Komitmen adalah bagian dari sebuah hubungan,
namun bagaimana jika hati sudah tak lagi sama?
***
Kavin memutuskan untuk pergi ke apartemen tunangannya, ia merasa tunangannya sedikit berubah sejak kemarin. Hubungan mereka memang akhir-akhir ini terkesan lebih datar, tapi Egita tidak pernah mengabaikan chatnya sebelum ini.
Kavin pun memencet lift, lantai dua belas tempat apartemen Egita berada. Begitu keluar lift, Kavin berpapasan dengan seseorang yang cukup familiar. Laki-laki yang pernah mengantar tunangannya pulang. Ya, Kavin bukannya tidak tahu akan kedekatan tunangannya dengan laki-laki yang berpapasan dengannya tadi. Tapi Kavin merasa selama itu masih dalam batas wajar, tidak masalah.
Kavin pun memencet bel apartemen perempuan yang berstatus sebagai tunangannya, yang ia klaim sebagai pemilik hatinya sampai detik ini.
Pintu itu pun terbuka, menampilkan sosok tunangan yang Kavin akui ia rindukan, hanya saja intensitas pertemuan mereka memang sangat jarang akhir-akhir ini.
"Ada apa lagi Mas⸺Kak Kavin?!"
Dan panggilan asing yang terdengar dari bibir tunangannya, membuat Kavin yakin jika mereka memang harus membicarakan masalah ini lebih jauh.
***
Kini mereka berdua sedang berada di sofa ruang tengah. Jika dulu mereka akan saling berpelukan, bercanda dan tertawa, kini hanya ada suara embusan napas dan keheningan yang menyiksa. Kekakuan menyelimuti atmosfer seluruh ruangan.
Sebagai laki-laki, Kavin merasa jika ia yang harus membuka pembicaraan ini.
"Kenapa kamu nggak bisa aku hubungin?" Kavin langsung membuka topik pembicaraan.
"Aku sengaja," jawab Egita dengan lugas.
"Karena?"
Egita terdiam. Bingung bagaimana cara menyampaikannya. Ini adalah pertamakalinya hubungan mereka berdua mengalami ketegangan.
"Kemarin kamu pergi ke luar kan? Bukan di apartemen," tanya Egita dengan senyum separuhnya, yang membuat Kavin tersadar jika ia juga bersalah di sini.
Kavin menarik napas. "Kamu ngelihat?"
Egita mengangguk dan menjawab, "aku ada di toko buku juga kemarin."
Jawaban Egita menjelaskan segalanya untuk Kavin. Kenapa gadis itu tiba-tiba memblokir semua kontaknya.
"Kenapa kamu bohong?" tanya Egita.
"Aku ngelihat mobil kamu di parkiran, kalau aku jawab aku ada di mall yang sama dengan kamu, aku takut kamu nyuruh aku nyusul kamu⸺"
"Dan kamu ninggalin Mayang?" potong Egita.
Hening. Egita menganggap kediaman Kavin sebagai jawaban ya.
Entah siapa yang diprioritaskan oleh hati keduanya saat ini. Mereka sama-sama merenung dalam diam, berkecamuk dengan pikiran masing-masing.
"Aku juga takut kalau kamu nggak sendiri, dan malah lagi jalan sama cowok itu." Kavin mencoba menjelaskan.
"Cowok mana?"
"Cowok yang baru aja papasan sama aku di lift, mungkin yang kasih makanan itu juga ke kamu," ucap Kavin sambil mengarahkan kepalanya ke arah bungkusan makanan yang ada di counter dapur.
Egita cukup terkejut karena Kavin mengetahui soal Mas Rillo. Pasalnya Kavin tidak pernah menyinggung mengenai hal ini sama sekali.
"Jadi kamu tau?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Egita, seiring dengan batinnya yang bertanya-tanya. Apakah tidak ada perasaan terganggu di benak Kavin mengenai kedekatannya dengan Rillo. Bukankah cemburu bagian dari tanda cinta? Atau memang kedekatannya dengan Rillo terlampau normal sebagai seorang kakak dan teman adiknya?
"Ya, aku tau dia sering antar jemput kamu," jawab Kavin.
"Dia cuma kakaknya Inara." Egita mencoba memastikan respon Kavin.
"Aku juga bisa ngasih pembelaan kalau Mayang cuma temen bimbingan skripsi aku," sahut Kavin.
Tidak ada emosi dan nada menuntut. Keduanya memang tergolong dewasa dan tenang dalam menghadapi masalah, termasuk masalah hubungan mereka kali ini. Mereka menyadari jika di sini mereka sama-sama salah.
"Aku tau kita sama-sama salah, tapi keadaan kita emang kayak gitu. Aku ngerasa .... jenuh." Egita mencoba jujur.
Kavin tidak menampik, ia juga merasakan hal yang sama. Hubungannya akhir-akhir ini terasa jauh lebih datar dari sebelumnya. Tidak seperti dahulu yang dipenuhi dengan percakapan dan kegiatan menyenangkan.
"Aku juga ngerasain hal yang sama," timpal Kavin.
Mereka berdua kini terdiam dan memandang cincin masing-masing. Cincin yang menandakan jika mereka sudah terikat dalam sebuah ikatan yang bernama pertunangan.
Mereka tidak bisa mengakhiri semua ini begitu saja karena rasa jenuh sesaat, sebab pertunangan ini melibatkan banyak pihak, seperti orang tua dan kerabat.
"Aku rasa kita butuh suasana baru," ujar Egita.
"Aku nggak akan larang kamu jalan sama cowok itu selama kamu inget kalau kita punya komitmen, Git."
Alis Egita berkerut. "Maksud kamu?"
"Bagaimanapun juga kita udah tunangan. Jujur, aku sama Mayang emang nggak ada apa-apa. Kita sebatas jalan doang karena kemarin-kemarin kita emang udah sering pergi untuk kebutuhan skripsi. Dan aku harap kamu sama cowok itu juga enggak lebih jauh dari teman main,"
"Aku sama Mas Rillo sebatas punya hobby dan selera musik yang sama," jawab Egita.
"Aku seneng dengernya, jadi aku harap kamu nggak lagi nggak ngebales chat atau nggak angkat telepon aku setelah ini," timpal Kavin.
"Aku harap kamu punya waktu lebih buat aku setelah ini," jawab Egita.
Ya, keduanya sama-sama melakukan pembelaan secara logika tanpa memikirkan risiko jika hati sudah bermain, maka logika pun tidak akan bisa berbuat apa-apa.
***
Waktu terus berlalu, Kavin dan Egita sama-sama menjalani komitmen mereka, bahwa mereka memang saling terikat. Mereka memperbaiki jalinan komunikasi yang sempat kacau, namun mereka akan tetap keluar bersama Mayang ataupun Rillo pada waktu-waktu tertentu.
Seperti hari ini, Rillo meminta Egita untuk menemaninya membeli hadiah untuk ibunya yang sedang berulang tahun. Egita sudah berusaha menolak dan menyuruh Rillo untuk membeli kado bersama adiknya, Inara. Tapi Rillo berkilah jika Inara sedang pergi bersama Aldo. Sehingga Egita mengiyakan ajakannya.
Dan hari ini Kavin pun menemani Mayang yang ingin membeli baju untuk wawancara kerja karena mereka sudah wisuda beberapa bulan yang lalu.
Alasan pertemanan masih mereka gunakan untuk pembelaan, meski sedikit demi sedikit perasaan mereka mulai tergerus dengan intensitas pertemuan yang semakin jarang.
Keduanya tahu, jika 'pengisi kejenuhan' dalam hubungan mereka telah berubah menjadi sebuah 'kebutuhan'. Jika dulu pengisi kejenuhan itu menjadi sebuah substitusi atau pengganti, kini pengisi kejenuhan itu berubah menjadi sebuah komplementer atau pelengkap. Seperti kopi dan gula, jika keduanya tidak disatukan, maka rasanya ada yang berbeda dan kurang.
Prioritas pun kini menjadi berubah, namun keduanya mencoba pura-pura buta akan keadaan. Mereka mulai terseret dalam arus permainan yang dibuat hingga mereka di dalamnya dan susah untuk keluar.
Rillo menatap sekeliling, matanya menyusuri satu persatu barang yang terpampang di etalase dengan tatapan bingung. "Menurut kamu ibu akan lebih suka dikasih apa?"
"Aku kurang tau sih Mas, tapi kalau seorang ibu dikasih sesuatu sama anaknya pasti udah seneng," jawab Egita diplomatis. Ia belum mengenal sosok ibu dari Inara maupun Rillo. Dan Inara tidak pernah bercerita mengenai hal-hal yang disukai ibunya.
Satu-satunya informasi yang ia tahu dari Inara adalah Rillo akan menjadi sosok yang sangat berbeda jika sudah berada di depan ibunya. Ia bilang Rillo akan berubah menjadi ‘Anak Mama’ yang begitu patuh dan bersikap manis, yang Egita anggap sebagai salah satu cara Rillo dalam mengungkapkan rasa sayang terhadap ibunya.
Rillo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kebiasaannya yang dilakukan setiap ia merasa kebingungan.
Egita berpikir dengan keras. Jika ibunya berulang tahun, barang apa yang kira-kira ia akan beli. "Ada yang ibu butuhin akhir-akhir ini Mas? Atau barang punyanya udah rusak?"
"Tas ibu buat ngaji kayaknya udah sedikit usang," jawab Rillo setelah berpikir lama. Tas yang selalu ibunya pakai di malam jumat atau acara-acara pengajian yang diadakan oleh Majelis di dekat rumahnya jahitannya sudah sobek.
"Kalau gitu ayo kita cari tas," ajak Egita.
Setelah muter-muter dan menemukan tas dengan model dan harga yang cocok, Egita dan Rillo pun memasuki toko yang menjual accessoris. Egita bilang jika ia perlu sesuatu.
Begitu sampai di toko accessoris, Egita memilih dua buah kalung yang akan digunakannya untuk memperlengkap penampilan. Begitu melewati bagian bros, Egita memilih satu bross cantik dengan motif belah ketupat berwarna silver dan memiliki permata warna hitam.
"Mas, ini bagus nggak kalau buat Ibu?"
Rillo tersenyum, mengangguk mengiyakan. Ia senang melihat Egita berinisiatif untuk membeli kado ulang tahun untuk ibunya juga.
Rillo sudah mengeluarkan kartunya begitu Egita akan membayar, namun Egita menolak dan berkilah jika kado yang dibeli untuk ibu Rillo haruslah berasal dari uangnya, kalau Rillo yang membayar kado itu bukan dari Egita namanya. Pada akhirnya Rillo hanya bisa mengalah dengan alasan logis yang Egita sampaikan.
Setelah pencarian yang memakan waktu cukup lama, Rillo membawa Egita ke salah satu restoran yang berada di dalam mall itu.
"Git?"
"Ya Mas?"
"Makasih udah mau nemenin hari ini,"
"Bukan masalah Mas, sekalian saya juga ada yang mau dibeli juga kan," jawab Egita.
Rillo berdeham, membersihkan tenggorokannya. Kemudian tangannya bergerak masuk ke dalam bag tempat tas untuk kado ibunya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalamnya. "Ini buat kamu," ucap Rillo seraya membuka kotak itu, menampilkan sebuah gelang rantai perak berbentuk hati, diselingi dengan beberapa permata ungu di beberapa bagian.
Egita terpaku melihat gelang yang indah itu.
"Nggak usah Mas, Mas bisa ngasih buat Inara aja," tolak Egita dengan tidak enak.
"Saya mau ngasih ini buat kamu," tegas Rillo. Ia kemudian meraih tangan Egita dan memakaikan gelang itu di pergelangan tangan.
"Cantik," gumam Rillo setelahnya yang membuat Egita salah tingkah. Pasalnya Rillo mengucapkan kata itu sambil melihat tepat ke bola matanya.
"Cincin kamu juga bagus," ucapnya kemudian.
Egita segera melepaskan tangannya dari genggaman tangan Rillo dan menyembunyikan tangannya di bawah meja. Sampai saat ini Rillo tidak mengetahui jika cincin yang melingkar di jari manisnya merupakan cincin pertunangan.
"Makasih Mas,"
Hari itu, Egita merasa begitu bersalah. Bersalah karena ketidakjujurannya, dan juga karena rasa nyaman yang semakin menggelayuti hatinya saat bersama Rillo.
***
"Kavin, gimana menurut kamu? Bagusan yang hitam atau warna merah ini?" tanya Mayang. Keduanya sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Barat. Dan Mayang sedang memilih kemeja yang akan digunakannya Senin depan.
"Warna hitam lebih bagus Yang, lebih keliatan elegan," jawab Kavin.
Mayang tersenyum begitu Kavin menyampaikan pendapatnya. Ia sangat butuh penilaian dari orang lain untuk memilih karena saat wawancara pasti orang lain yang akan menilainya juga bukan?
"Semoga kali ini aku lulus interview ya," doa Mayang.
Ya, Kavin memang sudah bekerja di perusahaan milik ayahnya. Berbeda dengan Mayang yang masih harus mencari kerja kesana kemari.
"Semangat, semoga beruntung," ucap Kavin sambil mengusap bahu Mayang dengan lembut.
Setelah menaruh baju yang telah dipilih ke dalam kantung belanja, Mayang mengajak Kavin kebagian dasi."Aku beli satu buat kamu ya," ucap Mayang sambil memilih salah satu dasi yang ada di sana.
"Nggak usah Yang, dasi aku masih banyak."
"Tapi ini sebagai tanda terima kasih aku," timpal Mayang sambil mengambil salah satu dasi yang menjadi pilihannya. Dasi hitam dengan garis diagonal berwarna merah menjadi pilihannya.
Tangan Mayang pun mulai bergerak dengan lincah memakaikan Kavin dasi yang dipilihnya itu. "Gimana? Suka?"
Kavin mengangguk mengiyakan, hal itu membuat Mayang tersenyum cerah. Mayang pun melepaskan dasi di leher Kavin dan beranjak menuju kasir. Sementara Kavin hanya menunggu di depan departement store.
Suara panggilan khusus Egita pada ponsel Kavin membuat Kavin segera mengangkat panggilan itu.
"Halo, ada apa Yang?" sapa Kavin.
"Orangtua kita minta ketemu sama kita,"
"Orangtua kita?"
"Iya, weekend ini kita disuruh pulang ke tempatku. Ayah ibumu juga bakal ke Yogyakarta."
Kavin melihat Mayang yang sedang berjalan kearahnya dengan perasaan yang tidak menentu. Sejujurnya ada sedikit rasa khawatir di dalam hatinya.
"Aku bakal pesen tiket pesawat, bilang sama Ayah dan Ibu."
Panggilan itu Kavin akhiri setelahnya.
"Siapa? Egita ya? " tanya Mayang.
Kavin hanya mengulum senyum. "Laper nggak? Kita makan yuk?"
Di dalam benak Kavin ia mengetahui secara pasti apa maksud dan tujuan orangtuanya pergi ke Yogyakarta, tempat tinggal keluarga Egita. Kedua orangtuanya sudah pernah membahas mengenai rencana percepatan pernikahan mereka. Jadi saat Egita lulus, mereka langsung bisa mengadakan pesta pernikahan.
Kavin pernah dimintai pendapatnya mengenai hal ini, namun ia hanya diam membisu dan berakhir dengan mengeluarkan statement bagaimana baiknya menurut para orangtua saja.
Katakanlah Kavin pengecut, ia terjebak di dua hati sehingga tidak bisa memutuskan kepada siapa seharusnya hatinya berlabuh. Baik Mayang maupun Egita menempati tempat khusus di hatinya.