Setelah makan malam selesai,mereka menuju sebuah taman di pinggir kolam renang.
Di taman tersebut, Mona melihat kolam renang yang sangat besar dan indah, lengkap dengan beberapa air mancur dan lampu-lampu yang cantik yang menyala di malam hari. Di sekelilingnya, terdapat beberapa kursi santai dengan bantal-bantal lembut yang nyaman untuk digunakan. Taman tersebut nampak begitu sejuk dan tenang di malam hari. Mona merasakan suasana yang sangat berbeda dari tempat-tempat yang ia biasa kunjungi.
"Oh jadi kak Mona yatim piatu ya?"
sahut Nadia ketika Mona bercerita tentang keadaan keluarga di daerah.
"Iya kak,sejak sebelum ibu dan bapak meninggal saya harus bekerja di luar kota untuk membantu mereka."
"Hah,usia belasan sudah merantau?" tungkas bu Ratna.
"Tuh lihat Den,mbak Mona mentalnya luar biasa lho." lanjut bu Ratna sambil mengarahkan pandangan pada anak bungsunya,Denny Kusumo yang masih berusia 18 tahun.
Denny hanya tersenyum tipis dan manggut-manggut.
Mereka menikmati pemandangan taman yang indah sambil berbicara tentang keluarga dan kehidupan. Mona merasa bahwa ia telah menemukan keluarga baru untuk direkonsiliasi dengan keadaan yang ia hadapi akhir-akhir ini.
Di sela-sela obrolan,Mona mengirim pesan dengan HP-nya pada Abel.
"Abel,kamu dimana?"
"Kapan kamu pulang?"
"Bisa telpon sebentar?"
"Abel?"
Semua pesan Mona sejak tadi siang tidak satupun ada tanda masuk.Ketika siang dan sore tadi Mona mencoba menelepon semua panggilan ke Abel tidak tersambung.
Setelah mereka mengobrol bersama dalam satu tempat,kini mereka terpisah menjadi beberapa kelompok kecil dengan kehadiran dua saudara sepupu Adrian.Tampilan mereka hampir sama,kebanyakan menggunakan setelan jas hitam dan sepatu kulit hitam yang mengkilap.
Kini Mona duduk di sudut taman dengan meja kecil yang hanya terdapat 4 kursi santai.Ia duduk bersama Adrian.
"Mona,malam ini istirahatlah." ucap Adrian dengan wajah tenang.
"Oke Adrian," jawab Mona singkat,ia tak berani menatap terlalu lama wajah Adrian,ia sangat takut dengan mata Adrian malam ini.Sinar mata Adrian berubah lebih tajam seja ia tiba dinrumah,sangat berbeda ketika bertemu dengan Mona di Apartemen maupun di Villa.
"Adrian,Bisa bantu aku kontak Abel?" ia bertanya sambil menatap Hp-nya.
"Tidak bisa Mona,semua kru dan anak buahku juga tidak bisa menghubunginya." jawab Adrian dengan cepat.
"Apa kau tahu kemana dia pergi Adrian?" Mona berusaha menyelidik.
"Aku tidak tahu,tapi sebaiknya kamu juga tidak perlu mencarinya.Dia juga tidak akan mencarimu lagi Mona."
"Hah? kenapa Adrian?"
"Jujur Mona,Setelah kamu tanda tangan waktu itu,itu hampir serupa bahwa dia telah menyerahkanmu padaku." Adrian menjawab dengan nada lebih tegas.
"Apa?" Mona sangat terkejut dan tak habis pikir dengan apa yang dia alami kini.
"Tapi kamu tidak perlu khawatir Mona,hidupmu terjamin di sini."
"Kamu bisa tinggal disini selama kamu mau,dan kamu tahu sendiri keluargaku juga nyaman denganmu." lanjut Adrian
"Apa maksudmu dengan kalimat Abel telah menyerahkanku padamu?"
Mona merasa sangat shock dengan apa yang baru saja ia dengar. Dia tidak pernah berpikir bahwa Abel akan mengkhianatinya dan menyerahkannya pada Adrian. Namun faktanya, itulah yang terjadi. Keadaan ini membuat Mona merasa sangat terbebani dan terjebak dalam situasi yang tidak diinginkannya.
"Tenang Mona," Adrian memeluk pinggang Mona,ia paham bahwa Mona sebenarnya telah mulai menyukainya.
"Adrian,tolong jelaskan!"
Mona masih mencari tahu lebih banyak tentang keadaan Abel dan apa yang sebenarnya terjadi. Ada banyak pertanyaan yang menghantuinya, dan ia tidak bisa membiarkan mereka tanpa jawaban. Namun, saat ini ia merasa sangat terlalu lelah dan perlu tidur.
"Mona,sebaiknya kamu sekarang istirahat,besok kita harus syuting lagi.Sebaiknya kita selesaikan sesegera mungkin seluruh Episode."
Setelah Adrian melihat ekspresi terkejut Mona, dia langsung menyadari kesalahan pada ucapannya,mestinya itu tidak ia katakan saat ini. Dia segera berusaha menenangkan Mona dan memberikan dukungan emosional yang diperlukan Mona. Adrian berusaha meyakinkan Mona bahwa sekarang ia terlindungi dan tidak perlu khawatir tentang masa depannya lagi.
"Aku lelah dengan semua ini Adrian." Mona menunduk lesu.
"Mona,ayo kita ke kamar." Adrian maasih memeluk pinggang Mona,kemudian mereka berjalan ke arah kamar tamu yang digunakan Mona.
Di dalam hati Mona, ia merasa adanya kecemasan yang terus menghantuinya meskipun ia berada di tempat yang nyaman dan aman menurut Adrian, Ia merasa bahwa ada banyak hal yang harus ia lakukan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Mona merasa lega ketika melihat kamar tamu yang ia tempati. Kamar tersebut sangat nyaman dan indah, dengan perabotan yang mewah dan selimut yang sangat hangat dan kasur yang empuk. Mona merasakan bahwa ia bisa beristirahat dengan nyaman di kamar tersebut, setelah melewati hari yang panjang dan melelahkan.
Di dalam kamar, Adrian berusaha menenangkan Mona dan memberikan semangat. Dia memberikan segelas air putih dan berusaha mengalihkan perhatiannya dari masalah yang sedang dihadapinya. Adrian juga menyampaikan kepada Mona bahwa dia akan selalu berada di sampingnya, dan memberikan dukungan yang diperlukan.
"Minumlah Mona,"
"Terimakasih Adrian."
"Sudah Mona,sebaiknya kamu lupakan Abel sekarang,suatu saat nanti aku jamin pasti kamu akan mengetahui siapa dia dan semua tentang Abel."
"Baiklah Adrian,aku percaya padamu." Mona sudah merasa sangat tertekan dan lelah,dan dia akhirnya menyerah.
"Tidurlah Mona," Adrian membelai rambut Mona dengan lembut.
"Adrian,apa kamu akan menemaniku disini?" Mona tersentuh lagi oleh kelembutan Adrian.Dan dia ingat momen ketika kemarin mereka telah menikmati cinta satu malam.
"Ya Mona. aku akan menemanimu."
"Sini Adrian,peluk aku." Gelayut manja Mona.
"Tunggu sebentar Mona.Aku akan menemui Jonan dan Deka sepupuku.nanti pasti kutemani disini" Adrian meninggalkan kamar Mona dan kembali ke taman menemui sepupunya.
"Bagaimana Adrian? apa dia sudah tenang?" tanya Jonan pada Adrian saat tiba di taman.
"Sudah,santai lah,masih bisa terkontrol." sahut Adrian.
"Oya Jonan,bagaimana perkembangan proyek garapan tim Sanat?"
"Lancar Adrian,mungkin besok seluruh proses Editing selesai." jawab Jonan.
"Oh,lebih cepat dari perkiraan?"
"Benar Adrian,kemarin seluruh syuting sudah selesai.Jadi hari ini sudah masuk Editing."
"Hebat kamu Jonan.Bagaimana kamu menaklukan gadis yang sangat Arogan itu?"
"Yah,biasa,saat sudah tidak bisa dengan cara halus aku terpaksa gunakan senjata terakhir."
"Oh,aku kira kau yang menaklukannya Jonan."
"Aku sudah mencoba Adrian,tapi menurutku terlalu lama prosesnya jika aku harus banyak bermurah hati dan bersikap lembut." Jonan menghirup asap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskannya mengepul di udara.
Lalu lanjutnya
"kamu tahu sendiri,para investor tidak bisa bersabar." Jonan menegaskan penjelasannya.
"Tapi jangan terlalu banyak juga kau pakaikan serbuk itu pada gadis yang masih terlalu muda Jonan,"
"Aku paham Adrian,tenang,aman itu." Jonan menyudutkan bibirnya.
"Bulan lalu pendapatan kita dalam lini film jauh lebih besar Adtian.Sedangkan pertengahan bulan ini belum meyamai separuh bulan lalu." Jonan seperti seorang yang sedang melapor.
"Benar Jonan,Aku akan pikirkan lagi,mungkin kita harus membuat konsep yang berbeda.Mungkin kita akan gunakan gadis belia yang lebih banyak."
Adrian menimpali sambil menyangga keningnya sendiri.
Setelah Adrian dan Jonan menyelesasikan pembicaraan bisnisnya mereka berpisah,Jonan meluncur ke kota dan Adrian kembali ke kamar Mona.
"Lho.Mona,kamu belum tidur juga?"
"Aku menunggumu Adrian."
"Maaf Mona,kami harus menyelesaikan urusan bisnis."
"Tidak apa-apa Adrian."
Kecupan lembut Adrian mendarat di bibir merekah Mona,mereka kemudian melanjutkan adegan seperti pada malam sebelumnya.Mona kali ini lebih menikmati dan terhanyut lebih dalam,entah karena perlakuan Adrian yang lebih menggairahkan atau suasana kamar mewah dengan lampu remang indah itu yang semakin mendukung suasana percintaan mereka.
Setelah puncak percintaan mereka tercapai,Adrian tidak melepaskan pelukannya,karena Mona menahan lengan Adrian dan tubuh kekarnya tetap di dekaman Mona.
Mona akhirnya merasa tenang dan nyaman, dan tertidur dengan lelap. Namun, ketika ia terbangun di pagi hari, rasa cemas dan ketidakpastian kembali menghantuinya. Ia kembali teringat tentang Abel dan keadaan dirinya sendiri yang belum jelas di sini.