"Kemana?!"
"Nah... sini."
Nata menunjukkan sebuah area camping ground. Beberapa saat kemudian, datang seorang pemandu. Dia pun juga menyewakan tenda.
Tak lama, sebuah tenda terpasang di area camping ground. Tepat menghadap pantai dari sekian ketinggian. Debur ombaknya kian tak tertahankan. Begitu menyejukkan.
"MasyaAllah, Mas. Indah sekali."
"Kita bermalam di sini?"
"Iya. Takut?"
Naya menggelengkan kepala. Matanya menyorotkan sebuah bahasa terima kasih. Tak pernah mengira ia bisa mulai menerima laki-laki asing yang sempat dibencinya itu.
Ya, agaknya Naya mulai bisa menerima nasib sepenuhnya. Terlebih perlakuan Nata yang begitu menjaganya. Meskipun dalam beberapa hal lainnya, terlampau berlebihan. Semata untuk menjaga istrinya.
"Pantai bagus untukmu, Sayang," ucap Nata sambil menggenggam tangan Naya. Berpandangan dan memandang debur ombak pantai dari ketinggian bersamaan.
"Kenapa kamu tahu, Mas?"
"Kamu baca buku Gadis Pantainya Pram kemarin 'kan?"
"Iya. Lalu?"
"Setidaknya, aku sedikit mengerti. Kamu pasti menyukai hal seperti ini. Sesuatu yang membuatmu lebih tenang. Keluar dari dinamis dan hiruk pikuknya dunia."
Naya tak mampu berkata lagi. Ia hanya menyunggingkan sebuah senyum.
"Mas..."
"Ya?"
"Kamu pernah tanya padaku, apa keinginanku 'kan?"
"Ehm... iya?"
"Aku boleh mengatakannya sekarang?"
"Tentu."
"Ini. Tapi jangan buka sekarang. Nanti saja. Yah?"
Naya memberikan buku catatan kecil bermotif hujan yang sempat jatuh saat di rumah itu.
"Kenapa?"