Nadine “Happy birthday…. happy birthday… happy birthday to… you.” Wajah Raka masih melongo tanpa berkedip menatap ke arahku. Dia tampak seperti orang bodoh dengan tampang begitu. Tentu saja tanpa merasa berdosa aku tersenyum sembari membawa sebongkah kue ulang tahun home made. “Selamat ulang tahun suamiku.” Dalam hati aku ingin muntah saat mengucapkan itu. “Ditiup dong lilinnya.” Sergah mama yang tadi di belakangku, kini berpindah ke sebelah kananku. Raka dengan wajah cengo tak berekspresi itu baru saja hendak meniup lilin bertulis angka 29. “Tunggu. Make a wish dulu.” Seruku, membuat Raka menghentikan gerakannya. Ia pun bagai robot mengikuti perintah tuannya, melipat tangan dan menutup mata. Entah apa yang didoakannya. Kemudian sekali tiup kedua lili padam. Serental mami dan papi

