"Ih, nyebelin!"
"Haha... sabar, ya. Semoga aja hujannya reda."
Naya tersenyum. Sesekali memeriksa daun-daun di taman. Seperti sepasang kekasih di tengah hujan, lalu menunggu seseorang menjemput dengan payungnya.
Namun, tunggu dulu. Apakah dia menanti seseorang kekasih? Atau dirinya yang lain?
Ia malah memeriksa buku di ransel merah mudanya. Matanya lekat memastikan halamannya aman. Tak basah karena hujan. Tak rusak karena terlipat jarak.
Tak ada musim yang menunggu kotanya siap sedia. Kota itulah yang harus siap sedia selalu. Siapapun tak bisa mengutuk hujan, hanya karena waktu. Apalagi hanya karena gerutu.
Kalau saja di ranselnya tak ada buku dan sesuatu itu, mungkin ia akan bosan menatap hujan. Lebih dari tiga puluh menit di sana, hujan mulai reda.
Aroma petrichor yang dinantikannya, pun belum muncul sempurna.
Gadis itu kembali membuka ranselnya. Mencari pena dan menuliskan rahasia di bukunya. Percik kegembiraan tergurat jelas di sana.
"Kamu lagi ngapain? Hayo nulis apa?" Nata datang mendekatinya tiba-tiba.
Sontak, Naya menutup bukunya. "Apaan sih, Mas. Ngagetin aja. Gak ngapa-ngapain ko."
"Kamu suka menulis?"
Naya menganggukkan kepala.
"Ok. Hujan mulai reda, nih. Kayaknya alam merestui rencana berlibur kita. Mas ke garasi dulu, ya. Siapin kendaraannya. Ok?"
"Iya, Mas."
"Kalau sudah siap, nanti Mas ke sini lagi."
Naya tersenyum dan menganggukkan kepala. Nata pun segera ke garasi menyiapkan kendaraannya.
Perempuan itu kembali melanjutkan yang ditulisnya di halaman buku. Terlihat aneh dan sia-sia? Tak ada sia-sia dalam kamus hidupnya.
Namun, tak ada raut wajah sedih, kesal, apalagi marah darinya. Kata orang, wajah perempuan sepertinya tak cocok kalau marah. Jadi, ia sudah belajar tak menampakkan marah sedari kecil di wajahnya. Ia pindahkan dalam pena. Ke dalam halaman-halaman buku yang penuh mata dan telinga.
Saat hujan mulai kembali ke tanah sepenuhnya, aroma petrichor menyerbak indahnya. Mata perempuan itu terpejam. Dibiarkannya hidungnya mencium aroma khas itu.
"Indah... sejuk. Aku suka aromanya."
Naya menutup halaman buku yang berisi sesuatu. Memasukkannya ke dalam tas, dan mempersiapkan diri menunggu suaminya.
Perempuan itu memegang secarik kertas. Ternyata, ia sudah mengambilnya terlebih dahulu. Dimasukkannya ke dalam sebuah amplop lucu. Sebuah amplop bermotifkan buku dan hujan. Hujan dan buku.
"Semoga kamu suka." Lirihnya pada amplop lucu itu.
Perempuan itu tetap berusaha menumbuhkan kasihnya. Semata, berharap seseorang yang akan diberinya kertas di amplop lucu itu baik-baik saja.
"Ya Tuhan, aku tak tahu kenapa perasaan ini mulai tumbuh. Apakah ini pertanda dari-Mu, bahwa dia adalah laki-laki yang baik?" Gumam Naya.