Setelah kepergian bapak, ibu terlihat murung, tiap hari hanya diam, meski sambil melakukan pekerjaan rumah tetap saja Ibu melamun. Aku menghibur ibu sesekali karena juga harus bekerja. Sekarang aku jadi tulang punggung, hanya ibu satu-satunya keluarga yang kupunya, dan aku satu-satunya harapan ibuku. "Ibu jangan sedih berlarut-larut, nggak baik ikhlasin bapak ya..." "Ibu udah ikhlas kok, Nak. Apa kamu udah pikirin amanah bapak?, kamu nggak lupa kan?" Aku yang tadi memperhatikan ibu kini membuang muka ke arah lain, tak tahu harus menjawab apa. Aku hanya diam seperti orang yang berpikir keras, padahal aku hanya tak mau menjawab pertanyaannya. "Nak, Ibu ingin kamu segera nikah, Ibu kesepian, Ibu ingin nimang cucu." Perkataan ibu langsung menusuk tepat dihati. Aku ingin menjerit ber

