Siang itu pembeli cukup ramai. Nampak Gizka sekuat tenaga menjaga matanya yang tinggal lima watt itu untuk tetap membuka. Juga tetap berusaha menjaga keramahannya dalam melayani pembeli yang datang. Tetapi saat toko kembali sepi. Dalam sekejap rasanya ia ingin ambruk saja. Sayangnya seumur hidup ia tidak pernah pingsan dan tidak tahu caranya pingsan. "Giz!" Gizka terlonjak dari posisi duduknya ketika mendapati sebuah seruan tepat di telinganya. "I-iya, Bos," jawabnya tergeragap. Lalu hal pertama yang ia lakukan adalah mengelap iler di sudut bibir dengan cueknya. "He ... maaf, Bos ...," ucapnya nyengir. Leo menggelengkan kepalanya. "Makanya kalau malam itu tidur, Giz. Bukannya telfonan sampai pagi," sindirnya. Entah ini sudah sindiran ke berapa yang ia terima hari ini dari Leo Elbara. "

