Home Sweet Home

1316 Kata
“Dia telah kembali.” “Yang benar? Apa dia akan mengambil bagian untuk mengontrol daerah sini?” “Itu bisa bahaya, bagaimana kalau aku kerasukan sedikit saja, bisa-bisa aku tewas.” “Ya jangan sampai dia tahu, jika terjadi sesuatu padamu atau keluargamu, temui anggota lain saja.” “Lagi pula, untuk apa dia kembali?! Merepotkan saja, semua orang bisa ketakutan, tahu!” “Entahlah apa yang dipikirkan oleh kelompok Dolphin. Sepertinya kita hanya bisa berharap banyak pada kelompok Whale.” *** Carden telah pergi menuju TKP baru yang sebelumnya telah diinfokan oleh bagian pemantau. Ceryn kini hanya duduk di depan kopernya yang masih terkunci. Dia tidak diizinkan untuk ikut bertugas hari ini untuk menenangkan diri, karena di depan sana, ujian terberat akan datang. Meski dirinya sudah bersikeras untuk segera bersiap, pria itu hanya diam meraih kemeja baru dalam kopernya yang ada di sisi lain ruangan. Gadis itu pun berhenti memaksa dan duduk pasrah membuka koper untuk berganti pakaian dan membawa kemeja milik Carden ke laundry. Beruntungnya semua benda di rumah ini masih terawat meski lima tahun ditinggalkan. “Ada yang mengurusnya, jadi kau bisa pulang kapan pun,” kata Carden saat di perjalanan pulang kemarin. Mereka merawat rumah ini karena mendiang orang tuaku saja, bukan karena aku pasti akan kembali. Cyrene kembali dihantui pikiran meragu pada orang-orang yang membantunya. Karena sejak dia lahir, tidak pernah ada yang membantu selain ayah dan ibunya. Dia sudah terbiasa hidup mandiri dengan segala cap buruk dirinya yang diberikan orang lain. “Sumimasen!” Cyrene yang baru saja selesai mencuci piring sisa sarapannya, bergegas ke genkan dan membuka pintu gesernya lebar-lebar. Ya, rumah orang tuanya ini masih terbilang rumah tradisional yang belum memakai pintu biasa. Dia terkejut melihat tiga remaja muda di depannya. Dua perempuan dan satu lelaki. Pakaian mereka hitam dengan lambang cangkang kerang berwarna gold. Itu adalah seragam khusus para pembasmi iblis, tetapi logo itu tidak Cyrene kenal. Terakhir melihatnya adalah lima tahun lalu, sekilas, sebelum akhirnya dia dibawa pergi oleh Carden ke Rusia. “Se-selamat pagi, Nona Crimson!” seru salah seorang perempuan yang berambut pendek dengan ragu-ragu. “Selamat datang kembali!” sambung si lelaki dengan tegas. “Kami kemari ingin menanyakan, apakah Anda butuh sesuatu? Apakah ada yang belum kami bersihkan?” timpal perempuan terakhir yang berambut kepang satu. Cyrene melempar senyumnya. Jadi, mereka yang menjaga rumah ini? batinnya. Kemudian berkata, “Tidak ada. Terima kasih banyak, kalian sudah menjaga rumah ini. Orang tuaku pasti akan senang!” Mereka bertiga pun mengangguk. “Kami membersihkannya dengan cepat kemarin, karena tahu Anda akan kembali. Biasanya kami hanya menyapu taman dan mengepel engawa, tapi kemarin kami mengepel lantai dalam, menyediakan sayur dan beberapa bahan makanan di kulkas. Mencuci sprei, selimut, dan mengganti dengan yang baru. Kami juga membersihkan peralatan rumah yang cukup berdebu setelah ditutup kain begitu lama. Apakah itu semua sudah cukup? Atau ada yang tidak Anda suka?” jelas si lelaki muda itu dengan lancar tanpa terbata-bata. Cyrene terkejut mendengarnya. “Te-terima kasih. Makanan ... aku belum sempat cek kulkas.” “Jadi, Anda belum sarapan? Ini sudah mau siang!” seru si pemilik rambut kepang. “Eh, bukankah Tuan Carden tadi mengatakan kalau Nona Crimson sedang sarapan bubur, dan meminta kita untuk kembali satu jam kemudian?” jelas perempuan berambut pendek menimpali dengan suara pelan. Ketiga remaja itu saling sahut dan mengangguk. Cyrene pun menyadari sesuatu, bibirnya kembali menyunggingkan senyum. “Iya, aku sudah sarapan. Terima kasih banyak, kalian tidak perlu kemari selagi aku ada di sini. Aku akan menjaga rumah ini seperti dulu.” “Baiklah kalau begitu, kami permisi. Oh, ya, tim pertahanan sudah menaruh dua orang anggota terkuatnya untuk menjaga tempat ini. Karena katanya, Tuan Carden akan sering keluar, jadi Anda tidak perlu khawatir.” Setelah itu percakapan pun berakhir dan mereka bertiga pamit. Cyrene kembali ke dalam dan termenung. Dirinya merasa menjadi orang yang tidak berguna tanpa Ozzoroi-nya. Senjata halberd yang selalu dia andalkan. Akhirnya dia kembali memakai jaketnya dan pergi keluar. Di depan gerbang rumahnya benar-benar ada dua pria tangguh. Mereka hanya membungkuk ketika melihat Cyrene keluar. “Nona mau ke mana?” tanya salah satunya. Cyrene berhenti dan menoleh padanya. “Perlukah kau tahu? Jangan ikuti aku!” “Tapi, Tuan Carden--” “Aku akan menemuinya! Jadi, jangan ikuti aku! Jaga saja rumah ini,” hardik Cyrene dengan tatapan datar. Kilatan matanya berhasil membuat pria tangguh itu menurut. Meskipun dia kuat, tapi dia tidak berani melawan gadis yang disebut Crimson itu. Gadis yang dirumorkan memiliki darah terkutuk dan sangat ditakuti. *** Carden telah berada di sebuah rumah mewah milik salah satu anggota kementrian Tokyo. Dia tidak sendiri, ada Hyusa dan Itto. Tuan Ayase yang berumur 45 tahun telah kerasukan Donyaku-makhluk rakus pemakan jiwa. Rumah itu sudah disterilkan. Beberapa keluarga menunggu di luar, tempat yang agak jauh bersama beberapa tim pertahanan. Tubuh pria paruh baya itu sudah membengkak dengan kulit kemerahan. Dia terus mengerang dan menghancurkan perabotan di sekitarnya. Bahkan ketika ketiga tim King itu datang, tubuh Ayase sudah membesar sampai tiga meter dan hampir menyentuh langit-langit rumahnya. Cyrene tiba di lokasi kejadian setelah melacak radar keberadaan iblis yang sedang ditangani oleh Carden. DIa mengintip dari balik gang depan rumah yang dikerubungi beberapa orang itu. “Auranya sangat berat, apa Rorkuxin ada di sini?” tanyanya pada diri sendiri. Kemudian tiga orang berjubah hitam dan seragam putih datang dengan elegan, dari arah timur rumah itu. Orang-orang yang berkerumun pun mulai riuh memuja-muja kedatangan mereka. “Whale!” teriak mereka dengan girang seolah mereka telah diselamatkan. Otomatis Carden dan dua kawan di dalamnya mendengar. Hyusa mulai berdecak kesal dan mempererat genggaman Sakabatou-nya. Itto juga mulai ancang-ancang melempar shuriken sucinya meski dia memiliki Ninjaken kembar di punggungnya. Sedangkan Carden sendiri hanya berdiri tenang dengan kedua tangan di dalam saku. “Kita selesaikan dengan cepat sebelum mereka ikut campur.” Cyrene yang masih mengamati dari luar mulai serius memperhatikan. Baru kali ini dia melihat kelompok Whale lagi setelah lima tahun berlalu. Mereka masih sama, memiliki wajah yang selalu tersenyum dengan gelagat keangkuhan. Mereka berdiri di depan rumah yang setengah hancur itu. “Carden! Biar kami yang mengatasi, supaya lebih cepat. Itu bukan hanya Donyaku!” teriak pria berambut klimis yang ada di tengah. Lalu kerumunan warga mulai bertanya-tanya dan panik mendengar makhluk Donyaku disebut. Beberapa orang tahu bahwa itu adalah iblis tingkat tiga. Cyrene pun mengangguk. Dia setuju dengan pernyataan pria itu, karena dirinya sendiri merasakan aura yang sama dengan Rorkuxin, meski samar-samar. “Itu pasti hanya bayangan, seperti yang kuhadapi terakhir di Rusia. Tapi, Carden, Hyusa-senpai, dan Itto pasti mudah menghentikannya. Kenapa tim Whale ikut campur?” bisik Cyrene. Tiba-tiba rumah itu meledak dan membuat para warga terkejut berhamburan. Tim pertahanan mulai mengevakuasi seluruh warga ke tempat aman. Namun, di saat yang bersamaan, ketiga tim King keluar. Carden terlihat berdiri di atas rumah seberangnya, Hyusa terseret angin ledakan dan mendarat di atas genting sebelah rumah tersebut. Sementara Itto terbanting ke depan sampai tak sengaja menabrak tubuh ketiga anggota Whale sampai mereka semua terdorong menabrak pagar dinding di belakangnya. Cyrene memasang tudungnya dengan mata terbelalak. Makhluk besar keluar dari dalam rumah itu. Tingginya sudah mencapai rumah itu sendiri. Tubuhnya bengkak seperti babi dengan kulit kemerahan dan satau tanduk di dahi. Bahkan gadis itu bisa melihat bayangan Rorkuxin di dalam tubuhnya. Pria itu benar-benar sudah dimakan habis. Cyrene ternganga dan mengepal kedua tangannya. “Cih, sudah kubilang masalah ini seharusnya ditangani oleh para Whale, bukan orang-orang yang sudah melemah seperti kalian!” bentak salah satu pria dari Whale sembari mendorong tubuh Itto yang menimpanya. Itto pun meringis dan berusaha bangkit, tetapi pria berambut klimis tadi menendang perut Itto sampai dia terpental beberapa meter menjauh. “Kalian hanya pengganggu, kalian sudah tidak becus melawan iblis! Kenapa? Karena kalian memelihara iblis itu sendiri!” hardiknya dengan penuh emosi. Refleks jantung Cyrene berdenyut kencang. Ada kemarahan di dalam dirinya. Karena dia tahu, yang sedang dibicarakan mereka adalah dirinya. Napasnya mulai menderu karena kemarahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN