Confusion

1658 Kata
Pop-up ponsel gue masih menampilkan pesan dari Rillo yang belum gue baca sejak tadi malam. Semalam Kavin pulang cukup larut hingga gue memilih untuk beristirahat dibandingkan untuk membalas pesan dari Rillo. Sebetulnya gue tidak tau harus membalas apa hingga gue memilih untuk mengabaikan pesannya. Gue pun memilih untuk mengirim pesan semangat kepada Kavin pagi ini yang akan konsul ke dosen bimbingannya.   EgitaZahran Semangat ya Ay, sukses buat konsulnya.   Dua jam berlalu, tidak ada tanda-tanda dari Kavin untuk membalas pesan gue, mungkin ia memang benar-benar sesibuk itu. Saat gue men-scroll layar, pesan dari Rillo tidak sengaja terbuka. “Aduh! Mampus gue! Bales apa nih?” “Kalau di acara kampus, pas pembawa acara ngomong Hai, kita balesnya Halo, begitu juga sebaliknya. Gue bales halo aja kali ya?” monolog gue. Gue memilih untuk menanggalkan keraguan dan membalas pesan Rilo.   EgitaZahran Halo Mas   Tidak sampai satu menit kemudian, Rilo membalas.     RilloSyauqi Lagi sibuk apa?   EgitaZahran Lagi siap-siap mau ke kampus     RilloSyauqi Ya udah, semangat ngampusnya. Hati-hati di jalan     Gue tidak bisa mencegah bibir ini untuk melengkungkan senyum, rasanya sudah lama Kavin tidak memberikan pesan dengan nada perhatian seperti ini. Biasanya Kavin hanya menghubungi gue kalau ia ingin mampir ke apartemen. Chat gue dan Rillo berlangsung secara intens, Rillo banyak membuka topik percakapan sehingga gue bisa terus-menerus berkomunikasi dengannya, sedangkan Kavin belum membalas pesan gue hingga sore menjelang. “Bang Khalil!” teriak gue begitu melihat Khalil sedang melewati koridor kelas terakhir gue hari ini. “Eh Gigit, ada apa? Mau traktir Abang ya?” tebak Khalil yang membuat gue bersungut sebal. “Becanda kali Git, kenapa kenapa?” “Liat Kavin nggak?” “Cowok lo?” tanya Khalil yang gue balas dengan pandangan kesal. “Ya siapa lagi!” “Tadi gue liat di perpus sama geng skripsiannya, mukanya ditekuk banget, nggak enak dilihat deh pokoknya.” Karena Kavin begitu lengket dengan teman-teman skripsiannya sampai-sampai gue dan teman-teman kini menyebut mereka dengan julukan ‘geng skripsian Kavin’. “Makasih yang Bang Khalil!” ucap gue seraya melambaikan tangan dan beranjak ke perpustakaan. Sesampainya di perpustakaan, gue tidak menemukan Kavin maupun teman sekelompoknya. Gue malah menemukan Inara dan Aldo yang sedang sibuk berdebat satu sama lain. “Ina, Aldo,” sapa gue pelan. “Eh, ada lo Git. Sini sini,” seru Inara seraya menarik sebuah kursi untuk gue. “Nggak usah, gue nggak lama. Kalian liat Kavin nggak? Soalnya Bang Khalil bilang tadi liat dia di sini.” “Kavin udah pergi sama geng skripsiannya tadi, belom lama kok.” Lagi, gue menelan kekecewaan. Gue kembali mengecek ponsel apakah sudah ada balasan dari Kavin, namun nihil. “Lo nggak apa-apa kan sama Kak Kavin Git?” tanya Inara memastikan. Gue mengangguk dan mencoba tersenyum. “I’m okay,” Line! Gue buru-buru membuka ponsel, berharap jika Kavin mengirim balasan. Namun nama Rillo yang muncul di pop-up membuat gue menghela napas. “In, Do, gue duluan ya. See you!”   RilloSyauqi Weekend ada rencana hunting buku lagi?     EgitaZahran Belum ada rencana sih Mas Tapi katanya emang lagi banyak buku bagus Kebetulan stok bacaanku juga udah habis   RilloSyauqi Aku punya banyak buku Mau pinjam?   *** Hari ini gue main ke apartemen Zenata karena merasa bosan di apartemen gue sendirian. Gue sering ngacak-ngacak di sini untuk membuat percobaan makanan baru. Nanti Zenata dan Inara yang jadi korban untuk menyicipi, sementara Marsya, sepupu Zenata kini membantu gue sebagai asisten. Marsya dan Zenata seumuran, dan sebelumnya gue dan Inara pernah bertemu dengannya saat Marsya main ke Jakarta untuk menjenguk Nat. Dan obrolan kami pun cukup nyambung, jadi Marsya tidak segan lagi saat bersama dengan kami meski kehadirannya di tengah kami terbilang jarang.  “Marsya sekarang lagi libur semester?” Marsya mengangguk. “Iya, dua bulan, kan lumayan buat main-main di sini.” “Padahal Bandung kan adem, kenapa malah ke Jakarta yang panas gini coba?” “Cowoknya kuliah di Jakarta, jelas aja dia lebih milih ke sini!” sahut Zenata. “Oh ya? Anak mana?” “UNTAR,” jawab Marsya. “Lah? Tetanggan dong sama kita?” Zenata mengangguk. “Makanya dia mau ikut ke kampus besok, mau modus.” “Ya nggak apa lah Nat, namanya juga mau ketemu pacar sendiri, emang salah ya? Kalau jarang ketemu malah bahaya, apalagi LDR.” “Kayak lo sama Kavin sering ketemu aja,” ledek Zenata yang membuat gue terpaku. Perkataannya menohok sekali. Membuat gue menelaah hubungan gue dengan Kavin yang kurang lancar dua bulan belakangan ini. “Mau bikin apaan lagi lo hari ini?” Zenata bertanya. Kesangsian begitu jelas tergambar di wajahnya Ya, Zenata memang selalu berprasangka buruk akan percobaan makanan gue. Padahal kalau percobaannya berhasil dan enak, dia akan menjadi pihak yang paling depan untuk menghabiskan. “Mau coba bikin seblak nih gue,” jawab gue. Marsya sudah memakai sarung tangannya dan berdiri di samping gue, sangat siap untuk menjadi seorang asisten. Sementara Zenata masih memantau bahan-bahan yang gue gunakan dari kejauhan. "Basonya dikit amat," komentarnya. "Gue kan mau bikin seblak, bukan baso," timpal gue yang membuat bibir Zenata seketika melengkung ke bawah. Gadis pecinta segala jenis baso itu menginginkan makanan kesukaannya menjadi toping terbanyak. Kemarin gue udah buatin baso untuk dia, nggak bosen apa? "Sianida banget ya lo Git," ungkap Marsya takjub. "Gila! Pakai sianida mah mati dong lo semua!" "Siap nikah setelah wisuda maksudnya," jelas Marsya dengan cengiran yang disambut gelak tawa Zenata. "Kak Kavin udah skripsian kan tuh, tenang aja, paling undangannya bentar lagi. Pestanya pasti lebih meriah dari tunangannya kemaren, dan yang pasti makanannya juga jauh lebih banyak. Aduh ngebayanginnya aja gue udah laper," ucap Zenata dengan mata berbinar. "Doain aja," jawab gue seperti biasa. "Beruntung banget deh jadi lo! Ah, gue iri." "Setiap hubungan punya warnanya tersendiri Nat. Termasuk lo sama Fikar, dan gue sama Kavin, Marsya sama pacar juga. Gabisa dipukul sama rata. Yang terlihat bahagia dan sempurna di mata lo belum tentu lebih baik dari yang lo jalankan," jawab gue. Hubungan Zenata dengan Fikar memang yang paling naik turun di antara kami semua. Tapi menurut gue dengan hal itu mereka akan lebih mengerti dan menghargai untuk mempertahankan satu sama lain dalam menjalankan ikatan. Berbeda dengan gue dan Kavin yang hubungannya gitu-gitu aja. Stagnan dan terkesan monoton. "Inara nggak ke sini?" tanya gue untuk mengalihkan topik. Entah mengapa gue sedang malas bicara soal jodoh. "Lagi di jalan katanya, diantar sama Masnya," jawab Marsya. Kami memang memiliki group w******p yang berisi gue, Inara, Zenata dan juga Marsya. Dari sana kami selalu menjalin komunikasi satu sama lain. "Gue kira dianterin Aldo, Aldo kan udah kayak tukang ojeknya," ledek gue. Gue tidak pernah main ke tempat Inara karena dia tinggal sama keluarganya, gue tidak enak kalau mau ngacak-ngacak di sana. Apalagi dia punya kakak cowok, takut canggung jadinya. Jadi gue lebih sering ke sini kalau merasa kesepian. "Mereka berdua emang aneh, gue nggak ngerti siapa yang b**o di antara mereka," komentar Zenata. Tiba-tiba pintu apartemen Zenata terbuka, menampilkan sosok Inara yang langsung bertanya, "siapa yang b**o?" Kami bertiga hanya lirik-lirikan sebelum serempak menjawab, "bukan siapa-siapa!" "Kompak amat sih! Eh, btw wangi apa nih? Enak kayaknya." "Gue masak seblak nih," jawab gue. "Ih, asik! Mau dong!" Inara segera mengambil tempat di tengah kami dan melihat proses memasak yang sudah gue mulai. Tangannya bergerak untuk mencomot toping-toping yang ada. "Cuci tangan dulu!" Omel gue yang berhasil buat Inara kicep. "Ih, galak amat sih lo!" "Jorok! Lo abis dari luar gatau megang apaan kan, cuci tangan sana!" timpal gue. "Gue cuma salim sama Mas gue dan mencet lift kok," sahut Inara ngeyel. "Lift bekas banyak orang, dan lo nggak tau juga apa yang Mas lo pegang sebelumnya." Pada akhirnya Inara menyerah dan beranjak ke arah wastafel dengan langkah yang cukup berat, lalu ia menyalakan keran dan mulai mencuci tangan. "Sukurin lo diomelin sama Emak!" ucap Marsya yang membuat Zenata reflek terbahak. Line! Ponsel gue berbunyi. Zenata yang sedang berbaring di sofa bangkit dan mengeceknya. "Git, sejak kapan hape lo pakai password?!" ucapnya sedikit terkejut "Emang kenapa sih? Hape di-password aja sampai histeris gitu." "Ya tumben aja gitu, kan nggak biasanya. Jangan-jangan ada video lo sama Kavin lagi aneh-aneh di dalem," sahut Zenata asal. "Gue bukan elo ya!" sungut gue kesal. Inara dan Marsya hanya terkikik geli mendengar perdebatan tidak penting kami mengenai alasan gue mengunci ponsel. Sebetulnya itu karena semata-mata gue tidak ingin mereka tahu bahwa gue sedang chat dengan cowok lain selain Kavin. "Gapapa sih Git, udah ada cincin ini," kata Inara. "Kalau gue jadi nikah sih nggak masalah, kalau nggak jadi?" Kemudian keadaan menjadi hening. Mereka bertiga melihat gue dengan tatapan aneh. Mungkin akibat dari ucapan gue barusan yang cenderung ke arah negatif. Gue juga bingung kenapa gue bisa ngomong gitu. Tapi di hati gue memang masih ada yang mengganjal. "Seblaknya mateng guys! Ayo habiskan!" Gue mencoba mengalihkan perhatian, dan untungnya berhasil. Akhirnya kami makan seblak hasil karya gue yang ternyata nggak begitu malu-maluin banget lah rasanya. Buktinya seblak itu habis dalam hitungan menit. "Nonton yuk?" ajak gue ke mereka. Sudah lama gue nggak nonton bioskop. Rasanya rindu dengan wangi campuran popcorn manis, asin dan udara bioskop yang khas. "Nonton apa?" tanya Marsya. "Film horor yang baru keluar itu, gue belum sempet nonton nih." "Gue udah sama cowok gue," ucap Marsya. "Gue udah sama Fikar," "Gue udah sama Aldo," Bahkan Inara yang notabenenya nggak punya pacar aja udah nonton. Sedangkan gue yang udah punya tunangan? Mengetahui fakta itu membuat gue merasa miris sendiri. Kehidupan cinta Zenata dan Inara sepertinya jauh lebih menyenangkan. Apakah gue seberuntung yang mereka katakan karena sudah bertunangan sama Kavin? Setelah membantu Zenata membereskan apartemennya yang gue pakai untuk eksperimen, akhirnya gue mengecek ponsel yang sejak tadi bunyi dan gue abaikan. Gue pun membuka kolom pesan paling atas yang terpampang di sana.     RilloSyauqi Kamu lagi sibuk gak? Kalau aku ajak nonton bisa? Kayaknya ada film horror yang bagus baru keluar     Dengan penuh pertimbangan, gue mengetik balasan pesan orang yang lebih sering chat gue akhir-akhir ini dibandingkan tunangan gue sendiri.   Egitazahran Mau kapan Mas?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN