"Kamu ingat?" Belum sempat Nata menjawabnya, perempuan itu kembali melanjutkan ceritanya. Alhasil, Nata mencoba mengerti. Alangkah lebih baiknya dia mendengarkan sepenuhnya dulu. Membiarkan perempuan itu yang tak lain adalah Budenya, bercerita sepuasnya. "Sebelum meninggal, dulu Ibumu sering mengajakmu kesini, Nak." "Ya... ke sawah itu. Di sana." Perempuan itu menunjuk sawah di sebelah utara. Nata mengikuti arahannya. "Ya. Dulu Ibumu sawahnya cukup. Bisa dibilang banyak. Punya jodoh juga orang baik. Sampai tiba bertemu orang licik itu." "Siapa, Bude?" Ekspresi kebencian sangat terlihat di wajah Budenya. Bude yang tak lain adalah anak dari Mbah Toid. "Bude memang tak tahu pasti penyebab kematian Ibumu dulu. Tapi sampai sekarang, Bude masih gak terima dengan orang licik itu. Sampai

