Aku kembali bekerja seperti semula, meski pikiranku berkelana. Mendengar penuturan Ibu aku merasa sedih karena Bapak terkena hipertensi, aku merasa bersalah, meski bapak tak mengeluh sedikitpun mengutarakan sakitnya tapi aku tahu pasti Bapak kepikiran tentang aku. Aku harus bereskan masalahku sesegera mungkin. Aku menghubungi Rendi, lagi. [Gimana Ren? udah ada yang nawar rumah?] [Udah ada yang nawar-nawar, banyak malah tapi katanya pada mau lihat dulu rumahnya gimana....] [Ya udah pulang kerja aku kasih kuncinya ke kamu ya?] [Iya sayang] [Udahlah Ren jangan gitu mulu napa?] [Emang aku sayang, nggak boleh?] [Boleh, tapi....] [Tapi apa, Ra? aku nggak pernah main-main kalo soal perasaan. Emang dari dulu aku sayang kamu, tapi kamu nggak peka.] [Haha, bisa aja loe bikin gue keta

