Pelukan Pertama

1866 Kata
Adrian adalah seorang pria yang sangat tampan dan menawan. Wajahnya yang bersih berkilauan dan tubuhnya yang atletis seakan mengundang semua orang untuk mendekat dan merasakan sentuhan halusnya. Ia selalu tampil dengan busana mewah, dengan pakaian semi formal yang menunjukkan kemewahan dan ketampanan yang ia miliki. Setiap langkahnya terlihat anggun dan penuh kewibawaan, dan suaranya yang merendah tetapi tegas selalu mendapat perhatian semua orang di sekitarnya. Sementara itu, Mona tidak bisa terjebak dalam situasi ini karena harus melindungi perasaannya terhadap Abel,dia hanya bisa mengagumi Adrian secara diam-diam. Terlebih saat Adrian mengirim dua orang yang datang dan memberinya baju dan aksesoris, ketika Mona mengambilnya, secara tak sadar dia merasakan getaran yang hangat di hatinya dan memberinya perasaan yang membuatnya sulit bernafas. Ketika Adrian meraih tangannya, dia seperti seorang putri yang dicintai oleh seorang pangeran tampan, sesuatu yang tak pernah dirasakan Mona sebelumnya. Bahkan ketika di dekat Abel, perasaan sebahagia itu tidak ada, tetapi ketika berada di dekat Adrian, keadaannya berbeda - suara d**a yang berdebar-debar, kesepian yang sangat dirasakan, dan keinginan untuk memiliki Adrian seolah menjadi sesuatu yang menggelitik dari dalam dirinya sendiri. Malam itu, setelah berjabat tangan dengan Adrian dan melepas kepergiannya dan Abel, Mona terus berpikir tentang bertemu kembali dengan pria tampan itu. Ketika dia berbaring di tempat tidur, dia terus mengingat rasa hangat yang dialaminya ketika Adrian menggenggam tangannya. Ia bimbang dan bingung,tidak tahu seharusnya berada pada posisi yang mana,dengan Abel atau Adrian? "Mona,besok pagi aku harus kunjungan kerja di luar kota." suara Abel memecah suasana.Mona yang terbaring di samping Abel memiringkan tubuhnya ke arah Abel seraya berkata, "Berapa hari kamu pergi Abel?" seolah Mona tahu Abel akan pergi berhari-hari,seperti yang terjadi pada beberapa waktu sebelumnya. "Kurang lebih satu minggu Mona." jawab Abel sembari tersenyum lembut ke arah Mona. "Jadi kamu tidak bisa menemaniku di lokasi Syuting?" Mona bertanya kembali. "Iya Mona,maaf,tapi nanti kamu akan langsung bertemu dengan Adrian,jadi kamu tidak akan merasa asing disana." Abel memberi gambaran pada Mona kalau ia tidak akan merasa sendirian di lokasi syuting. "Oke Abel,semoga semua pekerjaanmu juga berjalan lancar." Mona menutup kalimatnya dengan kecupan. "Emuach." Namun seperti biasanya,Abel tidak membalas ciuman Mona dengan tindakan,hanya senyum yang tampak mengembang di wajah misteriusnya. Abel sangat menjaga Mona sedemikian rupa,selama mereka tampak hidup bersama,tak pernah Abel menyentuh tubuh Mona apa lagi menikmatinya.Padahal perkenalan Abel dan Mona di kota besar pada tahun lalu,telah memberi gambaran jelas pada Abel siapa Mona dan apa profesinya. Mona melihat Abel sebagai pria yang normal,pada pagi hari Mona juga memperhatikan ketika mereka bangun tidur,kejantanan Abel tampak tegak menonjol di balik boxer yang ia kenakan.Karena memang di Apartemen mereka tinggal,untuk tidur mereka selalu satu ranjang,meskipun disana terdapat dua kamar tidur. "Abel,ayo kita sarapan," "Oke Mona," "Wah,enak sekali omlet ini." "Kamu suka Abel? hanya sarapan sederhana seperti ini yang bisa kusajikan Bel." "Ini sudah sangat cukup Mona.Oya Mona,nanti Adrian akan datang.Dia akan memberi sedikit gambaran tentang bagaimana kamu syuting." Abel memasukkan makanan terakhir ke mulutnya.Kemudian ia mengambil gelas minumnya. "Sekaligus dalam dua hari ini kalian bisa lebih mengakrabkan diri untuk pendalaman peran kalian." lanjut Abel. "Oya? apa Adrian akan datang bersama kru film lain?" tanya Mona. "Tidak Mona,yang kalian butuhkan fokus waktu kalian berdua." jawab Abel sembari merapikan alat makan dihadapannya. Mona menunduk,ada setitik tanda tanya dalam dirinya.Setahun lalu,Kala itu Abel mengajaknya ke luar kota,memulai kehidupan baru dan pernah menyatakan menyukainya kemudian meminta Mona untuk berhenti dari dunia malam.Tapi kenapa kini ia akan dibiarkan berdua saja dengan seorang pria tampan di dalam Apartemen mereka. Tepat jam 10 pagi, Adrian datang bersama seorang wanita cantik dan elegan yang ternyata adalah manajernya. Mona terkesima melihatnya, mata Mona terpaku pada tubuh Adrian yang terlihat semakin sempurna dengan setelan jas hitam yang ia kenakan dan kemeja putihnya dengan kancing sedikit terbuka , mengungkap d**a bidangnya yang halus. Mona menelan ludah melihat keindahan Adrian yang terus meningkat di matanya. "Mona." "Dela," "Saya manajer Adrian,senang bisa berkenalan dengan Mona." ucap wanita yang menyebut namanya Dela. Dela adalah seorang wanita yang sangat cantik dan menarik perhatian di para pria. Ia memiliki rambut panjang hitam yang terjatuh indah di bahunya, dengan mata tajam berkelap-kelip yang membuat hati setiap pria normal berdegup kencang. Ia selalu memakai pakaian yang elegan dan menawan, menunjukkan keanggunannya sebagai seorang manajer yang profesional. Seperti bunga cantik yang sedang mekar, Dela punya aura yang menarik seperti magnet yang membuat lelaki tidak bisa berhenti memikirkannya. Tidak hanya penampilannya, Dela memiliki percakapan yang cerdas dan kehangatan yang menyejukkan.Semua hal tentang Dela seperti berkata bahwa ia adalah wanita sempurna di mata pria yang berhadapan dengannya. Mona heran,apakah benar wanita ini manajer Adrian,apakah seorang manajer secantik dan seseksi ini. "Kalian mau minum apa?" Mona mencoba menawarkan minuman untuk mereka. "Tidak usah Mona,terimakasih." sahut Dela. "Oya Mona saya membawakan script yang harus kamu pelajari,nanti Adrian akan membantumu." Dela memberikan beberapa tumpuk kertas pada Mona. Mona melihat ke arah wanita itu dan tersenyum. Ia merasa sedikit canggung,ia tahu bahwa ini debut pertamanya.Bahkan sebelumnya ia hanya seorang penghibur malam,ia bertanya lagi pada dirinya sendiri,apakah ia mampu melakukan semua ini. Di ruang tamu yang kecil itu, Adrian mulai memberikan beberapa detail tentang lokasi syuting dan segala persiapan untuk waktu yang akan datang. Dia juga menjelaskan bagaimana Mona harus mempersiapkan dirinya dan segala sesuatunya selama di sana. "Mona, ini akan menjadi kesempatan terbaik untukmu. Kamu harus menunjukkan kemampuanmu dan membuat kesan yang baik selama syuting. Jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan ini," kata Adrian seraya tersenyum lembut. Mona hanya dapat mengangguk dalam diam. Picu kecil perasaannya terhadap Adrian kembali terbakar. Ia merasa seperti ia bisa terjebak dalam kharisma Adrian setiap kali matanya memandang. Setelah bertemu dengan Adrian dan manajernya dan beberapa perbincangan,Mona,Dela dan Adrian kemudian berjalan-jalan keluar dan melihat-lihat sekitar kota. Mereka makan siang bersama di restoran mewah dan mengobrol dengan santai. Mona merasa sangat nyaman dengan Adrian dan mulai membuka diri. Mereka berbicara tentang banyak hal, termasuk tentang Abel dan hubungannya dengannya. Adrian juga berbicara tentang kehidupannya dan bagaimana ia akan membantunya untuk sukses selama syuting. "Mona, jangan khawatir. Aku akan selalu ada untukmu dan membantu kamu selama syuting. Aku akan melakukan yang terbaik untuk kamu," kata Adrian sambil tersenyum. "Terimakasih Adrian," Mona tidak menyangka ia akan begitu cepat merasa akrab dengan Adrian. Mona merasa hangat di dalam hatinya dan tersenyum pada Adrian. Ia berterima kasih atas kebaikan dan dukungan Adrian. Ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya ketika ia bersama dengan Adrian. Ia merasa memiliki hubungan yang lebih dekat dengan pria tampan itu. Namun, ia tidak tahu apa itu. "Maaf Mona,saya harus menyelesaikan beberapa hal di kantor,Adrian akan mengantarmu pulang." "Adrian saya ke kantor dulu ya." "Oke Dela,sampai bertemu lagi besok ya." Dela berpamitan pada Mona dan Adrian kemudian keluar dari pintu Rumah makan dan disambut sebuah mobil sedan mewah yang telah berada di depan Rumah makan mewah itu. Saat mereka kembali ke apartemen, mereka melanjutkan percakapan mereka dan Adrian mulai memberikan beberapa tips tentang syuting dan bagaimana ia harus memerankan perannya. Mereka juga berbicara tentang beberapa situasi khusus dan bagaimana ia harus menghadapinya. Itu adalah percakapan yang sangat membantu dan membuat Mona merasa lebih siap untuk syuting. "Aku berperan sebagai kekasihmu dalam film ini, Mona," ucap Adrian dengan tegas. "Iya, aku tahu itu," jawab Mona dengan sedikit tersipu. "Sebagai seorang aktor profesional, aku harus membuat segalanya terlihat nyata. Kita harus berkencan, bertemu orang tua dan mengalami beberapa romansa." "Baiklah," Mona berusaha mempertahankan ketenangan dirinya. "Tapi ada beberapa bagian dari skenario yang sangat intens," Adrian menambahkan. Mona menelan ludahnya dan bersiap untuk mendengarkan apa yang akan diucapkan oleh Adrian selanjutnya. ia sudah mengetahui bahwa itu akan menjadi sesuatu yang intens setelah Adrian menambah kata "intens". "Mona, dalam film itu, kita harus melakukan beberapa adegan ciuman yang sangat menarik dan intim.Sebuah adegan di mana kamu berbaring di ranjang dan aku mengecup bibirmu lembut. Kita juga harus melakukan beberapa adegan intim lainnya. Apa itu tidak akan menjadi masalah?" Jantung Mona bergetar hebat saat mendengar apa yang diucapkan Adrian, tetapi ia merasa bahwa itu adalah hal yang wajar terjadi di dunia film. ia mencoba untuk mengontrol perasaannya dan menjawab dengan tenang. "Tidak masalah Adrian, itu adalah hal yang harus dilakukan jika kita ingin membuat film yang bagus." jawab Mona dengan sedikit ekspresi malu. Di sisi lain hatinya,Mona sendiri telah menyimpan rapat semua masa lalunya,ia kira Abel juga tidak akan mengatakan masa lalunya pada siapapun di kota yang baru ini.Adegan itu sering ia lakukan pada masa lalunya,namun dahulu itu ia lakukan untuk sebuah bayaran yang sangat kecil bila dibandingkan saat ini. Mereka melanjutkan diskusi selama beberapa jam, membahas setiap detail dari peran mereka dan Alur cerita film. Setelah itu, Adrian meninggalkan apartemen dengan satu hal yang sangat mengejutkan Mona,Adrian telah mengecup bibirnya ketika mereka berpisah di tengah pintu Apartemen. Mona terus mengingat kata-kata Adrian sepanjang hari, karena itu membuat hatinya berdegup kencang. Ia belum pernah merasakan hal seperti ini kepada siapapun, bahkan pada Abel yang selalu menemaninya selama ini. Ia merasa kesepian akan rasa cinta yang mendalam. Setahun yang lalu memang dia setiap hari bercinta dengan banyak pria,namun tak satupun pria yang mampu menggetarkan hatinya.Semua hanya berlalu dengan kepuasan mereka sendiri. Perasaan yang sebelumnya dirasakan hanya menjadi sinyal kuat ketika berada dekat dengan Adrian.Kini ia merasa seperti ia telah menemukan seseorang yang benar-benar dapat mengisi hatinya dengan kebahagiaan. Malam hari ketika Mona telah berbaring di kasurnya, Abel menelepon Mona. "Bagaimana persiapannya, Mona?" tanya Abel dengan ramah. "Hmmm,sepertinya oke Bel,tadi aku sudah bertemu Adrian dan manajernya disini." "Oh,jadi Adrian datang bersama manajernya?" "Iya Bel." "Aku rasa aku sudah mempersiapkan semuanya dengan baik.Aku siap dengan segala kondisi dan tantangan selama syuting." jawab Mona dengan senyuman. "Bagus sekali Mona, aku yakin kamu akan menjadi bintang besar dalam film itu." "Terima kasih Bel." Mona merasa bahagia mendengar kata-kata pujian darinya. "Besok masih satu hari lagi persiapanmu,apakah Adrian akan datang lagi?" tanya Abel lagi.Seolah Abel tidak mengetahui rencana Adrian. "Iya, dia akan datang besok pukul 08.00 WIB pagi dan kita akan benar-benar memulai persiapan untuk syuting," jawab Mona. "Baiklah, aku harap semuanya berjalan lancar dan sukses," ucap Abel sambil menghela nafasnya. Setelah obrolan mereka selesai,Mona terlelap dengan mimpi indah yang menenangkan tidurnya. Keesokan harinya, Adrian datang tepat waktu dan mereka langsung mulai untuk berlatih. "Apakah kita perlu melakukan latihan adegan ciuman sekarang Mona?" "Iya Adrian, mungkin kita harus mulai berlatih adegan ciuman sekarang," Mona menjawab dengan suara lemah. Adrian tersenyum dan mulai mengatur posisi mereka. Ia meminta Mona untuk duduk di ranjang dan menempatkan dirinya di atas mona. Ia membawa wajahnya lebih dekat dengan wajah Mona, dan menatap mata Mona dalam-dalam. Kemudian, ia mengecup bibirnya dengan lembut, lalu melanjutkan dengan ciuman yang lebih dalam dan intens. Mona merasakan getaran di hatinya, dan menikmati kesempatan ini. Terlebih, Adrian sangat lembut dan sopan dalam melakukan adegan mesra ini. Apa yang ia lakukan terasa sangat nyata dan membuat Mona merasa seperti seorang putri yang dihormati oleh seorang pangeran. Mereka mengulangi adegan ini beberapa kali, setiap kali dengan sedikit variasi. Mona mengambil napas dalam-dalam, ketika Adrian mulai mencium leher dan telinganya dengan mesra dan lembut. Ia merasa tubuhnya terbang ke alam yang berbeda dan merasa bahwa ia belum pernah merasakan apa yang ia rasakan sekarang. "Ahhh,Adrian...." Mona menahan tubuh Adrian kedalam pelukannya. Mereka terus berlatih, hingga akhirnya adegan ini selesai dilakukan dengan baik. Mona merasa gugup setiap kali ia dan Adrian mengulangi adegan ini, tetapi setiap kali mereka melakukannya, ia merasa lebih nyaman dan dekat dengan Adrian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN