"Kenapa, Mbah? Mbah benar panggil saya?" Nata bertanya setengah ragu pada Mbah Toid. "Benar. Kemarilah, Nak. Ada hal penting yang ingin Mbah sampaikan." Mbah Toid berkata dengan suara beratnya. "Iya, Mbah. Ada apa?" Nata duduk bersilah di hadapan Mbah Toid. "Saya paham masalahmu dengan Wira. Apa kamu sudah dengar nasihat Bude Larasmu itu?" "Iya, Mbah. Saya dan Istri saya sudah dengar." "Bagus. Sekarang, apa lagi yang kamu pikirkan?! "Istrimu setuju 'kan?" "Ehm... maaf, Mbah. Saya belum yakin," ucap Nata ragu. "Kamu lebih rela Naya, istrimu direbut begitu saja sama Wira, 'hah?!" "Rela kalau suatu saat kamu benar-benar kehilangan istrimu, Hah?!" Mbah Toid mulai berbicara dengan nada tinggi. Seakan mulai kesal dengan sikap Nata. "Sekarang ini sudah gawat. Kamu hampir mati kemarin! H

