Part 52 - Rey Mahendra (Revisi)

326 Kata
"Mas, sebenarnya kita mau kemana sih?" "Nanti juga kamu tahu. Sabar, ya. Pegangan yang erat. Oh ya, bawa baju ganti 'kan?" "Bawa. Kan kamu sudah bilang." "Bagus. Mastiin aja." Tak berapa lama, Nata menyalakan motornya. Tiba-tiba Bi Darsih teriak memanggilnya. "Eh, Non!" "Sebentar, Mas." "Kenapa, Bi?" "Ini. Sepertinya punya Non Naya tadi jatuh. Iya kan?" Bi Darsih memberikan sebuah amplop bermotifkan hujan dan buku itu. Naya tersenyum dan mengambilnya. "Makasih ya, Bi. Aku sampai gak inget. Perasaan tadi tak taruh di tas." "Iya, Non. Ndakpapa." "Sudah, Bi?" tanya Nata. "Sudah, Den." "Oh ya, titip rumah, ya. Kalau ada apa-apa telfon saja. Tapi barangkali sinyal kurang baik, hubungi Rei saja, ya? Saya sudah bilang mau cuti beberapa hari." "Baik, Den. Hati-hati." Rey adalah salah seorang sahabat kecil Nata. Sahabat sekaligus orang kepercayaan Nata dalam menjalankan perusahaan termasuk urusan pribadinya. Memastikan orang rumah aman, selama Nata tidak ada di rumah, misalnya. "Pamit ya, Bi. Assalamualaikum." "Waalaikumslaam. Hati-hati." Dari kejauhan, tangan Bi Darsih melambaikan tangan. Pertanda Nata dan Naya sudah menjauh dari rumah. "Alhamdulillah... akhirnya bisa melihat mereka berdua mesra begitu. Jadi gak sabar pengin nimang cucu. Eh, anak mereka maksudnya," celetuk Bi Darsih menahan tawa. "Kenapa senyum-senyum, Bi?" ucap suara berat tapi terdengar teduh. Tak lain dari Rey Mahendra—laki-laki bertubuh tinggi dan berkulit sawo matang itu. "Eh, Mas Rey. Ndakpapa, Mas." "Ada perlu sama Mas Nata? Barusan sudah pergi," tutur Bi Darsih. "Ouh, Ndak, Bi. Saya cuma mau memastikan rumah ini baik-baik saja. Tadi, Nata sudah bilang ke saya." "Ouh iya. Silakan masuk, Mas." "Makasih, Bi." "Mas Nata itu kadang aneh ya, Mas? Kan di rumah sudah ada satpam. Kok ngrepotin Mas Rey begini," celetuk Bi Darsih. Rey hanya tersenyum tipis. Matanya menatap beberapa foto di dinding ruangan tamu. Ia pun berlanjut masuk ke ruangan tengah sekaligus ruangan bersantai yang terhubung ke taman. Di ruangan itu, beberapa foto keluarga terpajang. Pandangan Rey sejenak berhenti. Memandang foto pernikahan Nata dan Naya. "Kamu bahagia sekarang, Ta?" Gumamnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN