Mona melompat dari kasur dimana adegan syurnya sedang berlangsung.Ia berlari hanya dengan sehelain kain yang menutupi tubuhya,Ia berlari sekencang ia mampu menuju ruang ganti di sudut ruangan itu.Adrian nampak menyusul Mona.
Mona merasa sangat marah dan terseret dalam situasi yang salah. Ia merasa bahwa semua ini bukanlah yang ia inginkan dan kontrak yang ia tandatangani benar-benar membuatnya merasa terjebak dalam hubungan yang tidak benar. Bagaimanapun juga, ia merasa bahwa adegan yang mereka lakukan bukanlah hal yang seharusnya ditunjukkan di depan banyak orang.
Adrian mencoba menjelaskan bahwa apa yang mereka lakukan hanya satu bagian dari pekerjaan mereka, dan Mona diharapkan untuk memenuhi kewajiban kontraknya. Namun, Mona tetap mempertahankan pendiriannya dan merasa bahwa ia telah diperdaya oleh Adrian.
"Tidak bisa Adrian,Semalam aku mau melakukan itu karena aku mencintaimu." ucap Mona sedikit dengan suara tangis.
"Tapi saat ini di depan banyak orang,aku tidak bisa Adrian!" Mona mulai membentak Adrian.
Mona merasa bahwa ia harus keluar dari kontrak ini, tetapi dia juga takut akan konsekuensi hukum yang akan dihadapinya jika ia melanggar perjanjian. Ia terjebak dalam situasi yang sangat sulit dan tidak tahu harus melakukan apa.
"Mona,dengar,dengar dulu Mona." Adrian berusaha mendinginkan suasana hati Mona.
"Apa lagi Adrian?" kali ini Mona membentak Adrian dengan nada tinggi.
Adrian menundukkan kepalanya,ia menghembuskan nafasnya.Bukan takut akan amarah Mona,tetapi berusaha menahan amarahnya.Bagaimanapun Adrian telah memberikan nilai uang yang sangat besar pada Abel.Dan Film ini harus selesai.Begitu 16 Episode selesai dia juga harus melunasi seluruh uang kontrak pada Abel.
Adrian telah mengambil resiko yang besar dengan anggaran yang ia keluarkan pada proyeknya kali ini.Ini merupakam Transaksi pembelian dengan nilai terbesar yang pernah ia lakukan dalam bisnisnya.
Namun Adrian masih berusaha menyembunyikan siapa sesunguhnya dirinya di hadapan Mona.
"Mona,oke kalau kamu belum siap."
"Aku akan mengantarmu pulang sekarang." lanjut Adrian.
"Aku tidak tahu kemana aku harus pulang Adrian!" suara Mona di iringi tangis yang semakin pecah.
"Aku tidak punya rumah!" nada suaranya semakin meninggi.
"Aku tidak punya apa-apa!" kali ini suara seraknya semakin merendah seolah lesu tanpa tenaga.
Mona tertunduk lemah dan terduduk di lantai tanpa daya.Adrian membelai rambut Mona.Kemudian berusaha memeluknya perlahan.Adrian memberi kode dengan jarinya pada seorang wanita di ruang ganti,lalu wanita itu memberi pakaian untuk Mona dan membantunya mengenakan pakaian Mona.
Adrian menuntun Mona bersama salah satu asisten wanita,tepatnya itu adalah salah satu orang kepercayaannya.
"Kalau kamu tidak mau pulang ke Apartemenmu,kita pulang ke rumahku Mona." suara Adrian berbisik pada Mona.
"Sekaligus kita berkenalan pada Ayah dan ibuku serta Adikku di rumah." lanjut Adrian.
"Seeerrr...." seketika aliran darah Mona mendesir.
"Apa,aku akan dikenalkan pada keluarga Adrian?" Mona membatin dalam hatinya.
"Apakah benar Adrian mencintaiku?"
"Inipun tidak pernah dilakukan Abel terhadapku."
Mona seperti memperoleh energi baru yang menyusup ke seluruh tulang-tulangnya.Sedikit demi sedikit tubuhnya merasa lebih kuat.Seperti ada sebuah harapan baru yang lebih besar dalam hidupnya.
Mona tidak menjawab apapun yang dikatakan Adrian,tetapi dia mengikuti langkah Adrian menuju pintu mobil yang telah menanti mereka di depan Villa.
Mereka akhirnya tiba di rumah Adrian setelah melewati jalan yang berliku-liku dan rumit.Mona tidak tahu lokasi tepatnya dia berada. Setelah Memasuki sebuah kawasan Mona melihat rumah besar dan mewah tersebut dengan kagum.Mona melihat sebuah bangunan besar berdiri megah dan gagah. Rumah tersebut terlihat sangat mewah dengan desain yang sangat indah dan artistik. Seperti sebuah istana dari zaman dahulu. Dari luar, rumah itu terlihat seperti sebuah karya seni yang nyata.
Setelah mereka memasuki rumah, Mona melihat perabotan yang sangat mewah dan berkelas di setiap ruangan rumah tersebut. Ada sebuah ruang tamu yang luas dengan sofa dan meja besar yang sangat elegan, serta karpet berwarna emas yang indah.
Di pojok ruang tamu, Mona melihat beberapa orang bertampang sangar dengan jas hitam yang menghormati Adrian. Mereka terlihat seperti pengawal pribadi Adrian yang sangat setia. Meskipun terlihat menakutkan, mereka tetap tampak sangat profesional dan berkelas.
Setelah Mona dipersilahkan duduk oleh asisten wanita Adeian tak lama berselang muncul keluarga Adrian yang sangat ramah dan menyambutnya dengan hangat.Pria dan wanita paruh baya itu memperkenalkan diri sebagau Ayah dan ibu Adrian.
"Hardi,ayah Adrian" seorang pria berusia 50 tahunan memperkenalkan diri.
"Ratna..." dengan santun seorang wanita paruh baya menyalami Mona.
"Saya Ramona,bapak,ibu." Mona menyembunyikan kesedihan dan tangisnya dalam-dalam.
Mereka lalu memperkenalkan saudara-saudara Adrian pada Mona, yang terdiri dari dua orang adik laki-laki bernama bernama Ryan Kusumo dan Denny Kusumo kemudian satu kakak perempuan Adrian bernama Nadia Kusumo.Mona merasa agak terkejut melihat keluarga Adrian yang terlihat sangat kaya dan berpengaruh. Tidak hanya itu, keluarga Adrian juga terlihat sangat protektif terhadap Adrian.
"Mona,ayo istirahat dulu,aku antar ke kamar tamu." Nadia Kusumo dengan senyum ramah mmenggandeng lengan Mona menuju sebuah kamar.
"Biar,biar diangkat asisten saja kopermu!" kalimat Nadia menghentikan tangan Mona saat hendak menarik kopernya.
Sebenarnya Mona mampu menarik kopernya sendiri,namun ia menuruti saja apa yang di inginkan sang tuan rumah.
"Terimakasih kak Nadia." sahut Mona perlahan.
Keluarga Adrian memberikan sentuhan kehangatan di hati Mona, yang mengingatkannya pada keluarganya di daerah. Mona merasa senang bisa merasakan kedekatan dengan keluarga Adrian.
Ruang kamar tamu yang ditempati Mona sangat nyaman dan elegan. Dinding-dindingnya dicat dengan warna netral yang menenangkan, dengan beberapa dekorasi modern yang menarik perhatian. Lantainya dilapisi dengan karpet berbulu yang lembut membuat tempat tersebut terasa lebih hangat dan nyaman di bawah kaki Mona.
Sebuah sofa berwarna krem berada di tengah ruangan yang dihiasi dengan bantal-bantal lembut berwarna-warni. Di sebelahnya, terdapat sebuah meja yang terbuat dari kayu yang elegan dengan beberapa kerangka foto keluarga Adrian dan bunga segar di vas yang terletak di atasnya. Di dekat jendela, terdapat sebuah kursi baca yang nyaman dengan lampu meja yang hangat dan cukup cahaya untuk membaca buku di malam hari. Di sudut ruangan, terlihat sebuah piano yang gagah dan indah, yang menjadi pusat perhatian ruangan.
"Nona,permisi,tuan muda menunggu anda di ruang makan untuk segera makan malam." suara datar seorang asisten berseragam serba hitam berdiri di depan pintu kamar tamu yang ditempati Mona.
"Baik pak,terimakasih." sahut Mona dari dalam kamar.
"Mari nona saya antar," kata si asisten lagi.
Ruang makan yang mereka gunakan juga terlihat sangat mewah dengan perabotan yang elegan dan artistik. Ruangan ini memiliki banyak sekali fasilitas makan yang sangat lengkap dari hiasan perak hingga peralatan makan yang dari logam mulia dengan desain yang sangat indah.
Meja makan yang panjang dan besar terbuat dari kayu yang diukir dengan indah dan dihiasi dengan hiasan kristal yang indah. Kursi makan yang digunakan terbuat dari kulit yang sangat lembut dan separuh warna emas yang nyaman untuk digunakan ketika duduk berjam-jam.
Di atas meja makan, terdapat dekorasi bunga segar yang sangat cantik serta hiasan piring dan peralatan makan yang begitu indah. Semua perabotan makan yang digunakan benar-benar terlihat sangat eksklusif dan mewah. Dengan suasana yang begitu hangat dan ramah, tidak heran jika Mona merasa sangat nyaman saat berada di sana.
Dilihat dari perabotannya, rumah keluarga Adrian nampak begitu mewah dan terkesan sangat artistik. Semua perabotan yang digunakan oleh keluarga Adrian nampak begitu elegan, indah, dan sangat mewah dengan sentuhan seni yang begitu cantik. Hal ini menambah pengalaman Mona yang tentunya tidak akan pernah merasakan hal seperti itu di kehidupan sebelumnya.
Mereka membicarakan banyak hal dan menikmati makan malam yang lezat. Mona merasa bahwa malam itu merupakan malam yang menyenangkan setelah kejadian yang tidak menyenangkan di tempat syuting.Percakapan ringan mereka di iringi dengan canda tawa kecil yang memeriahkan suasana ruang makan yang besar.