Raka Telingaku rasanya berdenging mendapatkan teriakan kuat dari suara serak. Sontak saja aku menutup kedua telingaku begitu erat. Aku bahkan harus terduduk untuk menghindari suara keras yang ternyata dikeluarkan oleh perempuan di sebelahku. Aku baru berani melepaskan tangan dari telinga setelah melihat Nadine masuk ke kamar mandi. Masih dliputi kantuk, mataku merapat dan tahu-tahu tubuhku lunglai jatuh kembali. Kesadaranku sebenarnya sudah muncul sejak beberapa saat lalu, bahkan sebelum kurasakan pergerakan dari gadis yang kupeluk selama beberapa jam belakangan. Aku hanya enggan untuk membuka mata, apalagi kalau sampai bertatapan dengan Nadine, bisa gawat. Sejauh yang bisa kuingat sebelum aku terlelap untuk kedua kali di peralihan hari ini dan kemarin, ada Nadine di penglihatanku. Aku

