Tubuhnya yang tinggi dan tegap membentuk bayangan lekat di mata Naya. Nata kali ini kembali berpamit diri. Bersegera menemui sawah yang sudah dititipkannya. "Sayang, kamu hati-hati, ya. Kalau ada apa-apa, segera telpon aku. Ya?" "Iya, Mas. Kamu yang hati-hati." "Aku serius. Jaga diri baik." "Iya, Mas." Naya tersenyum. Setelah mencium tangan suaminya penuh takzim, lalu memandanginya dari jauh. Menjalani pilihan yang bukan pilihan kita memang sering terasa sulitnya. Namun, Nata tetap berusaha menjalankannya. Ia melihat penampilannya sendiri. Sebuah celana kain dan kaos oblong. Pun, lengkap dengan topi capingnya. "Aku tak pernah menyangka jaz yang biasa kupakai, jadi sebuah kaos oblong dan topi caping." "Dan ... lihatlah. Sepatu kulitku berubah jadi sandal jepit yang sederhana." Guma

