Keesokannya Gizka bangun pagi dan mengerjakan pekerjaannya seperti biasa. Meski ia merasakan badannya sedikit kurang sehat tapi tetap ia paksakan. Sesekali ia melirik ke kamar Leo yang masih tertutup rapat. Sejujurnya Gizka merasa bersalah atas ucapannya semalam yang memang ia akui keterlaluan. Tapi untuk minta maaf, saat ini Gizka masih gengsi. "Duh ... kok tiba-tiba pusing, sih?" keluhnya sembari ke kamar untuk mengambil minyak angin dan mengoleskannya ke leher juga ke perutnya yang juga terasa tidak nyaman. Setelah dirasa cukup, ia kembali ke dapur untuk merapikan dapur. Ternyata di sana sudah ada Leo yang sedang minum air putih. Awalnya Gizka ingin memberanikan diri memulai pembicaraan tapi melihat Leo yang acuh dan seperti tak menganggap dirinya ada. Nyali Gizka menciut dan akhirnya

