirik pada Hyusa yang dulu pernah menyindirnya. “Dan … berhenti mengoceh seperti anak kecil!” “Apa?!” Sebelum Visco membalas ucapan Cyrene, iblis di belakang mereka mengamuk dan menghajar kedua kawannya. Visco terkejut melihat dua kawannya menghantam tanah dengan keras sampai tak berdaya. Kini, pria itu kembali mencambuk makhluk yang semakin membesar itu. Cambuk yang seharusnya bisa mengikat dan melepaskan iblis dalam tubuh manusia, kini terasa seperti cambuk biasa. Carden, Itto, dan Hyusa melompat ke udara bersiap melakukan perlawanan. “IZINKAN AKU YANG MELAKUKANNYA!” teriak Cyrene. Sontak mereka bertiga berhenti dan mendarat di atas genting rumah lain. “Jangan gegabah, Crimson!” bentak Hyusa kesal. “Biarkan, Hyusa!” balas Carden. Hyusa pun berdecak karena tidak bisa melawan perintah Carden. “Ha? Kau bisa apa? Yang ada kau malah memperkuat mereka, dasar iblis bodoh!” ejek Visco. Cyrene melesat dengan cepat sementara Visco terkena pukulan dari iblis itu dengan tiba-tiba. Visco pun muntah darah meski masih bisa bangkit. “Kurang ajar!” pekiknya. Iblis itu sudah lebih besar dari sebelumnya. Cyrene berdiri di atas pohon besar yang tak jauh dari makhluk besar itu. Bola matanya membesar, dia bisa melihat jiwa malang di dalamnya begitu tersiksa. “Kita … bertemu lagi …. Kenapa kau juga ada … di sini?” ucap iblis itu dengan suara serak dan besar. “Rorkuxin, sudah kukatakan padamu, jika kita bertemu lagi, maka datanglah dengan tubuhmu sendiri. Dasar pengecut!” “Ahahaha!” Makhluk itu terbahak-bahak geli. “Lalu, apa yang … akan kau lakukan tanpa … senjata saktimu itu?” Cyrene meremas kedua tangannya. Dia memejamkan mata sejenak dan mengingat kembali masa kecilnya bersama sang ayah. Kemudian dia membuka mata tepat ketika makhluk itu menyemburkan lendir hitam padanya. Gadis itu melompat tinggi dan menggerakkan kedua tangannya. Kedua tangan itu di arahkan ke tubuh sang iblis. Mengukur dan kedua tangannya membentuk lingkaran seperti menggenggam bola besar. Tangan kanan di atas, kiri di bawah. Perlahan dia mengeluarkan energi positif dalam dirinya dan menekan lingkaran itu dengan susah payah, seolah benar-benar ada sesuatu di sana. Sampai sesuatu yang tak kasat mata itu membentuk sebuah bola cahaya kehitaman. Semakin dia menekannya, semakin makhluk itu berteriak dan mengamuk. Sebelum makhluk itu menghancurkan segalanya yang ada di sekitar lebih parah lagi, Cyrene mempercepat tekanannya. “Ayah, aku bisa, aku pasti bisa! Apa yang telah kau ajarkan padaku, akan kubuktikan sekarang! Lihatlah aku, Ayah!” ucapnya dalam hati. Kemudian dia berhasil menekan cahaya itu sampai di depan dadanya. Iblis itu berteriak kesakitan, dan terlihat serpihan tubuhnya mulai terlepas. “TIdak! Kau tidak … mungkin bisa … melakukan ini, gadis k*****t!” caci Kuxin yang bersemayam kuat di dalam tubuh itu. Cyrene mengatur napasnya, karena tiba-tiba darahnya bergejolak lagi. “Kau yakin itu kekuatanmu, Crimson?” tanya seseorang di dalam kepalanya. “Bukankah itu milikku? Apa yang mau kau buktikan?” Cyrene mulai ragu dan panik. Tetapi dia menggeleng dengan kencang. “Tidak, ini adalah kekuatanku. Ayah yang mengajarkannya, berhentilah menggangguku!” Salah satu bola mata Cyrene berubah merah. Nmaun, dia menahan gejolak itu sekuat tenaga, bersamaan dengan energi lain yang harus dia perkuat. Cyrene memperkuat segelnya. Kesepuluh jarinya ditegangkan seperti sebuah cakaran. Dan dalam sekejap dia menekan habis bola cahaya itu. Boom! Kedua telapak tangannya menyatu, iblis itu tiba-tiba hancur berkeping-keping seperti sobekan kertas yang telah terbakar. Lalu kedua tangannya dikaitkan seperti kunci mati. Saat itulah serpihan itu kembali terhisap oleh sesuatu dan terempas menjadi abu. Semua bersih seketika tanpa jejak. Kedua tangan Cyrene pun terlepas dan dia melompat ke bawah, tepat di hadapan Visco yang terbelalak menatap kejadian itu. Gadis yang dikenal dengan sebutan Crimson itu pun menarik kerah baju Visco kuat-kuat. “Kau boleh menghinaku, tapi jangan pernah menghina orang tuaku! Dan berhentilah mengoceh, kau bahkan tidak bisa fokus dalam membasmi iblis. Lihatlah kerusakannya karena kau menyepelekannya dengan terus berpidato!” Kemudian dia mendorong tubuh Visco sampai melesat jauh menabrak tiang listrik tiga meter di belakangnya. Cyrene sendiri terkejut. “Maaf, tidak sengaja. Tapi, sekarang siapa yang paling bodoh, ha?!” teriaknya penuh emosi. Carden, Hyusa, dan Itto pun turun menghampirinya. Napas Cyrene mulai tak keruan, tubuhnya terasa panas. Kemudian pria tinggi berpakaian serba hitam dan sepatu putih itu membalik tubuh Cyrene dan memasukkan dalam pelukan dengan satu tangan. “Kau hebat, Cyrene!” seru Itto. Namun, sebelah tangan Carden terangkat menandakan untuk tidak mengatakan apa pun dulu. Itto pun menurut dan menjadi khawatir. Sementara Hyusa masih dengan dahi berkerut memperhatikan lengan Carden yang bercahaya merah muda memasuki punggung gadis itu. Tanpa diketahui siapa pun, bola mata merahnya telah menghilang kembali menjadi ungu keabuan. “Kalian, tolong urus sisanya, kami harus pergi sebentar.” Setelah Carden mengatakan itu, dia membopong tubuh Cyrene. Refleks Hyusa bisa melihat sekilas mata Cyrene yang menangis. Gadis itu langsung membuang wajahnya dan membenamkannya ke tubuh Carden. Salah satu tangannya meremas kemeja Carden sebelum Carden melompat tinggi. Mereka terbang tinggi untuk bisa segera sampai ke rumahnya. Hyusa terkejut dan ekspresinya dipenuhi beragam pertanyaan yang dia sendiri sudah tahu betul apa jawabannya. Akhirnya dia memasukkan kembali Sakabatou-nya ke sarung di samping pinggangnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN