"Kenapa?"
"Gapapa. Aku pengin nanti aja kamu bukanya."
"Yasudah. Aku taruh di saku, ya?"
Naya menganggukkan kepalanya. Tersenyum bahagia.
"Mas?"
"Iya?"
"Pernah membayangkan sesuatu hal buruk terjadi?"
"Huss! Kenapa nanya gitu?"
"Enggak, Mas. Cuma terlintas saja."
"Hal buruk bagiku tak bisa menentukan pilihan sendiri. Meskipun aku juga bisa melewatinya. Aku sempat membencimu, Mas. Tapi... aku bisa melaluinya."
"Sekarang jatuh cinta, nih?" ledek Nata.
"Ish... lagi serius juga!" Naya refleks mencubit pinggang Nata.
"Aw!! Iya-iya. Kenapa? Terus-terus?!"
"Nabraaak!!"
Naya memagutkan ujung bibirnya. Ngambek.
"Cieee ngambek."
"Ndak."
"Ehm... yaudah duduk sini, gih."
Nata mengajak Naya duduk di depan tenda. Angin bercampur debur ombak kian tak tertahankan ketenangannya.
"Sejuk banget ya, Mas."
"Iya. Kamu suka?"
"Huum. Banget."
Naya menyandarkan kepalanya di pundak Nata. Seraya tangannya menggandeng tangan suaminya itu. Mendekapnya penuh hangat mesra.
"Nyamanin... Sayang."
"Membayangkan hal buruk? Kamu ada benarnya. Sesuatu yang buruk bisa kapan saja terjadi."
"Termasuk kerjaan Mas sekarang ini. Tapi barangkali... nilainya ada pada kemampuan kita menerima. Sepertimu."
"Heh? Ngantuk?" tegur Nata.
"Ndak. Nyaman banget aja."
"Kamu nyaman. Aku pegel." Ledek Nata.
***
Nata dan Naya mulai bisa menerima, terutama Naya yang menerima nasibnya menjadi istri Nata. Namun, akankah tetap begitu? Apa pula keinginan Naya dibalik buku catatan yang diberikannya?