Hati bukan tempat yang tepat untuk berjudi,
karena perasaan tidak akan pernah bisa kau pungkiri.
***
Kini Kavin dan Egita sedang makan siang bersama kedua keluarga, bersama kedua orang tua mereka dan juga Rendi, adik Kavin.
"Ayah sama ibu udah memutuskan, kalian nikah setelah Egita wisuda," ucap Ibu Kavin yang membuat Egita dan Kavin terpaku di tempat.
"Skripsi kamu udah mau selesai kan semester ini?" Mama Egita bertanya, yang Egita jawab dengan anggukkan dalam.
"Tapi Egi belum tau tanggal wisuda kapan Ma, revisian juga masih banyak," jawab Egita.
"Kalau nentuin tanggal sama cetak undangannya terakhir aja, kalian bisa nentuin konsep, ngejahit baju dulu, dan foto pre-wed misalnya. Souvenir dan lain-lain biar kami yang urus," timpal ibu Kavin.
"Iya, kalian terima jadi nanti," ujar Ayah Kavin.
"Kalian bisa mulai nge-list undangan mulai dari sekarang. Jangan sampai kelewat, apalagi kamu Gi, Papa nggak bisa ngundang lagi soalnya kamu bungsu." Kini Papa Egita ikut menimpali. “Kalau keluarga Kavin masih ada Rendi.”
“Rendi masih SMA, Om,” ucap Rendi memelas yang membuat para orangtua tertawa. Sementara Egita dan Kavin hanya bisa menganggukkan kepala mereka patuh.
Semenjak mereka bertunangan, bisnis kedua keluarga menjadi lebih lancar karena sokongan keluarga masing-masing. Jika orangtua lain perlu menyusun acara perjodohan dan segala macam lainnya, berbeda dengan mereka berdua. Orangtua mereka merasa bersyukur karena anak mereka sudah saling jatuh cinta tanpa paksaan dari ikatan perjodohan. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk mempercepat rencana pernikahan putra dan putri mereka.
"Ini katalog Wedding Organizer, kalian tinggal pilih mau konsep yang kayak gimana," ujar ibu Kavin.
Egita memandang katalog di tangannya dengan tatapan menerawang. Di dalam katalog itu terdapat beberapa paket yang cukup menggiurkan dari segi kelengkapan maupun harga. Egita mengerti orangtuanya dan Kavin lebih dari mampu untuk mengadakan sebuah pesta mewah, berbanding terbalik dengan kesulitan beberapa pasang kekasih di luaran sana yang ingin meresmikan hubungan mereka ke jenjang lebih jauh tapi terpentok dengan masalah biaya. Namun di sini, yang bermasalah adalah hatinya dan hati Kavin.
Setelah percakapan itu, Egita beranjak menuju kamarnya. Kemudian matanya tertuju pada sebuah figura di mana ia dan kakaknya sedang berswafoto saat musim semi di Jepang empat tahun yang lalu dengan background indah bunga sakura, tepat di usia pernikahan kakaknya menginjak satu tahun.
Nareswari sang kakak yang terpaut usia delapan tahun lebih tua darinya menikah dengan Dhafin atas dasar perjodohan kedua orangtuanya. Pernikahan yang diawali tanpa cinta itu masih bisa bertahan dan berjalan dengan baik tanpa hambatan hingga saat ini.
Jika ia dan Kavin saling mencinta tentunya ia bisa berakhir seperti sang kakak yang berbahagia dalam menjalani kehidupan rumah tangganya bukan? Tapi, ada sebagian di dalam hati kecilnya yang meragu.
“Kak?! Kak Egi?” suara Rendi membuat Egita keluar dari dalam kamar.
“Ada apa Ren?” tanya Egita.
“Bang Kavin bilang mau ngajak Kakak jalan ntar malem, Rendi mau ikut, tapi disuruh izin dulu sama Kakak.”
Egita mengulum senyumnya, Kavin selalu saja seperti ini. “Kakak rasa kamu udah tau jawabannya kalau abangmu itu suruh izin ke Kakak.”
Wajah Rendi tertekuk. “Iya, Rendi tau Abang mau jalan berdua aja tapi nggak enak nolaknya, jadi nyuruh tanya Kakak.”
“Kamu emang paling paham Abangmu, Ren.”
“Kata siapa? Kakak tuh yang paling paham Abang, Abang pilek dikit aja pas skripsi langsung ada kiriman vitamin sama obat lewat ojek online.”
Egita terdiam, ia tahu dengan pasti siapa yang mengirimkan vitamin dan obat itu kepada tunangannya. Dan prasangka Rendi jika ialah yang mengirimkan itu salah. Egita tidak pernah melakukan hal itu karena jangankan untuk berkeluh kesah mengenai kondisi kesehatannya, Kavin bahkan jarang menghubunginya selama menjalani proses skripsi.
“Makanya punya pacar dong kamu Ren,” ledek Egita.
“Nyari yang kayak Kakak susah. Abang nyari standar ketinggian, Rendi susah ngimbangin.”
Egita tertawa. “Nggak ada standarisasi dalam sebuah hubungan Ren, semua tergantung hati. Kalau hati kamu yakin dia orangnya, wajah, ukuran, dan penampilan hanyalah nilai tambah, bukan nilai utama.”
***
Malam harinya Kavin sengaja mengajak Egita untuk pergi berdua saja untuk membicarakan perihal rencana pernikahan mereka. Tentunya Kavin tidak ingin orangtua mereka dan juga Randi mengetahui percakapan mendalam yang akan mereka lakukan.
Di dalam perjalanan, keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sampai Kavin menepikan mobilnya untuk membicarakan hal yang begitu mengganjal di hatinya.
"Aku nggak mau ngecewain Ayah sama Ibu," ucap Kavin.
Egita mengerti jika Kavin sekarang sedang membicarakan tentang rencana percepatan pernikahan yang orangtua mereka utarakan tadi.
"Aku juga nggak mau ngecewain Mama sama Papa," timpal Egita.
Keduanya kembali terdiam, merenungi hubungan mereka yang semakin tidak jelas akhir-akhir ini. Jelas ada yang salah di sini, baik itu dalam diri Egita maupun Kavin.
Egita menghela napas. "Jadi... kita akhiri semuanya?" tanya Egita dengan ragu.
"Aku nggak pernah menjalin hubungan apapun selain sama kamu Git, nggak ada yang perlu diakhiri antara aku dengan Mayang."
"So do I, Kak. Aku nggak pernah menjalin hubungan apa-apa sama Mas Rillo."
"Aku harap kita bisa kayak dulu lagi, jadi pasangan yang lurus dan harmonis tanpa hambatan kayak jalan tol yang selalu temen-temen kamu bilang."
"Aku harap juga gitu,"
"Jadi, ayo kita bahas persiapan pernikahan kita."
***
Egita dan Kavin mencoba meyakini keputusan yang mereka ambil adalah keputusan yang terbaik dan juga tepat. Mengabaikan keraguan yang melanda, dan mencoba menekannya hingga ke titik terendah untuk melenyapkannya.
Setelah hari itu, Egita mulai mengurangi intensitas bertemu dan juga chat dengan Rillo. Ia lebih fokus kepada skripsi dan juga persiapan pernikahannya dengan Kavin. Begitupun dengan Kavin, kini ia semakin menjaga jarak dengan Mayang.
Kemarin keduanya sudah mengungjungi penjahit baju pengantin untuk mengukur pakaian yang akan mereka pakai nanti.
"Git?"
Kavin mencoba menegur Egita yang terlihat melamun, sekarang keduanya sedang berada di dalam mobil untuk menuju kampus. Mereka baru saja bertemu dengan Wedding organizer untuk membahas rekomendasi pihak WO mengenai konsep pernikahan.
"Git?" tegur Kavin, kini sambil menggoyangkan bahu Egita.
"Iya?" jawab Egita setelah meraih kesadaran.
"Kamu kenapa ngelamun?"
"Hah?" tanya Egita kebingungan. "Kakak habis ngomong sesuatu tadi?"
"Aku cuma bisa antar sampai gerbang kampus, aku harus ke kantor buat kasih training karyawan baru." Kavin mengulang kembali penjelasannya. Pikirnya mungkin Egita lelah karena harus mengurus skripsi sekaligus persiapan pernikahan mereka sehingga ia mudah kehilangan fokus.
"Gapapa Kak," jawab Egita.
Setelah mendapat persetujuan, Kavin menurunkan Egita di depan gerbang kampus, ssuai dengan rencana. Ia hanya memiliki waktu setengah jam sebelum training karyawan baru dimulai. Dan jalanan bukanlah tempat yang tepat untuk berjudi dengan waktu.
"Hati-hati nyetirnya," nasihat Egita.
"Kamu juga, kalau ada apa-apa jangan lupa hubungin aku. Aku berangkat dulu," pamit Kavin kemudian. Egita hanya tersenyum membalas ucapan Kavin, dan melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan.
Baru saja Egita melangkahkan kaki ke gedung fakultasnya, ia mendengar suara yang begitu familiar di telinganya.
"Woy, Egita!"
Bagas?
Bukan suara Bagas yang membuat Egita terkejut, melainkan orang yang bersama Bagas saat ini.
"Mas Rillo?"
***
Kavin merapikan dasi dan juga jasnya sebelum masuk ke dalam kantor, tentunya ia harus terlihat rapi saat memberi training kepada karyawan baru di kantornya. Sebagai penerus perusahaan ini Kavin memiliki kewajiban untuk mengawasi jalannya proses training. Ini salah satu tugas yang ayahnya berikan sebagai langkah awal Kavin untuk jadi penerus perusahaan.
Kavin pun melangkahkan kakinya ke dalam gedung serbaguna kantornya untuk memberi sambutan dan juga materi.
"Selamat siang, saya Kavindra Irawan yang bertanggung jawab untuk mengisi materi training kalian selama tiga hari ke depan,"
Pintu ruangan tiba-tiba dibuka, sosok seorang wanita yang begitu familiar di mata Kavin memasuki ruangan.
Mayang?!
"Maaf Pak, saya terlambat."