Part 56 - Ancaman Tak Terduga (Revisi)

1081 Kata
Kalian pernah membayangkan hidup mewah dan punya istri yang baik? Barangkali, setiap laki-laki pasti mendambakannya. Ini adalah sebuah episode yang akan membuat kalian merasakan ketulusan cinta. Kekuatan hati, tekad, kejujuran, dan mimpi. Mempunyai istri yang baik dan harta melimpah adalah dua hal dambaan laki-laki mana saja. Keduanya sudah Nata Najendra dapatkan dalam kehidupannya. Nata mulai menikmati tiap langkah rumah tangganya dengan bahagia. Namun, ancaman datang dari pihak tak terduga. Setelah kepulangannya dari berlibur, suatu masalah terjadi. Ia harus memilih menyerahkan hartanya dan pergi bersama istrinya atau meninggalkan istrinya dan tetap bisa menikmati hartanya. Sebuah pilihan sulit, tapi Nata harus menentukannya. Ya, saat itu juga! "Sayang, kamu baik-baik saja?" Nata menatap istrinya yang tergulai lemas di kamarnya. "Kamu sakit lagi? Apanya yang sakit, Sayang?" "Gatau, Mas. Kepalaku pusing. Badanku terasa lemas." "Sudah minum obatnya?" Wajahnya mulai kawatir bukan main. Dilihatnya istrinya itu. Wajahnya memucat dan semakin pucat. Nata kian panik tapi berusaha tenang. Ia segera menelpon dokter keluarganya. Tak berapa lama, dokter itu datang. Pak Dokter itu pun segera mengecek kondisi Naya. "Mas Nata, istri anda kondisinya makin parah. Sebaiknya dirawat di rumah sakit. Saya kawatir penyakitnya makin membuatnya sulit bergerak." "Maksud dokter?" "Iya. Saya sarankan dia dibawa ke rumah sakit besok, ya." "Baiklah. Akan saya urus besok, Pak Dokter. Terima kasih." Pak Dokter itu pamit. Dingin dari udara malam kian menambah aroma sunyi tersendiri. Nata duduk di samping istrinya yang terbaring. Memegang tangannya lembut. Menatapnya penuh ketenangan. Ia terus pandangi istrinya yang mulai setengah mengantuk. Matanya tetap teduh dan amat sejuk. Seperti saat pertama kali ia jatuh hati padanya. Naya, seorang perempuan yang berbeda dari lainnya, baginya. Ia bukan sekadar memenuhi definisi cantik. Meski cantik, sangat berbeda tiap mata yang akan memandangnya. Kalau hanya tentang rupa, pasti setiap laki-laki punya definisi cantiknya masing-masing. Namun, ada hal lain yang membuat Nata jatuh hati padanya. Perempuan yang sudah dinikahinya itu memiliki mata yang enak dipandang. Matanya sejuk dan menyejukkan. Tak pernah ia melihatnya marah dengan tindakan yang membuat sekitarnya takut. Pun, tak lain tak bukan karena akarnya yang juga subur oleh kebaikan. Ya, akar itu bernama hati yang tulus. Nata merasakan hal itu setiap kali di dekat Naya. Sebenarnya, Nata sudah pernah mengenal Naya dari sebuah acara sosial bertajuk kepedulian terhadap bencana gempa bumi saat itu. Naya sebagai relawan. Dan Nata, pengusaha muda yang mulai meroket namanya. Barangkali, sebab itu alasan Nata menikahinya. Lewat Naya, ia temukan ketenangan tersendiri baginya. Iapun bertekad akan selalu membahagiakannya. Apapun kondisinya. Termasuk sekarang ini. Istrinya mengidap kanker rahim yang membuatnya kecil kemungkinan untuk hamil. Namun, Nata tak pernah sedikitpun mempermasalahkannya. Ia sudah menerima kondisinya jauh hari. "Sayang... ," istrinya lirih memanggil Nata. "Iya, Sayang? Kenapa? Ada yang sakit lagi?" Naya tersenyum. Tak ada keluh di wajahnya. Ia tampak teduh dan begitu kuat. "Aku baik-baik aja, Mas." Nata mengusap rambutnya. Menenangkannya. Agar tertidur dan bisa istirahat dengan tenang. "Kenapa belum tidur, Mas?" "Aku ngrepotin, ya?" Naya selalu membuat garis senyum ketenangan tersendiri. "Sssttt, kamu ngomong apa. Tidak ada kata merepotkan dalam rumah tangga. Itu sudah jadi tanggung jawab kita bersama." "Kalau kamu sakit, aku yang harus jaga. Kalau aku sakit, aku juga gak yakin kamu bakal lari. Ya 'kan?" "Kenapa bisa yakin gitu, Mas?" Istrinya tersenyum. Sambil sedikit tertawa. Lalu berkata, "kenapa bisa yakin gitu, Mas? Gimana kalau aku beneran pergi pas kamu sakit? Atau pas kamu susah?" "Karena kamu Naya. Istriku tersayang. Aku tahu kamu. Itu bukan sifatmu." Dengan tenang, Nata menjawabnya. "Mas, bagaimana kalau aku saja yang pergi?" "Sssstt, kamu bicara apa?!" "Aku gatau penyakitku bisa sembuh apa tidak. Aku pasti bakal ngrepotin kamu terus." "Sssst, jangan bilang gitu lagi, ya. Aku akan selalu jagain kamu. Apapun kondisinya." Nata mendengarkan kembali ucapannya sendiri. Terasa ada getar makna yang berbeda saat itu. Ya, ia harus memendam masalah yang menimpanya saat itu. Tak bisa menceritakan sepenuhnya pada istrinya. Ancaman perusahaan yang bangkrut dan bagaimana menentukan langkah menjadi hal yang harus dipikirkannya. Nata terus duduk di samping istrinya. Seolah baik-baik saja. "Sayang, udah istirahat dulu, ya. Biar badanmu juga mendingan. Siapa tau dengan tidur, besoknya lebih baik. Yah?" Pinta Nata. Istrinya mengangguk. Tersenyum dan memejamkan mata. Nata tetap memegang tangan istrinya. Menenangkannya. Dan juga menenangkan pikirannya sendiri. Istrinya mulai terlelap. Dering telponnya bergetar. Nata menjauh sebentar dari istrinya. Memastikan tak didengar langsung oleh Naya. Ia pun ke ruang tamu. Mengangkat panggilan dari telepon yang masuk. "Gimana Tuan Nata? Sudah nentuin pilihan? Hahahah." Seorang laki-laki dengan suara berat dan tertawa terdengar dari sana. "Kurang ajar!!" "Hahaha, tenang, tenang. Saya masih baik hati memberi Tuan Nata pilihan. Tak langsung merebut semuanya!" "Kenapa kamu lakuin hal ini, hah?" "Anda pikir apa, Tuan Muda?" "Karena aku mencintai Naya, istrimu!!" "Kamu memang gak tau diri!! Kamu sudah ditolong sama istriku kala itu. Sekarang mati-matian mengejarnya? Kamu tau dia sudah bersuami 'kan?" Suara Nata meninggi. Ia tak bisa menahan emosinya menghadapi laki-laki di telponnya itu. "Santai, Tuan Nata. Nanti istri Anda dengar. Kita main halus saja. Masih ada beberapa hari untuk Anda memikirkannya." "Kurang ajar!!" "Hahaha." Terdengar kembali lagak tertawa di telponnya. "Masih ada beberapa hari untuk Tuan menentukan pilihan. Mau istri Anda yang diserahkan lalu pergi dari kota ini, atau seluruh harta Anda jadi milik saya. Mudah, 'kan?!!" "Tunggu saja pembalasanku!" Nata begitu geram. Emosinya kian tak teratur. Wajahnya memerah karena begitu marah. Segera ia matikan telponnya. Menjatuhkan dirinya di sofa warna biru kesukaannya. Ia duduk menunduk. Memegang kepalanya. Merenungi apa yang terjadi. Terlebih, apa yang akan ia lakukan esok hari? Sebelum ia menikah dengan Naya, Ardi sudah merintis bisnisnya. Kemampuannya dalam berbisnis, tak diragukan lagi. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Naya. Meskipun dengan cara yang berbeda. Namun, itu menambah kebahagiaan hidupnya. Bahkan, karirnya dalam menjalankan bisnis, kian menjadi setelah menikah. Bisnisnya berkembang pesat. Dengan usia yang masih tergolong muda, dua puluh dua tahun, ia layak menyandang julukan miliader muda. Kehidupannya pun bukan hedonis. Ia bahkan sering menyisihkan rezekinya untuk membagi-bagikannya dengan fakir miskin. Tak lain, karena saran istrinya yang bermata enak dipandang itu. Ia begitu merasa beruntung memiliki Naya. Perempuan yang begitu membuat hari-harinya amat sejuk. Hatinya yang tulus, selalu membuat orang-orang di sekitarnya merasa tenang dan sejuk. Tak mungkin, Nata membiarkan Naya begitu saja. Meskipun sekarang ia sedang sakit, bukan suatu alasan untuk meninggalkannya. Apalagi menyerahkannya begitu saja pada laki-laki yang mengancamnya tadi di telepon. "Apa yang harus aku lakukan, Sayang?" Gumamnya. "Aku tak mungkin menceritakan padamu tentang ini, untuk sekarang. Kamu sakit, aku tak mungkin membuatmu makin kawatir padaku." "Ok. Aku harus tenang. Tenang, Nata. Kamu hanya perlu lebih menjaganya." Ucapnya pada diri sendiri. Kalian tau apa yang akan dilakukannya, besok?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN