"Mbak Nayanya kenapa ndak ikut, Mas?" "Iya, jaga rumah, Bu. Istirahat. Toh, saya juga ijinnya sebentar." "Sekarang sudah menetap di sini atau?" "Mungkin beberapa waktu saya dan keluarga bakal di kampung ini, Bu." "Alhamdulillaah... jadi ketemu temen lama. Senang sekali rasanya." Nata tersenyum melihat segurat bahagia dari perempuan yang berjalan dengan caping di kepalanya itu. Tarian padi-padi yang mulai menguning, angin sejuk dari pepohonan jati, turut menemani sengatan terik matahari. "Oh ya, Mas. Tapi Bapak lagi sakit. Kebetulan sudah beberapa bulan ini." "Innanillahi... sakit apa, Bu?" "Dulu sekali pernah cek sih ada gangguan di paru-parunya. Tapi Bapak memilih gamau diperiksa lagi. Sampai sekarang." "Mas Nata tau sendiri kan, gimana bapak kalau sudah bertekad." Nata tersenyu

