Pipi Olivia bersemu, hanya mendapat pesan dari Max saja dia sudah bahagia. Apalagi Max menjanjikan mereka akan bertemu nanti malam, ia makin kegirangan. Ia tak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang bagai bunga mekar setelah layu beberapa waktu. Max bagaikan air yang menyirami hatinya, segar dan ia membutuhkannya. "Vi!" panggil Olin. "Emang ke mana, Lin, Violanya?" tanya El yang masih belum memutuskan telepon mereka. "Itu lagi nyengar-nyengir. Woi! Violaa! Sadar wooyy gue matiin ini kalo lo ngelamun!" pekik Olin yang sedikit kesal karena diabaikan. Viola tak merasa bersalah, ia lalu menoleh ke ponselnya di mana kedua sahabatnya menunggu. "Apasih, ngiri aja lo, hahaha." Kekehan Viola justru membuat Olin semakin kesal, ia cemberut mengerucutkan bibirnya, memalingkan mukanya dari la

