Semenjak tahu informasi dari Bagas mengenai pertemuan tidak sengaja mereka di bioskop, hubungan gue sama Kavin cenderung memburuk. Gue semakin membiarkan dia sibuk dengan 'dunia skripsi'-nya dan gue sibuk dengan Mas Rillo.
"Mas lebih suka yang pedes atau enggak?"
"Enggak usah pedes-pedes Git," jawab Rillo yang lagi membenarkan jam di ruang tengah apartemen gue yang mati. Posisinya cukup tinggi jadi biasanya Kavin yang ganti. Tapi sekarang... ah sudah lah.
Hubungan gue dengan Rillo cendrung semakin meningkat. Dia lebih sering antar jemput gue kemana pun tempat yang mau gue kunjungi. Kadang dia juga main ke apartemen hanya untuk jadi tukang icip percobaan masakan gue. Kalau dulu Zenata, Inara dan Marsya yang jadi tukang icip, sekarang dia.
Gue suka cara dia menghargai setiap masakan yang gue buat. Kalau Kavin cenderung akan bilang semua masakan gue enak, Rillo nggak akan segan bilang kekurangan apa yang ada di masakan gue yang membuat gue lebih baik lagi dalam hal masak-memasak.
“Makan dengan lahap itu salah satu bentuk apresiasi lain untuk masakan kamu, karena aku tau kamu pasti bosen kalau aku cuma bilang enak, ya kan?” ucap Rillo yang membuat gue mengulum senyum.
Ya, Rillo sangat tahu bagaimana cara menghargai yang gue inginkan. Sosoknya seakan menjadi pelengkap di tengah keputusasaan gue akan hubungan yang gue dan Kavin jalani.
Hanya Bagas yang mengetahui kedekatan gue dengan Rillo Syauqi Ahmad, kakak dari sahabat gue sendiri. Gue bahkan nggak berani mengungkapkan fakta ini ke Inara, adiknya. Selain tidak siap dengan segala risikonya, gue masih meyakinkan diri jika hubungan gue dengan Mas Rillo masih dalam batas ‘pertemanan’ yang sehat.
Berulang kali otak gue melakukan pembelaan kalau dia kakaknya Inara yang bisa gue anggap sebagai kakak gue juga. Tapi bagaimanapun juga hati tidak bisa memungkiri, gue merasa nyaman sama dia bukan sebagai seorang kakak.
Bagas berulang kali menasihati bahwa apa yang gue jalani saat ini kelak akan menimbulkan luka untuk banyak pihak, dan berulang kali pula gue memikirkan untuk mundur dan menghindari Rillo. Namun semakin gue menghindar, semakin gue memikirkannya.
Gue tau ini salah, tapi gue udah terjebak dalam arusnya dan tidak bisa keluar lagi. Jadi gue mencoba untuk menjalaninya saja, bagai mengikuti arus sungai yang entah akan berakhir ke mana.
Sekarang kami berdua sedang menonton DVD di apartemen gue. Film dengan genre romantis yang berakhir dengan kesedihan karena pemeran utama cowok ditinggal nikah sama cewek yang dicintainya.
Gue bisa ngeliat Mas Rillo yang tiba-tiba gelisah di samping gue. Peka dengan keadaan, gue pun menjeda film itu.
"Kok di-pause?" tanyanya.
"Habisnya Mas kayaknya nggak nyaman sama filmnya," jawab gue jujur. Kedekatan kami dalam beberapa bulan terakhir membuat gue cukup memahaminya.
Rillo tersenyum miris setelahnya. "Saya pernah mengalami itu," jawabnya pelan.
"Maksudnya, Mas?" ranya gue yang masih nggak mengerti.
"Saya ditinggal nikah sama mantan pacar saya."
Entah mengapa gue merasa jantung ini teremas dengan kuat saat mendengar pengakuannya. Gue memandang cincin di jari gue dengan tatapan menerawang.
Cowok kalau lagi patah hati itu bawaannya nggak jelas. Dia yang ngajak gue ke sini, dia juga yang nggak jelas tujuannya mau ngapain.
Sekelebat percakapan dengan Inara di supermarket saat itu muncul. Membuat gue terpekur di tempat.
"Saya masih trauma buat ngejalin hubungan, tapi gimana juga saya harus tetep bangkit kan?" ucap Rillo masih dengan senyum mirisnya.
Gue menepuk bahunya sebagai bentuk dukungan, tapi dia malah memeluk gue. "Tolong bantu saya," ucapnya.
Gue tidak menjawab, karena gue gatau bisa bantu dia atau enggak. Gue cuma menikmati pelukan hangatnya yang semakin membuat gue tenggelem dalam arus permainan yang entah kapan akan berakhir ini.
***
Mas Rillo lagi dinas di luar kota, makanya hari ini gue sendirian ke toko buku. Kebetulan stok bacaan gue sudah habis dan gue ingin mencari novel baru. Saat sedang memilah, nada panggilan khusus untuk Mas Rillo berbunyi yang buat gue menyunggingkan senyum tanpa sadar.
"Hallo Mas?
"Hallo Git, kamu lagi di mana? Kok kayak ramai di sana?"
"Lagi di toko buku Mas, mau nyari novel."
"Bukannya ke rumah aja, Mas masih punya banyak koleksi. Siapa tau ada yang belum kamu baca,"
"Gapapa Mas, sekalian jalan-jalan. Bosen abisnya di apartemen sendirian."
"Kamu hati-hati,"
"Iya Mas, Mas juga hati-hati di sana,"
"Kamu mau Mas bawain oleh-oleh apa?"
"Apa aja Mas, nggak usah repot-repot. Mas pulang kapan?"
"Nggak repot kok Git, kamu kayak sama siapa aja. Besok Mas ambil penerbangan pagi. Kenapa emangnya?"
Saya kangen sama Mas...
"Enggak apa-apa kok Mas, sampai ketemu besok,"
"Oke, sampai ketemu."
Entah sejak kapan Rillo membiasakan menyebut dirinya ‘Mas’ saat berbicara dengan gue. Hal itu kerap kali membuat gue tersipu saat mendengarnya.
Telepon singkat itu mengubah mood gue yang sempat hancur karena Kavin yang tidak membalas ajakan chat gue untuk keluar menjadi jauh lebih baik.
Akhir-akhir ini gue lebih senang kalau Mas Rillo yang menghubungi gue daripada Kavin. Ya, gue tau ini salah. Tapi rindu tak bisa diatur.
Gue ingat Kavin lagi butuh buku tentang sistem informasi untuk skripsinya. Gue pun berniat untuk membelikannya salah satu buku untuk referensi. Namun begitu gue mendekati rak buku-buku materi tentang sistem informasi, gue melihat Kavin ada di sana, lagi milih buku juga sama seorang cewek. Dengan perasaan yang tidak menentu, gue mencoba meneleponnya.
Kavin mengambil ponselnya yang bergetar dari saku dan pamit ke cewek yang bareng sama dia untuk mengangkat telepon, lalu ia pergi ke arah rak buku yang lebih jauh.
"Halo Yang, ada apa?"
"Kamu lagi di mana Kak?"
"Lagi di apartemen, kenapa? Kamu mau sesuatu?"
Kavin berbohong…
"Kalau aku minta kakak ke apartemen aku sekarang bisa?"
"Maaf, abis ini aku mau ada diskusi sama temen bimbingan aku Yang,"
Gue hanya bisa mengulum senyum miris. "Selamat bersenang-senang ya," ucap gue pelan.
Gue langsung mengakhiri panggilan itu tanpa menunggu respon Kavin.
Gue memperhatikan cewek yang masih memilah buku yang ada di depannya. Kavin nggak sepenuhnya bohong karena cewek itu memang teman satu bimbingan skripsi dengan dosennya, Mayang Dahayu.
Sesampainya di apartemen gue segera menghubungi Bagas selaku tempat sampah curhatan gue. Setelah dua nada panggilan, Bagas mengangkat sambungan telepon.
“Gas,” sapa gue dengan suara tercekat. Terlalu banyak emosi yang berkecamuk hingga gue sulit untuk mengeluarkan kata.
“Kenapa Git? Kok suara lo aneh gitu.”
“Sekarang gue tau orangnya, Gas.”
“Orangnya? Orangnya yang mana? Siapa?”
“Yang nonton sama Kavin waktu itu,”
“Tau dari mana? Kavin cerita? Hubungan lo berdua udah membaik dong?”
Gue menggeleng, berharap Bagas dapat melihat tanpa gue ucapkan tanpa kata.
“Git? Lo masih di sana?”
Gue menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum berbicara lebih jauh. “Tadi gue ketemu sama Kavin di Puri, dan dia lagi sama Mayang.”
“Mayang? Mayang temen skripsiannya? Lagi nyari bahan bareng kali Git, jangan suudzon dulu.”
“Gue telepon Kavin saat itu juga, dan dia bilang dia lagi ada di apartemen.”
“Anjiiiiiirrr! Kok bisa?!”
Terdengar teriakan histeris Bagas di seberang sana. Bahkan jauh lebih histeris saat gue mengetahui hal itu untuk pertama kali.
“Gas? Bagas?” panggil gue mencoba mengalihkan kehisterisannya. “Kok lo yang histeris sih?”
“Git, coba lo survei seisi kampus. Ah, fakultas lo sama Kavin aja dulu deh. Tanya couple goals versi mereka itu siapa, gue yakin 80% menjawab lo sama Kavin. Tapi kok malah gini coba?”
“Yang terlihat sempurna dari luar belum tentu dalemnya juga sama, Gas.”
***
Sesuai dengan perjanjian, hari ini Mas Rillo bakal jemput gue pulang kampus, katanya dia mau ngasih oleh-oleh. Karena dia masih ada urusan di kantornya untuk menyerahkan laporan, gue akhirnya nunggu di kantin kampus.
Gue nge-mute semua medsos dan aplikasi chatting yang berhubungan dengan Kavin semenjak kejadian kemarin. Gue masih kesal sekaligus kecewa.
Gue sebenernya pengin cerita ke sahabat-sahabat perempuan gue. Tapi ke siapa? Zenata? nggak mungkin karena dia punya kenangan pahit diselingkuhin. Inara? Yakali gue ceritain kalau gue menjadikan masnya selingkuhan, walau sebenernya bukan selingkuhan juga sih. Marsya? Dia sibuk di Bandung sana.
"Git!"
Gue dengar suara Bagas dari kejauhan. Tapi dia nggak sendirian, dia sama temen seperjuangannya dalam mencari cinta, Bang Khalil.
"Sendirian aja? Kita temenin ya. Tapi traktir." Khalil berucap sambil nyengir.
"Mana ada cewek nraktir cowok!" protes gue.
"Yailah, gue nggak seningrat elu kali. Yang tunangan aja mewahnya bukan main," balas Bang Khalil tidak terima.
Gue berdecak malas saat kata pertunangan kembali diangkat. Bagas yang sudah mengetahui duduk perkara pun melihat gue dengan pandangan simpati, tetapi ia tidak membuka mulut lebih jauh.
"Terserah lo. Pesen aja sana," jawab gue tak acuh. Dibanding Khalil membahas pertunangan, gue memilih untuk membungkamnya dengan traktiran. Dengan kegirangan Bang Khalil langsung memesan menu makanan yang ia dan Bagas suka.
"Lo lagi ngapain di sini Git?" tanya Bagas.
"Duduk," jawab gue singkat.
"t*i ledik, itu sih gue udah tau, nggak usah sok b**o!"
Gue cuma melempar muka Bagas dengan sedotan minuman sebelum menjawab, "lagi nunggu orang,"
"Oh, Kavin ya?" tebak Khalil, "tadi dia nyariin lo tuh ke kelas lo tapi lo enggak ada. Mau gue telepon?"
"Nggak usah," jawab gue spontan.
Bagas menatap gue dan mulai memicingkan matanya curiga. "Git, Kavin apa bukan orang yang lo tunggu?"
"Kalau dia kenapa kalau bukan kenapa," jawab gue.
"Tipe-tipe jawaban cewek emang gini nih, ngeselin." Khalil bersungut.
"Ya kalau bukan Kavin, gue tau pasti siapa yang lagi lo tunggu."
"Siapa emang?" tanya Khalil kepo.
"Udah entar aja Lil, panjang cerita. Intinya siapa Git?"
Gue menggeleng pelan. Tidak ingin membahas topik ini di depan Khalil. Dan sepertinya Bagas mengerti karena ia tidak bertanya lebih jauh lagi.
“Tadi Kavin nyariin gue Lil? Kenapa?”
“Ya, lo kan yang ceweknya, mana tau lah gue kenapa. Kalau gue ceweknya Kavin baru lo pantes nanya gitu ke gue.”
“Kan, sintingnya mulai,” keluh Bagas.
“Skripsi angkatan empat belas kapan sih selesainya?” tanya gue guna mengalihkan kesintingan Khalil yang sedang kambuh.
"Bentar lagi kayaknya, hampir semua udah daftar sidang. Oh iya, Kavin udah dapet tanggal sidang btw," timpal Khalil.
"Skripsinya udah kelar dong?"
"Kalau belom, apa yang mau disidangin hayo gue tanya?" balas Khalil.
Lah, iya bener juga. Terus kenapa Kavin nggak bilang apa pun ke gue mengenai hal ini? Terus buku yang dia cari di toko buku kemarin untuk siapa?
Bagas menggerak-gerakan tangannya di depan wajah gue. "Git?"
“Kenapa Gas?”
“Bengong aja, kesambet aja lo!” ledek Khalil.
“Kavin belum ngasih tau gue kalau dia udah dapet tanggal sidang,” ucap gue pelan yang membuat kerutan di dahi Khalil yang sudah tua itu bertambah.
“Kok?” tanya Khalil bingung.
Bagas menghela napas. “Udah ngecek lebih jauh soal Mayang dan Kavin?” tanyanya.
Gue menggeleng pelan. “Gue cuma tau yang kemarin aja.”
“Wait, What?! Apa yang kalian sembunyikan dari gue wahai Kisanak? Siapa tadi? Mayang? Kavin? Ada apa di antara mereka? Gue mencium bau-bau amis di sini.”
“Berisik lo!” Bagas menoyor Khalil.
“Ih, serius gue, ada apa antara Mayang dengan Kavin? Masa pengabdian gue sama kalian lebih lama gue di sini. Kali aja gue lebih tau.”
“Egita mergokin Kavin jalan bareng Mayang kemarin.”
Mata Khalil sontak melebar. “Lo yakin Git? Seorang Kavin?”
“Mata gue emang minus, tapi gue nggak rabun, Bang.”
“a***y a***y a***y, skandal besar ini.” Khalil antusias.
“Kan, bener kan, nggak kecil ini masalah Git,” timpal Bagas.
“Siapa juga yang bilang kecil,” respon gue.
"Lo masih sama Mas Rillo?" tanya Bagas.
Khalil sekarang semakin melongo ngelihatin gue sama Bagas. "Mas Rillo? Kakanya Inara? Apa hubungannya Nyet?!" tanya Khalil.
"Udah nanti gue ceritain ke lo," kata Bagas sambil memasukkan roti bakar ke mulut Khalil yang agak terbuka.
"Gue nggak ada hubungan apa-apa sama Mas Rillo, Gas."
"Ya itu menurut elo, menurut Mas Rillo? Siapa tau Kavin sama Mayang nggak ada hubungan apa-apa juga kayak lo sama Mas Rillo yang cuma jalan bareng buat pengisi kejenuhan."
Sialan, omongan Bagas benar-benar menampar gue. Pengisi kejenuhan? Kata-kata itu terlalu menyakitkan bukan?
"Kavin lagi jalan ke sini, kayaknya mau nyamperin lo deh," kata Khalil dengan panik setelah menelan roti bakar yang Bagas jejalkan ke mulutnya tadi.
Gue yang belum siap untuk bertemu dengan Kavin langsung berdiri dari meja kantin untuk pergi sebelum tangan gue ditahan oleh Khalil.
"Apaan sih lo Kak?!"
"Belom lo bayar jajanan kita. Uang bulanan belom turun, ntar gue dicap tukang ngutang lagi," kata Khalil memelas.
Gue pun membuka dompet dan mengeluarkan selembar uang berwarna biru kepada mereka yang diterima Khalil dengan cerah. Sementara Bagas hanya memperhatikan.
Baru gue jalan dua langkah, Kak Kavin sudah sampai di hadapan gue.
Brengsek emang Khalil! Gara-gara dia gue nggak jadi kabur kan.
"Kenapa kamu nggak bisa aku hubungin?" tanya Kavin.
Masih niat hubungin toh, gue kira udah enggak.
"Git?" ulangnya lagi.
Gue masih diam, bingung mau ngapain. Gue bukan Zenata yang pasti akan mendamprat Kavin saat ini juga karena ulahnya kemarin, gue juga bukan Inara yang akan nangis dan milih kabur dari posisi ini, gue juga bukan Marsya yang akan langsung menegur dan meminta penjelasan kenapa Kavin keluar sama Mayang kemarin.
Otak rasional gue masih jalan, masih ada kemungkinan lain selain dia selingkuh. Tapi gue nggak bisa menolerir kebohongannya.
Gue baru mau buka mulut untuk bersuara tapi nada panggilan khusus dari Mas Rillo terlebih dahulu menginterupsi.
Apa yang harus gue lakuin sekarang?!
"Git! Woy! Tugas prof. Yeni belom lo kerjain!"
Suara Alan barusan menjadi penyelamat buat gue.
Gue segera menoleh ke belakang dan melihat Alan yang lagi bawa-bawa kertas tugas yang prof. Yeni kasih. Kebetulan kami sekelas di matkul itu.
"Git?" tanya Kavin.
"Maaf Kak, bisa kita ngomongin ini nanti aja? Aku harus ngerjain tugas," ucap gue ke Kavin.
"Sampai jam berapa? Aku tunggu."
"Kakak siap-siap aja buat sidang kakak yang tinggal tiga hari lagi," ucap gue setengah menyindir.
"Kamu tau jadwal sidang aku?" Kavin terlihat cukup terkejut.
Ya. Baru aja tau. Dari Bang Khalil.
"Woy Git lama lo ah, cepetan, gue mau jalan sama Windy entar!" sungut Alan. Ceweknya yang berstatus sebagai mahasiswa baru itu memang kerap kali ngambek saat Alan telat datang ke acara kencan mereka. Jadi cowok itu sebisa mungkin mengatur waktunya agar tidak telat.
"Eh, Bang Kavin. Sorry ceweknya gue pinjem bentar!" ucap Alan sambil nyengir tidak enak begitu melihat gue yang lagi ngobrol sama Kavin. Mungkin sebelumnya nggak sadar dengan siapa gue berbicara.
Tanpa nunggu respon lebih lanjut, gue menarik Alan menjauh. “Ayo ngerjain tugas sekarang.”
Sesampainya di tempat parkir gue segera masuk ke dalam mobil Alan. "Lan, tolong anter gue ke apartemen."
"Loh? tugasnya?"
"Biar gue aja yang kerjain, lo terima beres. Tapi anter gue balik," ucap gue yang bikin senyum di wajah Alan merekah. Ya, dia jadi nggak perlu menghabiskan banyak waktu untuk ngerjain tugas dan bisa langsung jalan sama ceweknya.
Begitu di perjalanan pulang, gue ngecek ponsel. Di sana ada dua missed call dan chat dari Mas Rillo kalau dia udah sampai kampus.
Mas Rillo orangnya sabar dan pengertian, makanya dia nggak akan hubungi gue secara bertubi-tubi meskipun gue belum bales chat atau angkat panggilannya. Karena menurut dia, kalau gue nggak bales pasti gue punya alesan atau kesibukan.
Gue pun akhirnya membalas pesan Mas Rillo.
EgitaZahran
Maaf Mas, saya lagi nggak enak badan.
mungkin kita bisa ketemu lain kali
Dan nggak lama setelahnya ponsel gue bunyi, menampilkan pesan balasan dari Mas Rillo.
RilloSyauqi
Gak apa-apa, istirahat yang bener ya.
Semoga lekas sembuh
Gue meremas ponsel dengan gelisah, sumpah gue bingung kenapa harus terjebak di situasi kayak gini.
"Kenapa lo? Galau ya?" ledek Alan.
"Berisik lo Lan!"
"Lah, gue baru ngomong sekarang, masa iya berisik? PMS ya lo?" Alan menggelengkan kepala kebingungan.
"Anggap aja iya Lan," timpal gue.
"Bisa gila gue ketemu cewek PMS di mana-mana," ucap Alan frustasi.
“Pasti Windy lagi PMS ya?” tebak gue yang sepertinya mengenai sasaran.
“Iya, kok lo tau? Cewek punya radar tersendiri ya kalau lagi kayak gitu?”
Gue menggeleng pelan. “Lo akan jadi b***k cinta kalau Windy lagi PMS, contohnya sekarang, nggak mau kencan kalian telat karena takut kena damprat bukan?”
“Wih, berbicara dari pengalaman ya lo? Berapa kali Kak Kavin kena damprat sama lo Git?”
“Nggak pernah, Lan.”
“Serius lo? Masa kalian nggak pernah ada cekcok gitu?”
“Enggak…” jawab gue pelan, “atau mungkin belom.”
Alan menggaruk tengkuknya. “Gue sama Windy sering cekcok dan ribut soal hal kecil sih Git. Tapi dari sana kami belajar apa yang disukai dan nggak disukai pasangan. Jadi bisa memahami satu sama lain dan nggak jenuh juga.”
“Bukannya hubungan tanpa masalah itu hubungan yang sempurna ya Lan?”
Alan menggeleng dengan tegas. “Nggak ada yang sempurna dalam sebuah hubungan. Yang ada hanya kita yang nggak mengungkapkan permasalahan dan menyelesaikannya. Hubungan kayak gitu justru jauh dari kata sempurna.”
Hubungan gue yang digadang orang-orang sebagai hubungan yang sempurna, ternyata jauh dari kata itu.
***
Gue akhirnya sampai apartemen dan langsung mengerjakan tugas prof. Yeni yang Alan kasih, berulangkali gue mengetik dan menghapus materi yang ada di laptop. Gue sama sekali nggak bisa konsentrasi.
Di tengah kefrustasian gue dengar bel berbunyi, gue pun membuka pintu apartemen dan melihat Mas Rillo ada di depan pintu dengan senyumannya.
"Mas Rillo?" tegur gue sedikit kaget.
"Katanya kamu nggak enak badan, ini saya bawain bubur. Kebetulan tadi sekalian lewat sini," ucapnya sambil menyerahkan sebuah bungkusan ke gue.
"Makasih Mas, nggak usah repot-repot," ucap gue dengan tidak enak.
"Saya nggak ngerasa direpotin kok. Oh iya, ini oleh-olehnya." Mas Rillo memberikan gue sebuah paper bag warna coklat.
Gue cuma bisa kasih senyuman penuh rasa bersalah ke dia karena udah bohong bilang kalau gue lagi nggak enak badan. Nggak enak hati mungkin kata yang lebih tepat untuk menggambarkan keadaan gue sekarang.
"Mau mampir Mas?" tanya gue yang dijawab gelengan olehnya.
"Saya ada janji makan malam di rumah sama keluarga, nanti kalau nggak dateng Ina nyariin."
Tipe cowok yang family oriented, siapapun yang akan jadi pasangannya nanti pasti beruntung banget. Memikirkan hal itu entah mengapa membuat hati gue terasa tercubit.
"Cepet sembuh," kata Mas Rillo sambil mengusap kepala gue dengan lembut. "Saya pulang dulu ya Git," pamitnya kemudian yang gue jawab dengan anggukan.
"Hati-hati nyetirnya Mas, jangan ngebut," ucap gue mengingatkan.
Mas Rillo menganggukan kepalanya dengan patuh, "tutup pintunya, baru saya pergi."
Gue pun melakukan hal yang dia suruh untuk menutup pintu terlebih dahulu. Itu selalu menjadi kebiasaan setiap ia bertandang ke sini. Dan itu salah satu hal manis yang gue suka darinya.
Mas Rillo pernah nanya ke gue kenapa gue nggak tinggal bareng keluarga seperti Inara, atau tinggal bersama teman daripada tinggal apartemen sendirian yang punya risiko cukup besar bagi seorang perempuan kayak gue.
Gue cuma bilang keluarga gue jauh, dan gue lebih nyaman untuk menghabiskan waktu sendirian karena jarak umur kakak perempuan gue yang terlampau jauh, agaknya pergaulan kami cukup berbeda, jadi sedari kecil gue sudah terbiasa sendiri. Meski ada di saat-saat tertentu gue merasa begitu kesepian, yang biasanya akan gue habiskan untuk jalan bersama teman atau video call dengan Mbak Nares yang ikut tinggal bersama suaminya di Jepang.
Gue pun menaruh bubur dan oleh-oleh yang Mas Rillo beri di counter dapur, dan bel apartemen gue kembali bunyi. Tanpa mengecek, gue segera membuka pintu apartemen.
"Ada apa lagi Mas⸺ Kak Kavin?!"