Ketika hati mulai meragu kepadamu,
ke mana lagi aku akan mengampu?
***
Gue akhirnya jadi jalan dan nonton sama Mas Rillo kemarin, setelahnya kami juga makan berdua dan dia baru antar gue pulang saat larut. Selama gue bersama dia gue benar-benar merasa nyaman dan nggak memikirkan hal lain. Dia pandai membawa suasana yang bikin gue nggak bosan. Dan gue paling suka dengan senyumannya yang meneduhkan.
Melihat dia tersenyum entah kenapa ada yang bergejolak di perut gue. Hal yang gak pernah gue rasakan saat bersama Kak Kavin. Hal itu membuat gue merasa aneh.
"Sendirian aja," tegur Bagas sambil mencomot kentang goreng yang gue makan di kantin kampus. Setelahnya Bagas juga minum minuman gue tanpa tahu malu. Aduh, untung temen.
Gue hanya bisa berdecak pelan dengan kelakuan Bagas yang suka menyerobot makanan dan minuman milik gue tanpa permisi.
"Cowok lo mana? Kok akhir-akhir ini nggak nempel lo berdua?"
"Lo lupa kalau gue emang jarang nempel sama Kak Kavin?" ucap gue setengah menyindir. Sementara Bagas cuma cengar-cengir.
"Lurus banget sih lo berdua kayak jalan tol. Mending kayak si Nat sama Fikar, semua udah dilibas abis."
Ya, sepertinya hubungan Fikar dengan Zenata sudah sampai another level as friends with benefits. Dan sepertinya Bagas mengetahui sesuatu. Namun gue memilih untuk tidak mencari tau lebih lanjut, menunggu Zenata yang menceritakan sendiri.
"Lo tau gue gimana Gas," jawab gue.
"Iya Nyai, tau banget gue lo gimana," jawab Bagas yang kembali merecoki kentang goreng di piring gue.
Gue mengerti bahwa hubungan gue dengan Kavin sudah sampai ke tahap lanjut dan cukup serius, tapi kami tidak pernah melakukan hal yang melampaui batas. Gue adalah orang yang cukup konservatif untuk mempertahankan kehormatan hingga saatnya tiba. Kelak gue ingin suami gue yang akan menyentuh gue untuk pertama kali. Sedangkan sekarang Kavindra masih berstatus sebagai calon.
"Lo kemaren nonton ya?" tanya Bagas tiba-tiba yang membuat senyum di muka gue hilang seketika.
Mampus gue, ketahuan dong?
"Lo ngeliat gue?" tanya gue salah tingkah.
Bagas tersenyum. Ia lalu menyeruput lemon tea gue sebelum menggeleng dan ngomong, "Gue ngeliat Kavin di depan toilet cewek bioskop kemarin. Pasti sama lo kan? Gue sama Khalil tadinya mau nimbrung. Tapi males kalau lo ngamuk. Jadi nggak jadi kita tegur deh."
Ucapan Bagas membuat gue terpaku. Kavin ada di depan toilet cewek di bioskop kemarin?
Pikiran yang pertama kali terlintas di benak adalah dengan siapa Kavin ke sana. Kenapa ia bisa menonton dengan orang itu sedangkan menghubungi gue saja jarang. Gue mulai memegang cincin yang melingkar di jari manis dengan gelisah.
"Gebetan Khalil pakai ada acara segala sih kemarin, padahal dia udah beli tiket, jadi kayak gay kan gue jalan berdua sama dia. Untung gratis." Bagas melanjutkan ceritanya. Memprotes bagaimana orang-orang memandang mereka berdua dengan aneh karena saling mendekap saat ada adegan horror yang muncul.
Gue pasti akan merespon dengan berlebihan dan mengatai kejomloan Bagas dan Bang Khalil saat ini kalau saja gue tidak tahu fakta bahwa Kak Kavin kemarin nonton bersama orang lain.
"Kok diem?" tanya Bagas kebingungan saat melihat gue yang tidak merespon dia seperti biasanya.
"Lo nonton di mana Gas?"
"Di Puri Git, kenapa emang?" tanya Bagas.
Gue emang nonton juga. Bukan di Puri, tapi di Daan Mogot mall. Dan gue sama Mas Rillo, bukan sama Kak Kavin.
"Jam berapa?"
"Ya yang sama bareng lo lah! Gue ngambil yang jam empat sore." Alis Bagas mulai berkerut heran melihat kebingungan di wajah gue. "Lo kok nanya ke gue? Berarti lo nggak tau? Jangan bilang kalau...."
"Ya... Kavin bukan pergi sama gue," jawab gue pada akhirnya.
Bagas ternganga. Ekspresinya menunjukkan dengan jelas betapa bingung dan syoknya ia. "Lo sama Kavin… Aduh, please gue bingung. Yang selurus itu aja masih bisa begitu gimana yang lain ya?!" ucapnya dengan cukup histeris.
"Ini nih yang bikin gue jomlo, gue nggak gampang percaya juga sama seseorang buat jaga hati gue. Buktinya kejadiannya begini kan. Aduh, gue nggak nyangka aja kejadiannya sama lo dan Kavin. Pasangan terlanggeng yang pernah gue kenal. Lo yang sabar ya Git," cerocos Bagas.
Pasangan terlanggeng? Benarkah? Nyatanya baik gue atau pun Kavin sama-sama sedang main hati.
"Gas... ada yang perlu lo tau juga, tapi jangan bilang siapa-siapa ya, janji?" pinta gue dengan sedikit ragu.
Bagas sempat terdiam, kemudian ia mengangguk meyakinkan. “Iya, gue janji.”
"Kemarin gue nonton juga, tapi sama orang lain, bukan sama Kavin," cicit gue pelan.
"Wah! Nggak beres nih lo berdua!" Bagas memprotes sambil geleng-geleng kepala. Seperti tidak habis pikir dengan fakta yang baru saja ia ketahui. "Lo ada main sama siapa?" tanya Bagas kemudian dengan nada menuntut.
"Gue gak selingkuh Gas, cuma ngobrol dan ketemu. Lagian gue juga baru kenal sama orang itu. Gue nggak yakin hubungan gue sama dia berlanjut ke tahap perselingkuhan, kami cuma nyambung aja pas ngobrol. Nggak lebih."
"Itu emang belum selingkuh, tapi udah ada bibitnya Git!" Bagas menegaskan.
"Jangan sampai yang lain tau soal ini, please. Apalagi Nat. Lo tau kan Zenata punya kenangan buruk sama kata selingkuh? Gue ngga mau gue berantem sama Nat gara-gara masalah ini."
"Jangan bilang lo cerita ini sama gue doang?"
Anggukkan dari gue membuat Bagas mendengus frustasi dan menatap gue dengan pandangan tidak percaya. “Seriously Git? Kalian udah tunangan loh,”
Gue hanya menundukkan wajah, tidak berani menatap Bagas yang bagai seorang polisi sedang mengintrogasi terdakwa.
"Gue nggak tau Kavin selingkuh atau masih tahap mau selingkuh kayak lo gini apa gimana. Tapi gue saranin sih jangan main api kalau nggak mau kebakar, Git."
Gue merenung, apa benar yang semua gue jalani ini bagian dari tahap mau selingkuh?
"Mending lo udahin deh Git, mumpung lo belum kejauhan juga kan sama yang baru? Lagian lo juga baru kenal. Lo udah tunangan loh masalahnya, dan itu bukan main-main. Lo bisa block kontak orang itu dan nggak ketemu dia lagi. Beres deh!" nasihat Bagas.
"Kalau soal Kavin, ayo kita cari tau bareng-bareng," ajaknya.
Gue menggigit bibir dengan gugup dan bingung. "Sumpah, gue bingung harus gimana, Gas."
"Kok ngeliat lo kayak gini gue jadi curiga ya?" ucap Bagas.
"Curiga kenapa?"
"Lo lebih seneng sama yang baru ini?" tanya Bagas tanpa basa-basi.
"Gue nggak bisa mastiin Gas, gue kan baru kenal. Tapi jujur gue menemukan kenyamanan lain sama yang ini."
“Pernah denger ungkapan Pria selingkuh dengan mata, sedangkan wanita selingkuh dengan hati? Itu penyebab pria akan kembali, sedangkan wanita akhirnya pergi.” Bagas pasti melihat quotes itu dari akun-akun galau yang sering ia temui di i********:.
"Aduh, gue ikutan pusing kan. Ah, elo mah, gue jomlo tapi keikut-ikutan masalah hubungan orang gini!" protes Bagas sambil garuk rambutnya frustasi.
"Kan lo temen yang baik Gas," hibur gue yang buat Bagas melirik gue dengan malas.
"Bisaan aja lo, giliran lagi susah aja ngomong bagus-bagus. Giliran lagi seneng sukanya mencela!” sungut Bagas kesal.
"Itulah yang dinamakan temen Gas,” jawab gue yang dihadiahi sebuah jitakan oleh Bagas.
"Bodo amat, ah. Gue mau balik nih, mau bareng nggak?"
"Boleh, kebetulan gue nggak bawa mobil."
Kami pun akhirnya jalan ke parkiran untuk mengambil vespa biru kesayangan Bagas. Dan saat itu bertepatan dengan Inara yang baru saja keluar dari mobil. Bagas yang memang pada dasarnya dekat dengan Inara langsung menghampiri sambil menarik gue layaknya kambing kurban.
"Tumben baru dateng lo?" tanya Bagas heran.
"Iya nih gue ada kelas siang," jawab Inara. "Git, lo udah mau pulang?" tanyanya kemudian yang gue angguki.
"Jam terakhir dosennya nggak ada jadi gue balik deh," jawab gue.
"Dianter siapa Na?" tanya Bagas.
"Mas gue," jawab Inara.
Di saat yang bersamaan, pintu mobil terbuka dan Rillo keluar dari sana dengan membawa sebuah ponsel.
"Dek, hape kamu ketinggalan. Kebiasaan banget sih."
JADI RILLO ITU MASNYA INARA?!
Batin gue menjerit histeris begitu mengetahui fakta itu. Mengapa dunia begitu sempit? Atau mungkin takdir gue hanya berkutat di lingkaran yang itu-itu saja?
"Eh, Egita?" sapa Mas Rillo begitu melihat gue.
Bagas dan Inara kini memandang ke arah gue yang mengkaku.
"Kalian, udah kenal?" tanya Inara heran, pasalnya ia merasa tidak pernah mengenalkan kakaknya sama gue. Agak aneh jika kami kini sudah saling mengetahui satu sama lain.
"H⸺Hai Mas," sapa gue kikuk.
Sadar dengan keadaan, Bagas langsung memeluk Mas Rillo dan bertanya, "apa kabar Mas?"
"Baik, Gas. Kamu sendiri gimana?"
"Baik juga kok Mas," jawab Bagas.
Bagas menatap gue tajam seolah minta penjelasan setelah ini semua selesai.
"Mas, Mas nggak ke kantor? Tadi katanya udah hampir telat," tanya Inara.
Rillo menggaruk tengkuknya gugup dan mengiyakan. "Saya duluan ya semua," pamit Rillo kemudian yang kami angguki.
Inara langsung melihat ke arah gue begitu Mas Rillo pergi, "lo kenal Mas gue darimana?" tanyanya dengan pandangan penuh curiga.
"Nggak sengaja ketemu waktu itu," jawab gue jujur.
Gue menelan ludah gugup mendapati pandangan Inara yang penuh tanda tanya. Matanya seperti berbicara bahwa dia tau gue sudah menyembunyikan sesuatu.
"Ina, kelas Pak Manaor kan lo? Kalau telat nggak diabsen loh." Bagas mencoba mengingatkan Inara.
Inara langsung menepuk jidatnya dan pamit ke kami lalu setelahnya ia berlarian ke gedung fakultas.
"Git?" Bagas memanggil begitu Inara hilang dari pandangan kami. "Jangan bilang orang itu ... Mas Rillo?"
Gue menggigit bibir gugup, lalu mengangguk mengiyakan setelah Bagas memegang kedua lengan gue untuk memastikan.
"LO NYARI SELINGKUHAN YANG BENER DIKIT KEK. MASA KAKAK TEMEN SENDIRI?! LO b**o APA GIMANA?!"